Love Again (Part 1)

Love-Again-2

Xi Luhan| Shin Cheonsa (OC) | Romance | Twoshoot  | ©Yuan Fei’s Storyline

“Aku hanya ditakdirkan untuk mencintaimu, Lu.”

Korea baru saja mengakhiri musim gugur dan menjelang datangnya musim dingin. Rintik-rintik hujan perlahan berubah menjadi gerimis sesaat setelah seorang perempuan dengan dandanan modis menyeret kopernya keluar dari Bandara International Incheon. Wajahnya terlihat kusut walaupun ia sudah berusaha menutupi sebagian wajahnya dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger dihidungnya. Beberapa kali ia terlihat menolak taksi yang menghampiri dan menawarinya sebuah jasa pengantaran.

Tak lama ponselnya berdering dan gadis itu langsung mengangkatnya, tampak tak sabar dengan berita yang akan disampaikan oleh si penelepon.

“728 Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul.” Ucap seseorang diseberang sana dengan cepat.

Gadis itu mendengus dan menyelipkan sedikit senyumnya, “Kau benar-benar tidak mau membantuku?”

“Tidak,” balas gadis yang berada dalam sambungan telepon dengan lesu.

Gadis itu mengulum senyumnya lalu berkata “Yeon Joo-ya… Terimakasih sudah menemukan alamatnya dan juga sudah membantuku keluar dari Amerika. Aku akan merindukanmu.”

“Shin Cheonsa, gadis gila yang terobsesi dengan masalalunya, selamat bersenang-senang untuk beberapa saat karena orang-orang itu sudah terbang dengan pesawat jet untuk menyusulmu.”

“Aku berada dalam tempat yang aman, Yeon Joo-ya. Dah!”

Gadis bernama Cheonsa itu mematikan ponselnya. Bibirnya tersungging sebuah senyuman dan gadis itu masuk kedalam sebuah taksi yang baru saja di hentikannya.

Beberapa menit perjalanannya setelah meninggalkan Incheon. Ia memasuki kawasan Gangnam yang glamour. Cheonsa melihat sebuah cafe dengan design luar bernuansa klasik yang unik. Matanya menelusur kearah para pengunjung café yang duduk dengan nyaman sembari menikmati kopi panas yang terus mengepulkan asap tipis dan aroma menyegarkan yang membagi nostalgia.

Cheonsa menyuruh sopir taksi menghentikan mobilnya karena ia ingin menikmati segelas kopi kesukaannya sebelum ia pergi ke alamat itu. Perjalanan dari Kanada ke Korea membuatnya sangat lelah.

Gadis itu menempati bangku disudut ruangan didekat jendela besar yang menyajikan pemandangan orang berjalan diluar sana. Sesaat setelah ia melepas mantelnya dan duduk, seorang waiters menghampirinya.

“Nona ingin pesan sesuatu?” Cheonsa menatap waitress itu lalu tersenyum singkat.

“Americano,” pelayan itu mencatat pesanan Cheonsa lalu membungkuk sebelum akhirnya pergi.

Cheonsa mengalihkan pandangannya keluar dan melamun, hujan masih turun dan semakin deras. Gadis itu mendesah dan membuat kaca besar didepannya berembun. Ternyata ini sudah delapan tahun semenjak kepergiannya dari negara yang membuatnya memiliki kehidupan menyedihkan bak dalam drama. Juga menjadi saksi bisu kisah cinta masa mudanya dengan seorang pria berdarah China yang bahkan akhir kisahnya belum mereka selesaikan, masih mengambang dalam ingatan masing-masing.

Sejujurnya kembali ke Korea adalah sebuah mimpi buruk untuknya. Namun cepat atau lambat mimpi buruk itu harus ia hadapi. Sudah lama ia melarikan diri dan ini saatnya ia menghadapi kenyataan. Memutar kembali gulungan-gulungan film usang yang sempat terlupakan.

Pelayan tadi datang lagi dengan membawa segelas americano pesanan gadis itu. Menyerahkannya dan kembali pergi.

Cheonsa menyesap sedikit americano pesanannya dan kembali menatap pemandangan diluar jendela, menatap orang yang berlalu lalang dengan payung warna-warni. Menyenangkan sekali dia kembali pada musim gugur dan sekarang Gangnam sedang hujan disore hari yang sibuk.

Matanya terpaku pada seorang pria berpakaian hitam formal yang berlari membelah lautan pejalan kaki. Pria itu berhenti membelakangi Cheonsa dan bergabung dengan kumpulan pejalan kaki yang menunggu lampu berubah warna sehingga mereka bisa menyebrang. Tiba-tiba saja tubuhnya menegang, ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangannya yang bergetar. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukankah Yeon Joo bilang beberapa jam lagi? Penerbangan dari Kanada-Korea itu tidak bisa ditempuh dalam satu jam. Tapi kenapa…

Pandangannya terus tertuju pada orang yang berdiri membelakanginya hingga pria itu lenyap ditelan kerumunan orang. Ia baru sadar jika sejak tadi ia menahan nafasnya. Tangannya masih bergetar membungkam mulutnya. Jantungnya berdebar lebih kencang. Airmata menggenang dipelupuk mata gadis itu dan hampir saja jatuh jika ia tidak menyekanya.

