That Silent Summer…

Silent-Summer

Author: Yuan Fei

Cast:

  • Choi Jun Hong a.k.a Zelo ‘B.A.P’
  • Choi Yeon Joo (OC)

Support Cast:

  • Cho Kyuhyun ‘Super Junior’

Genre: Romance

Recomended Song:

  • I Wonder If you Hurt Like Me – 2AM
  • Painkiller – T-ara ft. The SeeYa, 5Dolls, SPEED

Rating: Teen

Lenght: Oneshoot

Disclaimer: ©Yuan Fei’s Storyline.

Note: Perhatikan alur dengan baik, karena akan terjadi flashback tanpa pemberitahuan terebih dahulu. Happy Reading^^

That Silent Summer

“Jun Hong-ah, jika kau mau pergi lagi meningalkanku, sembuhkan dulu hatiku. Biar aku tidak  merasakan lagi sakitnya jadi aku bisa tetap hidup.”

As I think only of you all day

A single stream of tear flows on its own

Love is a bad memory

Love is a hurt memory

Matahari musim panas sudah terbit tinggi. Cahaya keemasan yang hangat itu bahkan sudah menerobos celah-celah gorden membuat ruangan bernuansa merah muda itu sedikit terang. Tapi, sepertinya kehangatan yang menyentuh permukaan kulitnya tidak memberikan efek apapun pada gadis yang berbaring miring pada tempat tidurnya. Dia hanya menatap cahaya keemasan dan langit biru yang membentang dibalik jendela besar dengan raut datar dan berusaha menahan sekuat tenaga agar bulir-bulir airmata tidak mengalir turun membasahi bantal tebalnya.

Ia hanya tidak ingin orang-orang disekitarnya makin mengkhawatirkannya. Lebih-lebih  ia tidak ingin dilihat sepupunya dalam keadaan kacau seperti ini. Ia bingung, ia tidak tahu harus mengadu pada siapa tentang masalahnya. Ia juga tidak tahu bagaimana menahan perasaannya yang semakin membuat hatinya terasa semakin sesak. Cinta yang membuat seorang gadis yang dikaruniai bakat melukis itu tersiksa selama liburan musim panasnya yang hampir berakhir. Ia hanya bisa membisu dan menangisi takdirnya yang tidak merestui hubungan percintaannya dengan seorang laki-laki yang ditemuinya secara tidak sengaja disebuah club malam mewah didaerah jeju. Lelaki itu pergi mencampakkannya setelah ia berhasil mengalihkan perhatian Yeon joo, membuat gadis itu menaruh seluruh hatinya pada lelaki itu.

Seorang pria mengintip dibalik pintu yang sedikit terbuka, ia hanya bisa menghela nafas pelan ketika melihat tubuh Yeon Joo yang terbaring tanpa daya diatas ranjang. Ia tidak tega sebenarnya melihat gadis itu seperti itu. ia juga telah menyalahkan cinta yang merenggut setiap senyuman Yeon Joo. Pria itu melangkah masuk sambil mendorong pintu secara perlahan membuat pintu putih itu sedikit berderit. Yeon Joo sebenarnya mendengar langkah seseorang datang dan pintu kamarnya terbuka tapi ia masih enggan melirik kearah pintu dan asyik atau berpura-pura asyik memandangi langit biru tanpa awan. Pria mendekati ranjang merah muda itu dan duduk dengan pelan ditepi ranjang.

“Apa kepalamu tidak sakit? Kau begitu banyak minum kemarin malam,” tanya pria itu yang sama sekali tidak direspons apapun oleh Yeon Joo. Kyuhyun memutar tubuhnya menjadi condong kearah Yeon Joo. Matanya tak berhenti menatap wajah pucat gadis itu. Ia merasa terluka, sama seperti apa yang dirasakan gadis itu. Ini sudah minggu kedua gadis itu mengurung diri dikamar. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata ‘Love Sick’ begitu berbahaya.

“Yeon Joo-ya,” panggil Kyuhyun. Pria itu menyerahkan secangkir teh hangat yang sedari tadi menghuni genggamannya kearah gadis itu. Kyuhyun bahkan harus menyenggol lengan Yeon Joo pelan agar gadis itu mau menerima teh hangat yang dibuatnya.

