Involuntarily

Image

Lee Sungmin| Lee Jonghyun| Choi Yeon Joo (OC)| Sad Romance, angst| Oneshoot| PG-15| ©Yuan Fei’s Storyline

***

Involuntarily

Angin berhembus pelan membawa harum tanah basah sehabis diguyur hujan berputar-putar ditengah halaman yang luas. Dalam ruang terang berdinding kaca berdiri dengan tegar seorang gadis berambut coklat lurus. Matanya menatap lurus-lurus sebuah etalase yang terdapat berpuluh-puluh figura foto. Gadis itu meletakkan sebuket lili putih dibawah foto seorang pria. Perlahan ia menarik satu langkahnya kebelakang, matanya memerah dan genangan airmata tengah tertumpuk di pelupuk matanya. Bibirnya bergetar hebat dan tangannya terus meremas mantel coklat yang dikenakannya. Berusaha untuk menahan tangis didepan pria yang dicintainya karena ia sudah berjanji pada pria itu untuk tidak pernah menangis lagi. Hatinya sakit, ngilu bagaikan sembilu mengiris-iris hatinya. Ia sendiri tidak tahu kenapa perasaannya selalu seperti ini dan airmata selalu mengalir setiap ia mengunjungi tempat ini.

Seorang pria dating membawa sebuket bunga dan meletakkan buket bunganya tepat disamping buket bunga gadis itu. Ia berbalik dan menatap teduh kearah gadis yang tengah berdiri didepannya. Laki-laki itu menghela nafasnya berat dan berjalan mendekati gadis itu, memberikan sebuah pelukan hangat untuk menguatkannya.

“Sudah enam tahun, apa kau baik-baik saja?” tanya Sungmin pelan. Yeon Joo berusaha memberontak dan melepas pelukan hangat pria didepannya tapi tenaganya tak cukup kuat untuk meloloskan diri dari Sungmin.

“Yeon Joo-ya, apa kau masih tidak bisa…” Sungmin berhenti. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Mungkin terlalu berat dan menyakitkan bagi Yeon Joo untuk mendengarnya makanya ia berhenti.

“Selama kau masih ada disekitarku, aku tidak akan pernah baik-baik saja,” Yeon Joo mencoba menjawab pertanyaan pertama yang Sungmin tanyakan dengan nada sedingin mungkin yang ia bisa. Sungmin merenggangkan pelukannya dan gadis itu langsung menghambur pergi meninggalkan pria itu sendiri. Sepasang bola mata kecoklatan Sungmin mengikuti langkah yang diciptakan gadis itu. Matanya memerah dan airmatanya menetes. Sudah enam tahun gadis itu mengabaikannya, mengusir keberadaannya dan bertidak seolah ia tidak mengenali Sungmin. Kadang, ia berpikir untuk menyalahkan Jonghyun. Kenapa pria itu harus mati karena ketidaksengajaan yang melibatkannya dan membuatnya terus menjadi pihak yang disalahkan.

“Apa kau senang? Tertawa dengan begitu lepas saat menyaksikan kehidupanku yang menjijikan ini?”

Sungmin menatap penuh amarah pigura berisi foto Jonghyun yang tersenyum lepas saat ia memenangkan ajang balapan mobil bergengsi di Korea. Pria itu pun pergi setelah melemparkan tatapan kebencian kearah Jonghyun.

“Yeon Joo-ya! Choi Yeon Joo!” seru Sungmin. Gadis bernama Yeon Joo itu terus berjalan cepat menghindar dari kejaran Sungmin yang selalu menjadi bayangan baginya.

Sungmin mendapatkan gadis itu, lalu mencengkeram dengan erat dua bahunya. Yeon Joo hanya diam, pasrah dengan apa yang dilakukan Sungmin. Ia sadar tenaganya tidak akan kuat untuk melawan Sungmin. Mata Sungmin berubah sendu,  dan dengan suara yang halus ia berbicara pada gadis itu. “Jangan seperti ini, kumohon!” pinta Sungmin. Suaranya terdengar parau, seperti ada sesuatu yang mencekat tenggorokannya.

“Lalu aku harus bagaimana pada orang yang sudah merenggut nyawa orang yang paling kucintai didunia ini?” dan hanya itu yang bisa diucapkan Yeon Joo dengan suaranya yang nyaris hilang.

Sungmin menunduk lesu, menghembuskan nafas beratnya. Ia sudah tahu alasan gadis itu menbencinya adalah karena Jonghyun. Tidak ada yang lain.

“Apa aku harus mati dengan cara yang sama seperti Jonghyun agar kau mau memaafkanku?”

Mata Yeon Joo membelalak. Tangannya melayang ke pipi Sungmin. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.

“Picik! Apa kau bodoh? Idiot? Untuk apa kau melakukan hal yang tidak menguntungkanmu?” Yeon Joo berteriak pada pria dihadapannya. Sungmin masih tertunduk, ia tidak ingin menatap Yeon Joo bahkan ia mengabaikan rasa sakit yang menjalar di pipinya.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Pergilah! Pergi sejauh mungkin dari hidupku! Jangan datangi aku, jangan menemuiku, jangan mengikutiku! Pergilah! Pergilah! Pergilah!” ujar Yeon Joo lalu berbalik dan pergi. Sungmin berlari menghampiri gadis itu, mencengkeram tangannya dan menyeret gadis itu masuk kemobilnya.