Cheonsa menghela nafasnya kasar kemudian berjalan keluar cafe setelah menyelesaikan pembayaran dan meninggalkan gelas americano-nya yang masih penuh diatas meja. Gadis itu bahkan memilih berlari ditengah hujan dibanding menghentikan taksi yang akan mengantarkannya dengan selamat sampai ke alamat tujuannya.

“Shin Cheonsa?” ujar seorang pria berambut kecoklatan yang baru saja akan membuka pintu café itu dengan ragu. Pandangannya masih menatap tubuh Cheonsa yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Pria itu lalu menggeleng pelan dan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan kemudian masuk begitu saja kedalam café tanpa ingin memastikan gadis yang baru saja keluar dari kedai kopi miliknya.

~O~

Sebuah dress berwarna coklat dengan panjang selutut dan heels keemasan yang cantik membalut tubuh gadis dengan tinggi semampai yang masih berdiri di depan sebuah gerbang dari rumah mewah didaerah Gangnam. Gerimis telah berubah menjadi hujan dan gadis itu sudah bediri disana hampir satu jam. Ia sudah berusaha menekan bel beberapa kali tapi tidak ada respon dari pemilik rumah. Ia sudah memastikan jika alamat ini memang benar. Tubuhnya sudah menggigil, angin diakhir musim gugur bertiup sangat kencang bersamaan dengan hujan dan tidak ada satu pun baju hangat yang membungkus badannya. Cheonsa tidak sengaja meninggalkan mantel dan barang-baragnya di café itu. Ia terlalu terburu-buru untuk melarikan diri sewaktu melihat Doojoon dijalan tadi.

Sebuah mobil berhenti tepat didepan gerbang. Cheonsa memutar tubuhnya dan meminggirkan diri. Ia tahu keberadaannya menghalangi jalan mobil itu untuk masuk. Belum sempat ia mengenali pemilik mobil itu, pintu mobil terbuka dan seorang pria berambut kecoklatan dengan raut wajahnya yang datar menyeret gadis itu masuk kedalam mobilnya tanpa bersuara. Cheonsa hanya bisa diam menerima perlakuan itu, dia sudah membeku dan tidak bisa membuka mulutnya.

Pria itu membawa Cheonsa kedalam rumahnya. Ketika gadis itu selesai membersihkan tubuhnya, ia melihat koper dan mantelnya sudah berada diatas ranjang, ia tidak tahu bagaimana pria itu bisa membawa barang-barang itu kemari. Cheonsa keluar dari kamarnya dan melihat pria itu tengah menuang coklat panas kedalam sebuah gelas. Gadis itu melangkah keluar dan menghampiri pria itu di pantry.

“Lama tidak bertemu, Lu.” Cheonsa terduduk di kursi tinggi tepat didepan Luhan lalu tersenyum tipis. Tubuh pria itu langsung menegang dan secara kaku ia meletakkan cangkirnya kembali. Tidak berniat lagi untuk meminumnya. Luhan hanya terdiam, membeku ditempatnya berdiri. Ia merasa sedikit canggung dengan suasana yang dibuat oleh gadis itu. Ia sendiri bingung harus melakukan apa ketika dengingan suara Cheonsa memanggil namanya dengan begitu lembut.

“Aku merindukanmu.” Ujar gadis itu lagi. Luhan tidak mengatakan apapun hanya menyodorkan secangkir coklat panas yang lain pada Cheonsa dan langsung membereskan kekacauan didapurnya.

“Kenapa kau datang lagi?” Tanya Luhan pelan di sela-sela ia mengembalikan cokelat, gula dan susu itu pada tempatnya.

“Aku sudah bilang, aku merindukanmu!” Jawab gadis itu cepat lalu tersenyum manis.

“Kau melarikan diri?” Ujarnya dingin.

“Mana mungkin aku melarikan diri,” Cheonsa tertawa pelan sambil memandangi Luhan yang tidak sedang menatapnya.

“Jangan bohong!”

“Aku tidak bohong,” Balas Cheonsa, ia lalu meletakkan telapak tangannya ke dahinya. “Sepertinya aku demam, apa kau punya obat penurun panas?”

Luhan tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan tidak juga bergerak dari tempatnya. Merasa pertanyaannya tidak terjawab, Cheosa menatap menelusuri wajah dewasa seorang Luhan. Ia lega Luhan mampu hidup dengan baik hingga saat ini walaupun ayahnya sudah menghancurkan masa depan cerah yang dimilikinya.