“Minumlah, aku tahu kepalamu pasti sakit.” Ujar Kyuhyun. Gadis itu menoleh kearah Kyuhyun, tatapannya mengarah pada wajah Kyuhyun yang terlihat cemas lalu turun mengarah pada tangan Kyuhyun yang menyodorkan secangkir teh hangat. Tangannya yang putih pucat terangkat keudara dan perlahan merenggut cangkir itu dari tangan Kyuhyun kedalam genggamannya. Dan dengan gerakan perlahan cangkir itu naik menuju bibirnya. Sedikit demi sedikit dia menyesap teh hangat yang diberikan Kyuhyun. Kepalanya memang terasa berdenyut-denyut karena pengaruh alkhohol yang menguasainya kemarin malam.

“Oh, kau sudah bangun?” tanya Yeon Joo ramah ketika ia melihat seorang laki-laki telah bersandar disandaran tempat tidur sambil memegangi kepalanya dan sebuah rintihan tertangkap oleh indra pendengarah Yeon Joo.

“Minumlah, kepalamu pusingkan?” tanyanya ramah. Laki-laki itu mengangguk dan menerima cangkir hangat yang diberikan Yeon Joo padanya.

“Kau mabuk berat kemarin. Aku tidak tega membiarkamu berada disana dengan keadaan setengah sadar,” lanjut Yeon Joo  lalu membuka tirai jendela yang langsung membuat sinar matahari berhamburan masuk kedalam ruangan bernuansa elegant yang lekat dengan warna putih cerah. Laki-laki yang baru saja menikmati teh hangat pemberian tuan rumah itu reflek mengangkat tangannya untuk menutupi matanya karena sinar keemasan itu sungguh menusuk kornea matanya.

“Terimakasih.” Ujar laki-laki itu dan mendapat senyuman singkat dari gadis itu.

Airmata meluncur bebas membasahi pipi Yeon Joo ketika kenangan masalaunya kembali berputar dikepala gadis itu. Yeon Joo menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, mengusir kenangan itu agar tidak menghantuinya lagi. Kyuhyun yang melihat itu segera merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan menyerukan kalimat apa kau baik-baik saja untuk mengetahui keadaan gadis itu. Tapi, nyatanya gadis itu malah mengeraskan tangisnya. Dan itu cukup membuktikan bahwa saat ini gadis itu benar-benar dalam keadaan yang buruk.

Step by step, i see you

So even as i work, tears flow without me knowing

When will things be okay?

When will the sun rise again are all farewells this…

Yeon Joo  duduk termenung didepan sebuah lukisan yang masih baru. Tampak masih basah,  kuas dan cat-cat warna-warni yang berserakan diatas meja yang berada tepat disampingnya. Ia baru saja selesai membuatnya setelah berkutat dengan imaginasinya empat jam yang lalu. Seorang gadis yang duduk bersandar pada bahu seorang pria dibangku taman dengan menara Eiffel sebagai latar ditengah musim gugur. Lukisan itu penuh dengan nuansa kepiluan sama seperti apa yang sedang dirasakannya. Ia selalu melukis mengikuti hatinya, bahkan ruang lukisnya sekarang sudah penuh dengan lukisan yang tidak lagi menorehkan keceriaan dalam setiap hasilnya.

Yeon Joo tertunduk dan airmatanya mengalir kembali. Ia tidak tahu kenapa buliran bening itu terus menetes mengarungi pipinya. Ia bahkan sudah sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh tapi sepertiya airmatanya terlalu bandel dan terus mendesak keluar. Ia hanya diam, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Ia tidak pernah tahu kapan semuanya akan baik-baik saja. Ia juga tidak tahu kapan matahari akan terbit menggantikan malamya yang kelam. Ini sudah lewat satu tahun pemuda itu mencampakkannya tapi Yeon Joo belum benar-benar bisa melupakan pemuda itu. Melupakan kenangan indah yang terpatri dalam benaknya.

“Yeon Joo-ya,” panggil Kyuhyun. Lelaki itu mengelus pelan punggung sepupunya. Berusaha menenangkan gadis itu, ia benci jika ia mendapati Yeon Joo seperti ini. Ia benci ketika gadis itu mulai melukis lukisan aneh-aneh yang justru membuatnya semakin merasa terlukai. Ia juga benci ketika gadis itu menangis sendiri dan tidak dalam pelukannya. Yeon Joo sudah seperti adik bagi Kyuhyun. Pria itu terus berusaha memberikan penghiburan agar gadis itu mampu mengubah hidupnya seperti dulu. Menjadi Yeon Joo yang ceria dan membanggakannya.

