Heart That Hurt Me

EXO-Kai

Kim Jong In | Oh Sehun | Friendship | Hurt/Comfort | Oneshoot | ©Yuan Fei’s Storyline

Hampir tengah malam dan udara lumayan dingin karena Seoul berada di penghujung musim gugur. Jong In baru saja memarkirkan mobilnya setelah melalui jalanan Seoul yang berkabut. Pria itu keluar dari mobilnya dan membanting pintu. Tubuhnya terhuyung ke kanan dan ke kiri mengikuti berat badannya bertumpu. Ini bukan kali pertama pria itu mengemudi dalam keadaan mabuk. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Sehun sudah lebih dari sepuluh kali menjemput pria itu dikantor polisi karena kebiasaanya itu. Pintu rumah itu terbuka dengan keras, seorang pria yang semula menuruni anak tangga dengan santai segera bergegas setelah melihat tubuh Jong In muncul dari balik pintu. Pria itu bernama Oh Sehun, sepupu Jong In. Sehun baru saja kembali dari New York, Jong In yang menjemputnya karena pria itu merasa kesepian selama tiga tahun terakhir tanpa Sehun.

Jong In menolak bantuan Sehun yang akan membantunya berjalan dengan kibasan tangannya. Dia lebih memilih melakukannya sendiri meskipun kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Sehun mengawasi langkah Jong In dari bawah, barang kali dia akan jatuh atau tidak sadarkan diri ditengah perjalanannya menuju lantai dua.

Sayangnya tidak terjadi apapun, Sehun bernafas lega dan kembali ke sofa panjang. Dia ingin menyelesaikan filmnya dan menikmati kopinya yang mulai dingin.

Jong In menutup pintu kamarnya pelan, bersandar dibalik pintu putih itu dan sorot matanya perlahan terlihat begitu terluka. Berkas dokumen dirumah sakit tadi serasa masih terpampang nyata didepan matanya, fakta itu menamparnya kemudian melemparnya pada kenyataan yang menyakitkan.

Bagaimana mungkin, Bagaimana mungkin orang yang dia cintai…

Jong In tidak kuat lagi, amarahnya sudah berkumpul sampai ke ubun-ubun, dia siap meledak kapanpun. Dia marah pada setiap orang yang membodohinya. Dan sedetik kemudian barang-barang diatas meja kerjanya berserakan dilantai menimbulkan suara gaduh yang membuat Sehun langsung berlari dan membuka pintu kamar Jong In dengan tidak sabaran.

“Jong In…”

Mulutnya terkatup setelah melihat barang-barang temannya itu berserakan dilantai dan Jong In yang masih mengatur nafasnya langsung berbalik memandangi Sehun yang baru saja datang. Dia melemparkan senyum yang aneh dimata Sehun karena senyum itu tidak seharusnya muncul di saat air mata Jong In mengalir secara terang-terangan

“Sehun-ah…”

“Sehun, Aku bisa gila!”

“Kenapa?”

Sehun menambah satu langkah mendekati Jong In, dia masih mencari tahu kenapa suasana hati Jong In tiba-tiba berubah buruk. Sikapnya juga aneh, sedari tadi Jong In terus muram. Pria itu membuat Sehun kebingungan.

“Ya! Ada apa denganmu?”

Sehun mencoba meraih bahu Jong In karena khawatir tapi pria itu segera menepisnya dan mundur satu langkah dari Sehun.

“Apa ini? Apa ini, Sehun-ah?”

Jong In menangis saat itu juga, pria itu memperlihatkan raut wajahnya yang begitu terluka didepan Sehun. Ini pertamakalinya sejak dia kembali kerumah ini setahun yang lalu. Pria itu tak pernah seperti ini, dia adalah tipe laki-laki arogan yang brengsek. Tapi kali ini, dia melihat temannya itu menangis seperti anak kecil didepannya.

“Kau tahu ‘kan? Kau tahu semuanya kan?”