“Mulai hari ini aku akan tinggal di Seoul. Aku tidak berencana untuk kembali lagi ke Kanada. Aku ingin memulai kehidupan baruku disini,” Ujarnya memecah keheningan.

Luhan terlihat tenang dan tidak kaget. Ia memaksakan diri mempertahankan wajah dingin tanpa ekspresinya tanpa mengubahnya sedikitpun.

“Apa kau begitu sibuk bahkan kau tidak punya waktu untuk menerima panggilanku?” tanya Cheonsa lalu menyesap coklat panas dalam genggamannya.

“Aku minta maaf,” balas Luhan cepat.

“Cheonsa-ya,” panggil Luhan.

Cheonsa tidak menatapnya, dia sedang meneliti ruangan luas bernuansa klasik pantry Luhan.

“Sudah berapa lama ini?” Cheonsa berseru, kali ini dia mengarahkan senyuman pada Luhan kemudian bermain dengan gelasnya.

“Cheonsa-ya!” Luhan memanggilnya lagi. Tapi gadis itu tak memperdulikannya dan berusaha asyik dengan permaianan tangannya dimulut gelas.

“Aku juga berpikir jika kau akan selalu menghindariku dan tidak akan pernah melihat wajahmu lagi. Sebenarnya aku juga tidak berniat menemuimu seperti ini.” Luhan terdiam memperhatikan Cheonsa yang berusaha menghindari kalimatnya.

“Aku membencimu selama ini, tapi setelah melihatmu aku tidak merasakannya lagi. Melihatmu cukup melegakan.” Ujar Cheonsa senang, ia juga menampakan lagi ulasan senyum di bibirnya.

“Aku akan mengambilkanmu obat, tunggu sebentar.”

Cheonsa berhenti bermain dengan gelasnya dan menoleh, tapi sayang dia tidak mendapati Luhan ditempat itu. Ia menghela nafas dan kembali memainkan tangannya dimulut gelas dengan kecewa.

~O~

Cheonsa duduk dibalkon kamarnya sembari menikmati segelas Wine ditemani angin malam yang dingin. Luhan menyuruhnya untuk tinggal setelah memberikan obat penurun panas. Kini kesendiriannya semakin membuatnya merasa ketakutan. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain mengurung dirinya sendiri didalam sangkar mewah dan mengasihani diri. Ia hampir saja tertangkap oleh orang yang paling ingin ia hindari didunia. Ia tidak pernah menyangka jika pria itu juga ikut serta mencarinya dan rela meninggalkan aktivitasnya yang super sibuk.

Gadis itu terlonjak kaget ketika ponselnya berdering dengan nyaring. Matanya menatap benda hitam yang terus berkedip itu dengan cemas. Sebuah nama kontak tertera dengan jelas dilayar ponselnya. Cheonsa menggeleng pelan. Ponsel itu terus berdering, bahkan deringan ponselnya yang terus menerus seakan menambah ketakutannya.

Cheonsa menghela nafas kasar. Tangannya yang putih pucat terangkat keudara lalu meraih benda berisik berwarna hitam yang tergeletak begitu saja didekat botol Wine miliknya. Sekali lagi ia melihat nama kontak itu dan pandangannya mendadak sendu. Ia bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap panggilan itu.

“Kau dimana? Aku tahu kau disekitar Gangnam.” pertanyaan pria diseberang sana cukup kuat untuk meruntuhkan pertahanan hatinya serta menyiutkan nyalinya. Cheonsa menggigit bibir bawahnya dan tubuhnya gemetar. Terlalu takut untuk menjawab pertanyaan pria itu. Ia menggenggam erat ponsel hitam disamping telinga kanannya, pertimbangannya yang terlalu tergesa membuatnya berada dalam satu kesalahan besar. Seharusnya ia membiarkan saja ponsel itu terus berdering daripada harus menjawab pertanyaan dari orang yang tidak bisa menerima kalimat kebohongan darinya.

“Aku tidak akan pulang!” ujarnya keras kepala.

“Kau tidak harus menyelesaikannya. Biarkan saja seperti itu. Ayahmu marah besar. Pulanglah!” jawabannya sukses membuat Cheonsa mematung ditempat duduk. Bagaimanapun yang dikatakan laki-laki itu memang benar. Dia datang kembali, menemui masalalu, membuka kisah lamanya hanya untuk merangkai kembali cerita cintanya dengan pria itu. Yang dia sendiri tidak tahu bagaimana memulainya kembali dengan Luhan karena laki-laki itu sudah berubah seratus delapanpuluh derajat dari Luhan muda.

“Aku sudah bilang aku akan menerima konsekuensi dari tindakanku!” jawabnya pelan dan bergetar.

“Aku tidak yakin kau akan mampu mengembalikan semuanya. Pulanglah! Sebelum ayahmu membuat melodrama delapan tahun lalu terulang kembali!”