“Dia benar-benar pergi, Kyuhyun-ah…” ujarnya dengan suara yang terdengar bergetar. Kyuhyun berjongkok dan memandang wajah pilu Yeon Joo dengan sorotan matanya yang teduh. Kyuhyun tersenyum dan mengangkat kedua ibu jarinya untuk menghapus airmata yag menggenang diwajah gadis itu.

“Jika dia benar takdirmu, dia akan datang padamu.”

Kata-kata itu membuat Yeon joo diam. Takdir? Dia benci takdir yang mempermainkan perasaannya. Jika benar ia memiliki takdir untuk bertemu pria itu lagi tapi bagaimana jika tidak? Apa yang harus dilakukannya? Dan katakanlah ia memiliki takdir itu, berapa lama lagi ia harus menunggu waktu itu datang?

I wonder if you hurt like me

I wonder if you live all day in memories like me

There are many things to laugh about forcibly

Yeon Joo menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah taman yang terlihat seperti hutan lebat. Ia membuka pintu mobilnya dan turun dengan anggun. Gadis itu melepas kacamata hitamnya dan mengamati setiap inchi taman itu. Masih sama seperti satu tahun yang lalu.

Dengan menenteng tas kameranya dan sebuah gelas kopi ukuran medium ditangannya, Yeon Joo menyusuri jalan setapak yang ada ditaman itu. Ia tersenyum tipis ketika matanya menangkap sepasang merpati yang sedang bermain air di bak air tinggi dengan riang. Yeon Joo meletakan gelas kopinya diatas sebuah batu dan dengan segera meraih kameranya lalu mengarahkan lensanya kearah sepasang merpati itu. Ia tersenyum gembira setelah ia berhasil mengabadikan moment romantis itu sebelum sepasang merpati itu terbang keangkasa.

Yeon Joo berjalan kembali, sepanjang ia berjalan ia gelisah karena tidak menemukan sesuatu yang dicarinya. Biasanya saat ia memasuki tempat ini ia akan melihat beberapa rusa sedang berlari-lari disampingnya. Gadis itu memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya disebuah bangku taman. Ia menyesap sedikit demi sedikit kopi dingin yang berada dalam gelas yang ia genggam. Matanya tak berhenti menelusuri romantisme alam di Jeju, hingga akhirnya ia menghentikan pandangan liarnya pada sekawanan pemuda yang tengah berkumpul untuk bermain skateboard.

Hatinya bergemuruh, otaknya terus memutarkan memory yang berusaha disingkirkannya ketika ia mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah dikunjunginya bersama pemuda yang melelehkan hatinya. Ditempat ini, dibangku yang sama dan ditempat kawanan pemuda itu berdiri kala itu untuk pertama kalinya, ia bertemu seorang Choi Jun Hong. Sosok pria jangkung yang memiliki rambut hitam kecoklatan yang membuatnya terikat hingga detik ini. Hingga laki-laki itu pergi mencampakkannya. Kali ini ia tidak menangis demi masalalu-nya ia hanya memberikan senyuman kecut pada kawanan pemuda itu, ia malu jika orang melihatnya sebagai gadis yang rapuh. Cukup hanya Kyuhyun saja yang tahu bagaimana hancur dirinya.

This headache won’t get better

I pull my pillow into my arm

The thorn keep pierching my heart

I scream in my unlit room

“Aku pergi, jangan mencariku.”

Yeon Joo terkesiap. Ia buru-buru bangun dari tidurnya dan terduduk diatas ranjang. Wajahnya penuh keringat dingin dan terlihat pucat. Suara itu selalu menghantui tidurnya. Gadis itu memijit pelipisnya yang berdeyut-denyut. Kepalanya sakit lagi. Bukan, bukan karena ia mengkonsumsi alkhohol berlebihan lagi tapi karena ia selama ini terserang insomia. Akhir-akhir ini ia menjadi takut untuk tidur karena begitu ia tertidur, mimpi mengenai perpisahan itu kembali berputar dalam pikirannya dan secara perlahan-lahan hatinya terasa sakit seperti sebuah duri menusuk-nusuk hatinya yang tengah terluka.