“Ada apa? Aku tahu apa?”

“Keterlaluan!”

Jong In ambruk, dia terduduk di pinggir tempat tidurnya dan menangis tersedu. Air matanya berlinang kemana-mana membuat Sehun sedikit khawatir.

“Aku tidak sanggup lagi, Sehun-ah! Aku tidak bisa lagi.” Jong In semakin menjadi dengan tangisnya tapi Sehun yang berdiri mematung didepannya tidak tahu apapun dari yang Jong In katakan. Dia sendiri bingung harus memahami temannya itu dari sisi yang mana, ini tidak cukup hanya dengan menenangkan Jong In dan membuatnya melupakan penderitaannya. Tapi bagaimana menyembuhkan lukanya, laki-laki sok kuat itu runtuh didepan matanya. Ini pertama kalinya Jong In terlihat begitu tersiksa dengan masalah yang membebaninya.

Jong In memukul dadanya sendiri beberapa kali, dia terlihat frustasi. Ada sesuatu didalam dadanya mencabik lukanya yang sudah hampir ia lupakan.

“Aku pikir aku bisa hidup bebas tanpa beban setelah seseorang memberikan kehidupan yang baru padaku.” Ujarnya parau.

Jong In meremas ujung mantelnya sendiri dengan cukup kuat kemudian menggeleng kuat. “Tapi ternyata aku tidak begitu. Kenyataan itu menamparku, Sehun.”

“Aku tidak mau hidup jika seperti ini.”

Jong In mencengkeram dadanya dengan cukup kuat. Hal itu menyakitinya. Semua orang tidak membiarkannya tahu. Mereka membuatnya harus mencarinya sendiri. Mereka menghadapkannya pada kisah tragis yang mengerikan. Cintanya…

“Kenapa semua orang mengkhawatirkan aku terlalu berlebihan. Membiarkan seseorang berkorban demi aku. Kenapa?”

“Semua orang selalu mengharapkan hal itu, Jong In.”

Sehun yang sedari tadi bungkam membuka suaranya. Dia rasa dia sudah mulai mengerti kemana Jong In membawa pembicaraan mereka karena pria itu juga seperti ini empat tahun lalu setelah seorang gadis meninggalkannya.

“Tapi aku tidak.” Sahutnya. Pria itu tidak berhenti menekan dadanya tanpa berpikir rasa sakit atau sesak yang mungkin muncul akibat ulahnya.

“Apa karena Im Yoon Jung?” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Sehun. Jong In langsung berdiri, pria itu mencengkeram kerah baju yang di pakai Oh Sehun dan menatapnya dengan kemarahan. “Kau tahu semuanya ‘kan? Katakan padaku kenapa dia melakukannya!”

Jong In memekik, suaranya bergetar dan hampir tak terdengar. Tenggorokannya serasa tercekat hingga dia bersusah payah untuk menyelesaikan kalimatnya sendiri.

“Kenapa bertanya padaku? Kau seharusnya bertanya pada dirimu sendiri kenapa kau menyakiti dirimu sendiri dan membuat seseorang harus berkorban demi dirimu?”

Sehun tersulut emosi. Dia menganggap kalimat Jong In beberapa waktu lalu menyudutkannya.

“Kenapa kau membiarkannya? Kenapa kau membiarkan mereka menaruhnya disini?” ujar Jong In sembari memukul dada kirinya. Dimana kau bisa mendengar suara merdu dari jatungnya yang kini berdetak cepat.

“Kau menyesal? Kau baru menyadari penyesalanmu saat dia sudah lama pergi meninggalkanmu? Semua orang berusaha memahamimu, tapi kau tidak bisa menurunkan sedikit rasa arogansimu. Kau… Kau melukai semua yang ada didekatmu, termasuk aku.”

Jong In melepas cengkeramannya, dia tidak kuat melihat kesalahan yang dipaparkan Sehun dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Sekali lagi dia terduduk dengan kepalanya yang hampir menyentuh lututnya, Sehun dapat mendengar isakan dari pria itu. Dia bisa melihat rasa bersalahnya dengan jelas.