Cheonsa menjatuhkan ponselnya ketika pria diseberang sana menutup telepon. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya dan sebuah isakan terdengar. Ia benar-benar takut sekarang, pria itu sedang berusaha mencarinya dan gadis itu tahu cepat atau lambat pria itu akan menemukannya.

~O~

Langit sudah berubah dari hitam menjadi biru lalu biru muda. Tapi gadis itu masih tidak berniat untuk meninggalkan bangku kayu yang sejak tadi malam ia duduki. Ia tidak mengantuk walaupun semalaman ia tidak tidur, terjaga karena pikirannya penuh dengan ancaman pria bernama Doojoon yang tadi malam menghubunginya.

Cheonsa memijat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut lalu bertopang dagu. Cahaya matahari yang terpantul dari sebuah cincin perak yang tersemat dijari manis tangan kirinya membuatnya silau. Ia menarik tangannya dan hanya memandang cincin perak yang tersemat ditangan kirinya dengan ekspresi sendu dan putus asa. Cheonsa mendengar pintunya diketuk beberapa kali, gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu.

“Barangkali kau mau jalan-jalan. Maaf, aku tidak bisa menemanimu, ” Luhan menyerahkan sebuah kunci mobil pada gadis itu lalu berjalan pergi. Cheonsa hanya menatap bergantian kunci mobil yang terasa dingin ditangannya dan langkah Luhan yang berjalan semakin menjauhinya.

“Luhan,” serunya memberanikan diri. Pria itu berhenti dan berbalik pelan, matanya langsung menatap wajah Cheonsa yang tampak pucat ditambah lingkaran hitam dibawah matanya. “Ada apa?”

“Soal kemarin… bagaimana bisa kau membawa barang-barangku padahal kan-”

“Bukankah kau meninggalkannya di caféku?”

“Jadi itu…” Cheonsa menghentikan kalimatnya ketika melihat Luhan memutar tubuhnya dan terlihat tidak peduli dengan Cheonsa.

“Kau tidak tahu seberapa besar pengorbananku untuk datang kesini,” Cheonsa mendesah kemudian menarik dirinya kembali kedalam kamar. Kepalanya terasa berat dan masih berdenyut-denyut, mungkin dengan tidur sakit kepalanya akan hilang.

~O~

Sudah dua jam Cheonsa berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Tapi kedua matanya tidak mau menuruti perintahnya. Seolah terdapat sebuah magnet dengan kutub yang sama dalam kelopak matanya. Ia hanya berbaring miring seraya menatap langit yang sudah berubah kelabu yang sebentar lagi akan menurunkan hujan dari balik jendela kamarnya. Angin berhembus pelan tapi membawa sensasi dingin yang membuatnya merinding.

Ia sudah lelah dengan jalan hidup yang dibuat ayahnya. Cheonsa tidak bisa selamanya tinggal dalam kehidupan yang seperti itu, ia harus memiliki pilihan untuk hidupnya. Memikirkan ancaman Doojoon kemarin malam membuatnya ngeri. Jika saja ia bisa merubah takdir Sang Pencipta, andaikan saja ia tidak dilahirkan dan menjadi anak ayahnya ia pasti akan hidup lebih bahagia. Inikah hidup? Sesuatu yang penuh dengan harapan, perjuangan dan airmata?

Bulir-bulir airmatanya menetes dan membasahi pipinya. Ia terisak dan kemudian menangis tersedu. Ia tidak bisa menahannya lagi. Alasan kenapa ia berani meninggalkan rumahnya di Kanada dan berada dalam negara larangan ayahnya adalah Luhan. Tetapi laki-laki itu justru tidak mempedulikannya dan mencampakannya. Gemuruh di dadanya tak kalah kencang dengan gemuruh petir dilangit. Hatinya sakit, Luhan ternyata tidak bercanda. Laki-laki itu benar-benar membencinya dan tidak membiarkan Cheonsa untuk masuk lagi kedalam ruang hatinya yang paling dalam, ia telah diusir.

Di balik pintu kamar Cheonsa, Luhan menyaksikan gadis itu menangis. Ia hanya bisa berdiri di ambang pintu tanpa berniat untuk masuk. Pria itu belum mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan secara terus terang pada Cheosa tentang keadaannya yang sebenarnya. Ia takut gadis itu akan semakin hancur ketika ia mengetahui yang sebenarnya. Luhan memperlihatkan sisi lain dirinya bukan karena ia ingin membalas perlakuan ayah Cheonsa yang telag menghancurkan keluarganya. Ia hanya ingin Cheonsa membencinya, lelaki brengsek yang begitu saja mengingkari janji mereka. Sebuah kesepakatan yang mereka buat delapan tahun lalu sebelum tragedi berdarah dan sebelum kesalahan yang dibuat Luhan itu terjadi. Ketakutan bercampur rasa bersalah Luhan semakin besar ketika Cheonsa datang dan menagih janjinya delapan tahun lalu dan karena ia tidak bisa memenuhi janji itu, ia memilih untuk membuat dirinya menjadi laki-laki brengsek dimata Cheonsa.