Yeon Joo meraih obatnya di atas nakas tempat tidur. Kakinya lalu turun menyentuh ubin yang dingin untuk mengambil segelas air didapur mendapati gelas airnya sudah kering. Butuh tenaga besar untuk menyeret kakinya menuruni tangga, ia sedikit bersandar pada pagar besi ditangga itu agar tubuhnya tidak jatuh.

Sesampainya disana ia langsung menuang segelas air dari dispenser dan langsung menenggak beberapa butir obat disusul air untuk mendorong obat itu agar cepat turun. Yeon Joo menghela nafas, sekali lagi ia menggelenglan kepalanya pelan. Berapa lama lagi ia harus berketergantungan pada obat itu? Padahal seumur hidupnya ia enggan untuk menelan obat-obatan seperti itu tapi setelah dirinya di vonis menderita insomia dokter menyarankannya untuk mengkonsumsi obat-obatan itu setiap sakit kepalanya kambuh.

“Berhenti mempermainkanku, kumohon.”

 

Love is love only when it hurts

Are all farewells this painful to death?

I’m choked up and i can’t even breathe

Time goes by but it’s no use

Please heal my heart so i can smile a little

Yeon Joo keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan lukisan miliknya, tangannya menenteng sebuah lukisan dengan torehan keceriaan pada hasil akhirnya. Ia berjalan menuju taman belakang rumahnya dan terduduk disebuah bangku kayu panjang. Diamatinya lagi lukisan itu yang tentunya memiliki kenangan yang bersangkutan dengan Choi Jun Hong.

“Bagaimana? Apa tanganmu sudah baik-baik saja?” tanya Jun Hong ketika ia memasuki ruang lukis dan menemukan Yeon Joo tengah mencoba menorehkan kuasnya diatas kanvas.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Yeon Joo gembira. Laki-laki itu mendekat dan mengamati lukisan Yeon Joo.

“Kalau begitu tidak ada alasan lagi untuk menutup Gallery-mu dan menunda peluncuran karya barumu bukan?” Jun Hong duduk didekat Yeon Joo. Membantu merapikan cat-cat yang sudah tidak digunakan gadis itu lagi.

“Mungkin,” sahut Yeon Joo cepat. Ia perlu waktu untuk melukis lebih bagus lagi setelah tangannya sudah benar-benar pulih.

“Aku menunggu,”

Yeon Joo tersenyum hambar, dalam pikirannya Jun Hong bukan tipe laki-laki jahat yang mencampakkannya begitu saja jika ia berbalik menemui masa lalu. Ia pasti punya alasan kenapa laki-laki itu pergi tanpa memberitahunya dan hanya meninggalkan sebuah recorder berbentuk pena yang hanya berisi kalimat singkat “Aku pergi, jangan mencariku.” pada Yeon Joo.

Yeon Joo mengangkat lukisannya dan menyalakan korek api. Airmatanya meluncur membasahi pipinya ketika kobaran api melahap lukisan itu. Itu salah satu lukisan terakhirnya yang ia buat bersama dengan Jun Hong. Dan hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya. Mengurangi kenangan yang bersarang dalam pikirannya karena kenanganlah yang membuatnya sakit hingga seperti ini.

“Jun Hong-ah, apa kau sudah puas melihatku seperti ini?”

Gadis itu menarik nafasnya berat dan terlihat tersendat-sendat. Rasa sakitnya makin menjalar kesekujur tubuhnya. Yeon Joo menempelkan tangannya didepan dada. Bibirnya bergetar. Matanya menatap kosong kearah kobaran api yang belum usai melahap lukisannya. Matanya berkaca-kaca tampak jelas jika gadis itu menahan dengan keras lebih banyak airmata yang turun mengarungi pipinya.

I need painkiller

Help me take my pain away

I always thought you were harmful person to me

My mistake

Yeon Joo berdiri diatas sebuah tebing. Tubuhnya berguncang keras, ia membiarkan isakan-isakannya tumpah keluar. Ia menangis, menangisi dirinya, menangisi Jun Hong, menangisi takdirnya. Dengan begitu rasa pedih dalam hatinya akan sedikit demi sedikit berkurang karena ia sungguh tidak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menutup lubang besar yang menganga dihatinya.