“Aku akan memberitahumu kebenarannya karena setiap orang melarangku untuk membawa berita yang mungkin membuatmu terluka.”

Sehun menarik kursi kerja Jong In dan meletakkan tepat dihadapan Jong In kemudian terduduk disana. Pria berkulit putih pucat itu menatap Jong In sebentar sebelum menghela nafas. Ini juga berat untuknya. Dia selama ini tidak bekerja di New York seperti yang Jong In pikir, tapi melarikan diri dari kenyataan yang mengingatkannya pada gadis itu. Im Yoon Jung. Korea sebenarnya adalah mimpi buruk bagi Sehun, jika Jong In tidak menjemputnya dan merengek karena kesepian Sehun tidak akan pernah kembali lagi ke Korea.

“Kau pikir dia meninggalkanmu ‘kan? Dan juga kau berpikir aku mengkhianatimu karena menaruh Yoon Jung kesisiku setelah kau mencampakkannya ’kan? Kemarahanmu itu adalah tindakan bodoh Jong In.”

Sehun merekatkan kedua tangannya dan meletakkan sikunya di atas paha. Jong In belum tertarik dengan penjelasannya, dia sibuk mengatasi rasa bersalahnya.

“Bisnis keluarganya hancur, kau yang membiarkan toko roti itu digusur karena pembangunan mall barumu. Memang benar kau memberinya tempat, tapi tempat baru itu tidak seramai toko lamanya. Biaya sewanya juga mahal. Dia tidak menyalahkanmu, mereka menghargaimu dan memilih kembali kedesa, memulai semuanya dari nol. Kau tahu alasannya sekarang, Yoon Jung tidak meninggalkanmu tapi kau yang lebih dulu meninggalkannya. Kau menolak berkomunikasi dan membuatnya menyerah karena kau menutup seluruh akses masuk menemuimu.”

Sehun mengangguk-angguk pelan kemudian tersenyum getir. “Dia kembali saat mendengar berita kau mengalami kecelakaan karena balapan mobil liar yang selalu kau lakukan dulu. Dia datang kerumah sakit dengan segala ketakutan akan kehilanganmu. Dia hampir tidak pernah pergi dari bangku kamar dimana kau dirawat. Dia mengkhawatirkanmu melebihi dirinya sendiri.”

“Sejak operasi itu, kau tidak pernah bangun. Dia semakin khawatir, aku selalu melihatnya menangis setiap malam. Dia merindukanmu, dia bilang padaku begitu.”

Jong In mengangkat kepalanya, dia mulai tertarik mendengar hal yang tidak ia tahu dari Sehun. Dia ingin tahu, apa saja yang dilalukan gadis itu selama ia tidak bisa mengawasinya.

“Dua minggu setelah operasi kau sadar, dia merasa sangat bahagia, dia senang sekali sampai menangis dalam pelukanmu. Tapi kau dengan teganya mengusirnya dari pelukanmu dan menyuruhnya berpaling padaku. Kau tahu, senyumnya lenyap. Dia kecewa, Jong In.”

Sehun mulai berkaca-kaca, dia mulai tidak sanggup menceritakan lukanya. Pria itu memijat keningnya dan ikut terisak. “Yoon Jung menemuiku, dia menanyakan tentangmu. Selama ini ternyata dia tinggal di Seoul seorang diri, bekerja apapun yang mampu membiayai hidupnya selama di Seoul. Dia ingin berada didekatmu. Selalu.”

“Kenapa membiarkannya hidup seperti itu? Kau seharusnya tahu, maksudku menjauhkan diri darinya, agar kau bisa bersamanya, brengsek!” Jong In tak terima. Ternyata sia-sia dia meninggalkan Yoon Jung Pada Sehun yang bahkan tidak memperlakukan Yoon Jung sesuai harapannya.