Luhan tidak tahan lagi dengan isakan Cheonsa yang semakin mengiris hatinya. Ia menutup kembali pintu putih itu dan memilih untuk pergi ke kamarnya

~O~

Luhan kembali kekamar dan berbaring. Ia memijit pelipisnya dan merasakan kepalanya berdenyut denyut. Ia tidak bisa membiarkan Cheonsa tinggal di Korea terlalu lama. Luhan tidak bisa membiarkan kejadian delapan tahun lalu kembali terulang kembali. Ia sudah cukup takut melihat perilaku ayah Cheonsa yang melakukan segala cara demi menjauhkannya dari Cheonsa.

Pemuda berkulit putih itu membuka sebuah laci didalam kamarnya dan meraih sebuah album foto cantik. Ia membuka halaman pertama album itu lalu tersenyum seolah ada serbuk ajaib dalam album itu yang berterbangan ketika album itu dibuka dan menyihirnya untuk seketika menjadi bahagia.

-The Other Side of Cheonsa-

Tulisan Cheonsa dan tanda tangan gadis itu membuatnya semakin merindukan kenangan masalalunya. Luhan meraba goresan tangan Cheonsa dengan penuh kasih sayang lalu ia membuka halaman lain, menemukan sebuah foto Cheonsa kecil yang sedang bermain air dihalaman belakang. Gadis itu yang menaruh sendiri foto masa kecilnya di album itu. Waktu itu Cheonsa menyuruh Luhan menyerahkan selembar foto masa kecil Luhan dengan imbalan album itu tapi setelah Cheonsa memberikannya, Luhan tidak mau memberikan foto masa kecilnya dan menyandra album itu. Luhan tertawa pelan, Cheonsa sangat lucu. Ia tidak berhenti tersenyum melihat lembaran-lembaran foto dalam album itu hingga ia menemukan sebuah foto dihalaman terakhir album itu yang membuat sihir kebahagiaan itu sirna. Serbuk ajaib penuh kebahagiaan itu terkalahkan oleh seruan duka nestapa halaman terakhir. Tulisan kecil di sudut kanan bawah mengingatkannya pada sebuah alasan kenapa ayah Cheonsa sangat membencinya.

-In Memoriam, My Lovely Brother. Shin Hyun-

Ekspresi Luhan berubah sedih dalam pikirannya ia masih terbayang kejadian dua puluh tahun yang lalu, kala itu musim dingin.

Salju turun kecil-kecil. Cheonsa kecil duduk disebuah bukit salju kecil menyaksikan dua anak laki-laki kecil berkejar-kejaran kesana kemari. Mereka berlari semakin jauh dari tempat Cheonsa duduk. Gadis itu terkekeh ketika seorang anak laki-laki yang tinggi melemparkan bola salju dan mengenai rambut seorang laki-laki yang tubuhnya lebih kecil. Itu Shin Hyun, kakak Cheonsa dan Luhan. Mereka sangat akrab, bersahabat sejak mereka kecil. Cheonsa sangat menyayangi keduanya. Ditengah keceriaan mereka, air danau yang belum membeku sempurna menjadi akar permasalahan Ayah Cheonsa sangat membenci pria itu. Shin Hyun menginjaknya dan terjatuh dalam danau yang airnya bersuhu dibawah nol. Luhan berusaha menolongnya tapi seorang pemancing yang tak jauh dari mereka menahan tubuhnya karena hal itu sangat berbahaya. Cheonsa yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menangis di atas bukit kecil itu dan berteriak memanggil ibunya yang tengah menggelar pesta pertemuan dengan keluarga Luhan.

“Hyung… Hyung,” teriak Luhan dalam pelukan seorang pria itu. Luhan terus meronta dan berusaha menolong Shin Hyun yang mulai tenggelam ke dasar.

Ibu Cheonsa yang mendengar tangisan Cheonsa segera datang dan melihat ada sebuah lubang besar di danau yang membeku serta Luhan yang meronta didalam pelukan seorang pria sambil menyerukan nama Hyun. Ibu Cheonsa yang tahu apa yang terjadi pada anaknya, tidak kuat melihat pemandangan didepannya dan jatuh pingsan. Tak lama ayah Cheonsa bersama orangtua Luhan datang menyusul karena keributan itu.

“Cheonsa-ya, ada apa?” tanya ayahnya panik setelah menyaksikan Cheonsa yang menangis histeris dan istrinya yang jatuh pingsan.

“Oppa… Oppa…” sebutnya dalam tangis seraya menunjuk lubang besar ditengah danau itu.