Yeon Joo mencengkeram dengan kuat pagar pengaman hingga buku-buku tangannya memutih. Matanya menatap kosong kebawah. Menatap ombak besar yang menghantam karang-karang dan menimbulkan suara gemuruh yang merdu. Air itu pasti sangat kuat. Ia hanya tinggal menjatuhkan diri kesana dan membiarkan ombak menghantamkan tubuhnya dengan karang dengan begitu ia akan mati dan ia tidak perlu lagi merasakan sakit seperti ini setiap hari, pikirnya.

Gadis itu nekat, ia menerobos pagar pengaman dan berdiri tepat dipinggir tebing dan jika ia maju selangkah lagi ia akan benar-benar jatuh kebawah. Ia merentangkan tangannya dan airmata terus menerus turun dari pelupuk matanya. Dalam hatinya ia meminta maaf pada orang tuanya, kakaknya, pada kyuhyun dan pada Jun Hong karena ia melakukan tindakan bodoh ini.

Dibelakangnya berdiri seorang laki-laki jangkung dengan wajah yang pilu menatap nanar tubuh lesu yang berdiri dipinggir tebing dengan bahu yang berguncang keras. Gadis itu maju satu langkah dan membuat laki-laki yang berdiri dibelakangnya dengan cepat berhari menghampiri gadis itu dan menariknya dalam pelukannya yang hangat. Kata “Maaf” terus meluncur dari bibirnya. Dan gadis itu hanya bisa menangis dalam pelukan laki-laki itu. Laki-laki itu adalah Choi Jun Hong yang dirindukannya walaupun ia telah membuatnya terasa hancur seperti ini.

“Aku hanya bisa mengatakan maaf karena aku tidak bisa…” Jun Hong menggigit bibirnya, ia menahan sekuat tenaga airmata yang berusaha jatuh dari matanya. Hatinya merasa bersalah pada gadis yang dicintainya hanya karena egonya yang berasumsi bahwa ia bisa hidup tanpa gadis itu.

“Aku tidak bisa hidup tanpamu, Yeon Joo-ya! Maafkan aku,” lanjutnya dan mempererat pelukannya pada gadis itu. Selama ini ia tidak benar-benar pergi dari hidup Yeon Joo, ia masih berada dalam lingkaran hidup gadis itu hanya saja ia terlalu gengsi untuk kembali pada Yeon Joo setelah ia mencampakkan gadis itu. Ia selalu mengikuti kemana gadis itu pergi, mengawasinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Yeon Joo.

Yeon Joo mendorong tubuh Jun Hong sedikit keras hingga tubuh laki-laki itu menghantam pagar pengaman dibelakangnya.

“Jun Hong-ah, jika kau mau pergi lagi meningalkanku, sembuhkan dulu hatiku. Biar aku tidak  merasakan lagi sakitnya jadi aku bisa tetap hidup.” Ujar Yeon Joo. Laki-laki itu mengangguk dan berusaha mendapatkan tubuh Yeon Joo kembali, ia masih merindukan gadisnya. Tapi tangan Yeon Joo sekali lagi mendorong tubuh laki-laki itu menjauh darinya. Perkataannya belum selesai dan ia ingin laki-laki itu mendengarkan ucapannya.

“Dan jika kau benar-benar ingin pergi, bohongi saja aku. Katakan sampai jumpa besok atau kita akan berjumpa lagi dan katakan keinginanmu untuk pergi dari hidupku selamanya itu hanya bercanda. Kita sudah menjalani hidup bersama dan bagaimana kau datang padaku dan menyuruhku untuk menjalani hidup sendiri? Bagaimana bisa, Jun Hong-ah!” Yeon Joo melanjutkan walaupun suaranya terdengar parau dan bergetar. Jun Hong meraih tubuh Yeon Joo dan menenggelamkannya dalam pelukannya yang erat dan hangat. Ia benar-benar merasa bersalah pada Yeon Joo.

“Maafkan aku.”

You, no longer able to look straight into my eyes

You, no longer try to read my thoughts

You, no longer try to understand my sadness

Is it because we’ve exchanged too little “I Love You’s”

Air laut tampak berkilau cantik dan suara deburan ombak yang merdu mengisi keheningan disenja hari. Sebuah bangku yang terletak tak jauh dari tebing menjadi saksi bisu keheningan yang melanda dua insan yang baru saja dipertemukan oleh takdir itu. Mereka tampak canggung dan berkutat dengan pikirannya masing-masing.