“Tapi dia tidak mencintaiku. Dia mencintaimu, Jong In. Setulus hati.”

“Selama satu tahun kau hidup dengan mengharapkan donor dari orang yang berhati mulia menyumbangkan jantungnya padamu. Tapi kau tak kunjung mendapatkannya bukan? Orang tuamu bahkan mencari sampai ke luar negeri dan tidak mendapat hasil. Yoon Jung tahu ada masalah pada jantungmu. Dia pergi menemui ibumu, dia ingin menjadi pendonor. Dan kau tahu apa yang dilakukan ibumu? Dia cukup egois, dia hanya memikirkan anaknya. Ibumu yang mempengaruhi gadis itu untuk melakukannya. Pihak rumah sakit awalnya menolak donor dari orang yang masih hidup tapi dia mengakhiri hidupnya sendiri untuk memberi apa yang kau butuhkan.”

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Aku terlalu marah padamu. Aku ingin kau merasakan rasa sakit juga. Kau selalu diatas awan, kau tidak tahu bagaimana perasaan orang-orang yang kau injak untuk menduduki posisi tertinggi.” Ujar Sehun yang langsung membuat emosi Jong In tersulut. Pria itu mencengkeram kerah baju Sehun kemudian melayangkan tinjunya. Sehun tersungkur disudut ruangan, pria itu juga tak terima mendapat pukulan Jong In dan kemudian membalasnya. “Teganya kau menggunakan Yoon Jung untuk menyakitiku. Kau bajingan, Oh Sehun!”

“Ya, aku memang bajingan.” ujar Sehun sembari menghapus darah yang merembes keluar dari sela-sela bibirnya. Dia tidak menyangka pukulan Jong In sekeras itu padanya.

Sehun sengaja menipu Jong In, bukan dia yang menuntun Yoon Jung untuk melakukan itu. Yoon Jung melakukannya sepenuh hati karena gadis itu terlalu baik untuk mencintai Jong In. Sehun hanya ingin Jong In tahu sakit hatinya. Bagaimana perasaannya saat melihat Yoon Jung yang sudah sekarat dengan sayatan dalam di pergelangan tangannya. Bagaimana khawatirnya Sehun saat menggendong tubuh lemas itu keluar dari flat menuju mobilnya. Dia cemas setengah mati, konsentrasi mengemudinya terpecah-pecah dan diakhir hembusan nafasnya gadis itu bilang dia mencintai Jong In. Sehun hancur, dia menghentikan mobilnya ditengah jalan. Tidak peduli dengan orang-orang yang marah dengan tindakan sembrono itu. Pria itu menggenggam kemudinya erat, dan memukulnya brutal. Dia marah pada dirinya sendiri, dia marah pada orang-orang yang mendorong Yoon Jung melakukan tindakan bodoh itu. Terutama Jong In yang tidak berbuat apapun.

“Aku ingin menemuinya, Sehun.”

Tangan Jong In yang dingin merengkuh kedua tangan Sehun yang tertangkup. Pria itu memohon, dengan kedua matanya yang basah. Sehun tidak bisa berkata apapun, Jong In hancur begitupun dengan dirinya. Pria itu hanya mengangguk dan bangkit dari duduknya, melepas begitu saja tangan Jong In yang merengkuh tangannya. Pria itu kemudian memulai langkahnya, tanpa berkata apapun dan keluar dari ruangan Jong In. Meninggalkan Jong In yang kembali terisak dan membuat kegaduhan dengan menghancurkan seluruh benda di kamarnya. Permintaan Jong In sangat sulit untuk dipenuhi, dia tidak bisa menyeret kakinya ketempat itu. Setidaknya untuk sekarang.

Nanti saja…

Nanti saja, Jong In. Saat kita sudah bisa menerima kegilaanya.

Nanti saja, sesudah jantungnya yang berdetak didalammu tidak menyakitimu.

Aku akan membawamu pada kenyataanmu itu.

_kkeut_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s