Satu bulan setelah kematian Shin Hyun, ibu Cheonsa menyusul kakaknya karena stress. Dan semenjak saat itu hubungan keluarga Luhan dan Cheonsa menjadi terputus. Ayah Cheonsa memutuskan seluruh kerja sama dengan keluarga Luhan akibat Luhan telah menyebabkan kakak Cheonsa dan ibu Cheonsa meninggal dunia.

Tanpa Luhan sadari airmatanya menetes begitu saja. Ia bersalah, ia sudah menyebabkan semua itu. Ia sendiri tidak tahu jika air didanau itu belum membeku dengan sempurna dan ia nekat untuk bermain disana. Seandainya ia tidak mengajak Shin Hyun untuk bermain disana pasti semuanya akan baik-baik saja.

Suara berisik dentingan gelas dari luar membuat Luhan penasaran. Ia menyeka airmatanya dan keluar menemukan Cheonsa yang terduduk sendiri di kursi tinggi bar pribadi miliknya dan mabuk.

Luhan berjalan mendekat, ia tidak mau melihat Cheonsa seperti ini, mengasiani dirinya sendiri karenanya. “Kau sudah minum terlalu banyak!” Luhan berusaha mencegah gadis itu untuk meneguk wine yang tersisa dalam gelasnya, tapi Cheonsa dengan kasar menyingkirkan tangan Luhan.

“Aku belum mabuk, Lu.” Bantahnya dan mencoba meneguk satu gelas wine-nya lagi.

Luhan secara paksa menarik gelas wine yang hampir menyentuh mulut Cheonsa dan melemparkannya kelantai dan ia juga meneguk habis wine yang tersisa dalam botol Cheonsa.

“Jika kubilang berhenti maka berhentilah, jika kubilang pergi maka pergilah, jika aku bilang kembali tolong kembalilah. Kumohon jangan menyiksaku seperti ini,” kata Luhan tegas.

“Lu…”

“Kumohon, kembalilah pada ayahmu.”

“Aku tidak bisa,” jawab gadis itu cepat.

Luhan menggeram. “Kalau begitu, enyahlah dari pandanganku.”

Cheonsa tertawa pelan, “Aku merindukanmu,”

“Kenapa kau tidak mati saja?” balas Luhan dingin. Laki-laki itu pergi meninggalkan Cheonsa yang masih tak bergeming menatap langkah Luhan yang semakin jauh.

~O~

Asap tipis mengepul dari mangkuk kecil berisi cream sup yang baru saja dibuat Luhan. Cheonsa keluar dari kamar mandi, matanya menatap Luhan yang duduk disalah satu kursi meja itu sambil melamun. Ia berjalan perlahan kemudian duduk disalah satu kursi dimeja makan itu. Kepalanya masih berdenyut-denyut karena kemarin sore ia mabuk. Luhan menatap sekilas Cheonsa dan ia bisa melihat mata gadis itu yang sembab.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Cheonsa terdengar ragu-ragu. Luhan meraih sendok dan mencoba memakan sup cream dihadapannya dalam diam, terlihat tidak tertarik dengan pembicaraan Cheonsa.

“Lu, kau baik-baik saja?” tanya Cheonsa lagi. Luhan mendengus ia lalu melempar sendoknya begitu saja dan berjalan pergi, “Luhan… jangan…”

Laki-laki itu mendengar dan menghentikan langkahnya. Menghembuskan nafas kasarnya lalu berbalik. “Jangan apa? Jangan bersikap seperti itu? Jangan mengabaikanmu? Jangan apa? Aku tidak pernah tenang selama kau masih ada disekitarku. Kau membuatku mengingat kembali kenangan menyakitkan itu, Cheonsa! Kenapa kau tidak pulang saja pada ayahmu? Kau sudah bertunangan untuk apa kau mencariku?” ujarnya ketus.

“Aku tidak bilang apapun tentang itu. Aku hanya ingin memulai kembali masalalu kita dan kau harus tahu jika aku tidak pernah menghendaki pertunangan ini.”

“Aku menyadari segala tindakanku tidak akan merubah apapun!” Luhan berhenti ketika melihat airmata Cheonsa kembali lagi dan wajahnya terlihat terluka.

Ponsel Luhan berdering, ia merogoh saku celananya tanpa mengalihkan pandangannya dari Cheonsa yang tetunduk. Tanpa melihat nama kontak yang tertera dalam layar smartphonenya ia mengangkat panggilan itu.

“Luhan, kenapa tidak menjemputku? Aku ada di Clair de Lune sekarang.” Ujar seorang gadis dalam sambungan itu. Luhan terkejut, ia menurunkan ponselnya dan melihat nama kontak yang tertera dilayar datar itu.

“Luhan…” panggil gadis itu lagi ketika Luhan menempelkan benda hitam itu ketelingannya.