“Yeon Joo-ya, ketika aku melihat kebelakang aku pikir aku akan bangga dapat mengatakan bahwa aku bisa hidup tanpamu.” Kata Jun Hong membuka pembicaraan. Gadis yang asyik menatap lembayung senja itu hanya bisa menoleh dan menatap Jun Hong yang masih memantapkan tatapannya kearah kilauan air laut.

“Kau berpikir terlalu banyak sehingga kau membuat perpisahan secara sepihak. Apa yang membuatmu meninggalkanku begitu saja?”

Jun Hong menghela nafasnya dan sedikit menundukkan wajahnya menghindari tatapan Yeon Joo yang terus mengarah padanya. “Karena hatiku yang terlalu cemburu,” ucapnya malu.

“Cemburu?” ulang Yeon Joo. Laki-laki itu mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya. Ia terlalu malu untuk mengakui sikap kekanakannya.

“Kau terlalu sibuk dengan kakakku. Setiap hari kau membuat janji dengannya dan membicarakan masalah seni dengan menyenangkan. Aku takut kau akan meninggalkanku dan pergi dengannya. Makanya aku pergi sebelum kau memintaku untuk pergi jauh-jauh dari hidupmu.”

“Kau tidak percaya padaku?”

“Entahlah. Waktu itu yang ada hanya perpisahan yang membayangi pikiranku. Aku terlalu takut untuk menerima pernyataan yang menyakitkan itu keluar darimu.”

“Kau terlalu berpikir bahwa kakakmu akan mengambil segala yang kau miliki. Kau terlalu banyak berpikir, Jun Hong-ah!”

“Maafkan aku,”

“Lebih baik kau pergi saja, aku tidak membutuhkan laki-laki yang membuatku berpikir akan kematian dan secara perlahan lahan menghilangkan warna-warna kehidupanku,” ujar Yeon Joo.

Jun Hong terhenyak, lalu ia berdiri dan berjalan kearah lain meninggalkan gadis itu yang masih duduk dibangku kayu tua itu sendiri. Ia yakin, tidak mudah bagi gadis itu menerimanya dengan mudah setelah ia dengan mudahnya mencampakkan gadis itu hanya karena ia takut jika kakaknya akan merebut cintanya setelah merebut kasih sayang orang tuanya dan ia tidak siap dengan perasaan sakit hati untuk yang kedua kali. Walaupun berat, ia menyeret terus kedua kakinya untuk menjauhi gadis itu. Yeon Joo tersenyum, ia ikut berdiri dan berlari kearah Jun Hong. Menelisipkan kedua tangannya diantara pinggang Jun Hong. Memeluk laki-laki itu dengan erat, enggan membiarkannya pergi lagi.

“Tapi jika kau mampu membuatku mencintaimu lagi, menyembuhkan lukaku, mengubah duniaku yang suram menjadi secerah dulu, aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk pergi bahkan membiarkanmu pergi satu centi meterpun dariku. Tidak akan pernah.”

Jun Hong membalikkan tubuhnya, menatap tidak percaya gadis mungil yang berdiri dihadapannya dengan senyuman cerah yang mengembang. Kedua tangannya yang semula berada pada bahu gadis itu terangkat, meraih kepala gadis itu, mendongakkannya dan mendekatkan wajahnya. Yeon Joo reflek menutup matanya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, tubuhnya menegang, kakinya lemas tapi laki-laki itu justru tertawa tanpa suara melihat tingkah gadis itu.

“Yeon Joo-ya,” panggil Jun Hong. Gadis itu membuka matanya perlahan, menikmati hembusan nafas Jun Hong yang hangat dan teratur diwajahnya.

“Saranghae,” ujar Jun Hong lalu mengecup kening gadis itu lembut. Ia tidak akan lagi meninggalkan gadis itu karena sikap kekanakannya, ia juga tidak akan membiarkan gadisnya jatuh kepelukkan siapapun, termasuk kakaknya. Ia berjanji, membuat gadis itu mencintainya lagi seperti dulu. Setelah ia memberikan kesunyian dimusim panas yang seharusnya menjadi kebahagiaan bagi gadis itu, mengingat musim panas adalah musim kesukaannya.

END

Tinggalkan Jejak anda^^

Thank’s to Visit my blog and read my fiction.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s