“Apa ini? Ya! Lee Sungmin!” teriak Yeon Joo. Ia memukul-mukul kaca mobil dan beberapa kali mencoba membuka pintu tapi tidak bisa.

“Keluarkan aku!” teriak Yeon Joo. Sungmin enggan untuk mendengar Yeon Joo dan terfokus pada jalanan di depannya.

“Sungmin-ah! Hentikan mobilnya!”

“…”

“Ya! Lee Sungmin! Hentikan mobilnya!”

“Yeon Joo-ya! Kau harus tahu, bukan aku yang membunuh Jonghyun. Itu sebuah ketidaksengajaan! Jika kau tidak percaya kau bisa lihat rekaman waktu balapan itu berlangsung. Bukan aku! Aku juga korban.” Jelas Sungmin. Tapi, gadis disampingnya enggan mendengar dan sibuk untuk membuka pintu mobil Sungmin.

“Kau harus percaya padaku! Itu tidak disengaja, aku panik!” Sungmin berkata lagi. Ia ingin membawa Yeon Joo kerumahnya. Menunjukkan beberapa rekaman kejadian waktu balapan yang menewaskan Jonghyun enam tahun silam. Ia ingin gadis itu percaya bahwa ia tidak sengaja membunuh Jonghyun, ia sudah lelah memikul jabatan sebagai pihak yang disalahkan.

“Tapi aku dibelakangmu, melihat dengan jelas kau menabrak mobil Jonghyun.” Sanggah Yeon Joo. Gadis itu tahu benar apa yang terjadi dilintasan balap karena dia juga peserta dalam ajang balapan itu.

“Itu tidak benar! Aku bersumpah, mobil depanku yang mengalami masalah dan menyebabkan kecelakaan itu.”

“Tapi bisakan kau membanting kemudimu kekiri? Kau akan masuk ke areal rumput dan mobilmu akan berhenti, tapi kenapa kau malah kekanan? Kearah Jonghyun yang sedang melaju dengan cepat? Katakan saja jika kau ingin membunuhnya!”

“Yeon Joo-ya! Sulit untuk mengendalikan kemudi karena mobilku melaju dengan cepat dan terhantam mobil didepanku!”

“Pembohong. Hentikan mobilnya!”

“Hentikan mobilnya!” teriak Yeon Joo. Ia meraih kemudi yang digenggam Sungmin dan laki-laki itu berusaha keras untuk menyingkirkan tangan Yeon Joo.

“Yeon Joo! lepaskan!”

“Berhenti!”

“Ya! Choi Yeon Joo! Lepaskan tanganmu!”

Mobil oleng kekanan dan kekiri karena mereka berebut kemudi.

“Ini berbahaya! Berikan padaku!” seru Sungmin panik karena mobilnya berjalan dengan tidak benar.

“Dengarkan aku!”

“Tidak akan!”

“Lepaskan!”

“Tidak!”

Sebuah sorotan lampu dan klakson yang berbunyi sangat panjang menyadarkan mereka. Yeon Joo melepaskan tangannya dan Sungmin membating kemudinya kekanan dan menghantam pengaman jalan layang.

“Argh!”

Beberapa saat setelah kejadian itu, Yeon Joo membuka matanya yang terasa perih karena kucuran darah dari kepalanya. Ia mendapati dirinya tengah terbaring dijalan. Dalam pandangannya yang buram ia melihat Sungmin didalam mobil yang akan jatuh kebawah. Perlahan ia berdiri dan berjalan terseok-seok menghampiri mobil Sungmin. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, ia berjalan pelan mendekati mobil itu. Tapi, kepalanya terus berdenyut-denyut dan ia tidak sanggup menahannya. Akhirnya ia jatuh ketanah berbarengan dengan mobil Sungmin yang jatuh kebawah dan mobilnya dihantam sebuah truk yang baru saja keluar dari jalan bawah tanah.

***

Yeon Joo terduduk disebuah kursi roda dan menghadap kearah jendela besar. Pandangan matanya kosong.

“Dia bisa berbicara sedikit tapi tidak menunjukkan perkembangan apapun!” kata seorang suster pada seorang dokter psikologi baru yang akan menangani kejiwaan gadis itu.

“Dia tidak bisa tinggal selamanya disini, sepertinya ia harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa.” Lanjutnya lalu membungkuk dan meninggalkan dokter itu sendiri.

Yeon Joo mengangkat tangannya perlahan dan mencoba menangkap cahaya keemasan matahari yang merembet dari jendela kamar rawatnya. Genggaman tangannya terbuka perlahan, dan wajahnya berubah sedih saat tidak ada apapun didalam genggamannya.

“Yeon Joo-ya! Kau tahu ini sudah musim apa?”

Dokter itu menghambur masuk dan mendekati tubuh Yeon Joo yang tampak memprihatinkan. Yeon Joo hanya memandang dokter itu dan tersenyum hambar. Ia kehilangan kewarasannya saat mengetahui jika Sungmin meninggal dalam kecelakaan yang disebabkan olehnya. Setelah ia mengetahui kebenaran dari rekaman yang ada dirumah Sungmin, ia juga merasa bersalah karena selalu menyalahkan Sungmin tentang  kematian Jonghyun di arena balap. Hidupnya sekarang tidak ada apa-apanya lagi. Sebuah kesalahpahaman, ketidaksengajaan jika tidak diluruskan hanya bisa meninggalkan penyesalan. Lihat hidupnya, ia bahkan lupa bagaimana cara berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s