“Tunggu disana,”

Luhan menutup telepon itu, berbalik lalu berjalan hampir berlari meninggalkan ruangan makan dan membiarkan Cheonsa makan sendiri ditemani airmata yang terus berderai dipipi gadis itu.

~O~

Luhan berjalan cepat memasuki Clair de Lune Café, ia memutar pandangannya keseluruh penjuru ruangan itu. Berjalan lebih dalam dan kembali memutar pandangannya. Saat ia akan melangkah, matanya menemukan seorang gadis berambut panjang yang duduk sedikit membelakanginya. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memandang keluar jendela setelah menyesap minuman yang masih mengepul didalam cangkirnya.

Luhan berjalan pelan dan ketika sampai dimeja gadis itu ia langsung bertukar sapa.

“Soo Jung, apa kabar? Kau baik-baik saja?” Suaranya bergetar, laki-laki itu terlihat gugup padahal gadis didepannya hanya memberikan senyuman kecil serta mempersilakan Luhan untuk duduk.

“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Ujar gadis itu terlihat ragu-ragu.

Luhan mengangguk dan memperhatikan wajah cantik wanita berambut panjang didepannya. “Katakan saja.”

“Aku membatalkan perceraian kita,”

Luhan tidak bereaksi apapun hanya diam ditempatnya duduk dan masih memperhatikan wajah gadis itu. Soo Jung juga tidak bereaksi berlebihan, ia hanya berusaha tersenyum dibalik gelasnya. Luhan ingin bertanya kenapa tiba-tiba tapi gadis itu sudah terlebih dulu berkata. “Kesehatan ayahku jauh lebih penting, aku tidak mau dia jatuh sakit lagi saat mendengar kabar perceraian kita.”

“Kau yakin?” tanya Luhan ragu. Soo Jung mengangguk pasti, keputusannya sudah bulat.

Luhan menatap wanita didepannya dengan ekspresi datar. Wajah Cheonsa tiba-tiba terbayang dalam pikirannya dan rasa sakit perlahan menjalari hatinya kembali. Itu berarti sebentar lagi ia akan menjadi pria beristri dan ia harus mengusir Cheonsa pergi dari rumahnya. Rencana awal untuk membuat dirinya menjadi laki-laki brengsek dimata gadis itu tampaknya berhasil.Tapi, cintanya terlalu besar dan ia tidak bisa membuat gadis itu melihat kesalahannya.

~O~

Cheonsa duduk meringkuk di ayunan kayu. Ia menekuk lututnya dan membenamkan kepalanya diantara lututnya yang ditekuk. Udara semakin dingin dan angin berhembus kian kencang. Gadis itu tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Ia hanya terus memandangi riak kecil air dalam kolam renang dan pantulan lampu didalam air itu. Tampak tenang.

“Kau tidak harus menyelesaikannya. Biarkan saja seperti itu! Ayahmu marah besar. Pulanglah!”

“Aku tidak yakin kau akan mampu mengembalikan semuanya. Pulanglah! Sebelum ayahmu membuat melodrama delapan tahun lalu terulang kembali.”

“Aku menyadari segala tindakanku tidak akan merubah apapun!”

“Kenapa kau tidak mati saja?”

Suara-suara itu selalu bergema dalam benaknya untuk kesekian kali. Perlahan matanya berkaca-kaca dan air mata tumpah begitu saja mengaliri pipinya.

“Kenapa kau tidak mati saja?”

Tanya suara itu lagi, tapi kali ini lebih tegas. Membuatnya semakin yakin jika Luhan memang benar-benar sudah mengusirnya. Kenapa aku tidak mati saja? Cheonsa bertanya dalam hatinya. Seharusnya ia tidak perlu repot-repot berjuang untuk hidup ketika peluru itu menembus dadanya. Seharusnya ia tidak menolak saat cahaya terang itu ingin membawanya pergi jika itu yang Luhan inginkan sekarang.

Apa Luhan belum juga mengerti jika ia tidak pernah mau hidup dalam takdir ayahnya? Apa ia harus mengingatkan laki-laki itu lagi akan hal itu? Ia mencintai Luhan, semangat kecil dalam hidupnya, kenapa hal itu harus menjadi terlarang?

Cheonsa tersadar dari lamunannya ketika ia tahu jika hari sudah gelap dan hempasan angin sepoi yang terasa dingin semakin membuatnya meringkuk. Ia melirik jam keperakan yang menggantung dipergelangan tangan kirinya. Hampir jam delapan.

Gadis itu menggeliat pelan lalu menurunkan kakinya ke lantai yang dingin. Perlahan ia melangkah kedalam rumah, ruangan itu sangat gelap, beberapa kali ia terlihat merintih karena kakinya menyandung benda-benda keras. Cheonsa menyalakan lampu, lalu pandangannya tertuju pada pintu berwarna putih gading disebuah lorong didepannya.

Apa Luhan sudah kembali?

Kaki jenjangnya sudah berada didepan kamar Luhan lalu mengetuknya pelan. “Luhan…”

Suaranya kecil dan serak, ia tidak yakin Luhan dapat mendengar seruan itu. Cheonsa tidak ingin mengganggu Luhan, tidak ingin membuatnya berkoar marah seperti tadi pagi. Luhan juga punya kehidupannya sendiri terlepas dari keterikatannya dengan gadis itu.

“Lu-”

Cheonsa menahan suaranya dan tangannya yang terkepal ingin mengetuk. Perlahan ia berbalik berjalan beberapa langkah meninggalkan pintu itu. Tapi ada sebersit keinginan didalam hatinya untuk setidaknya memasuki ruangan yang belum pernah ia masuki. Ia ingin melihat apakah suasana kamar Luhan masih sama saat mereka muda dulu, apakah laki-laki itu masih menggunakan parfum yang sama, apakah lukisan hadiah ulang tahun pemberiannya masih tergantung diatas tempat tidur, dan masih banyak yang ingin gadis itu lihat didalam sana.

Tangannya menggenggam knop pintu, “Ada banyak pintu terbuka didunia ini, tapi kau tidak boleh sembarangan masuk sekalipun kau sangat diijinkan untuk masuk.” Suara Luhan dari masalalu datang mengingatkannya. Cheonsa mengendurkan genggamannya dan menghela nafas. “Aku hanya ingin kau menegurku saat aku sembarangan masuk kedalam pintu yang mungkin sudah tidak bisa kumasuki, Xi Luhan.” Suara hatinya menimpali dan gadis itu kini sudah sepenuhnya memasuki ruang paling pribadi mantan kekasihnya. Luhan tidak ada didalam dan lampu kamarnya pun belum menyala, itu berarti laki-laki itu belum pulang seharian tadi.

Mata Cheonsa menyapukan pandangannya ke sudut-sudut kamar berdinding kaca itu. Sesekali ia tersenyum melihat benda-benda yang dicarinya tertata rapi, apalagi setelah melihat lukisan pemberiannya terpajang diatas tempat tidur. Ia berjalan mengelilingi ranjang lalu duduk tepat disamping nakas. Ada sesuatu yang menariknya. Sebuah album konyol pemberiannya sepuluh tahun silam. Gadis itu hanya meraba, ia tahu semua isinya dan ia tidak mau menangis ketika membuka halaman terakhir album itu. Tidak mau teringat kenangan paling menyakitkan yang seakan-akan membunuhnya dengan cepat.

Cheonsa berdiri, menghampiri etalase besar berisi barang koleksi Luhan. Mobil-mobil mini itu bertambah banyak dan mungkin sudah tak terhitung. Ujung etalase menampilkan beberapa pigura kecil yang berisi foto Luhan dan ada satu pigura yang menarik perhatiannya. Cheonsa mengulurkan tangannya meraih pigura itu hati-hati dan seketika ia menggenggam pigura itu erat. Matanya juga berkaca-kaca.

“Cheonsa,” sebuah suara memanggilnya ketika ia mendengar pintu kamar itu terbuka. Cheonsa menoleh dan melihat Luhan berdiri diambang pintu bersama seorang wanita yang tampaknya kaget melihat Cheonsa berada diruangan Luhan.

Cheonsa tersenyum tipis lalu mengembalikan pigura itu pada tempatnya. “Maaf…” bisik Cheonsa tak enak.

“Cheonsa?”

Gadis itu berjalan meninggalkan kamar Luhan, sebuah kebenaran menamparnya. Menyadarkannya jika Luhan memang sudah tidak mencintainya.

“Shin Cheonsa!”

“Luhan, Siapa dia?”

Suara seruan Luhan dan wanita itu memenuhi telinganya. Cheonsa berjalan kekamarnya dan mengambil kopernya.

Ia melihat tubuh Luhan berdiri dengan gusar diambang pintu sesaat setelah ia selesai mengemasi seluruh barangnya. “Aku punya alasan.”

“Aku tidak perlu alasan,” balas Cheonsa. Ada sesuatu yang mengusiknya, ia sangat marah pada laki-laki itu dan sekarang ia terjatuh pada titik paling dasar dalam hidupnya. Ia tidak berpikir ia bisa bangkit lagi dan mengembalikan seluruhnya menjadi normal kembali.

“Setidaknya dengarkan aku dulu,”

Cheonsa berhenti, bukan karena ia ingin mendengar alasan Luhan, tapi melihat wanita itu berdiri didekat sofa dan memperhatikannya. Nafasnya tiba-tiba tercekat dan rasa sakit perlahan menusuk-nusuk hatinya.

“Aku minta maaf karena memasuki kamar kalian tanpa ijin, aku benar-benar tidak tahu jadi maafkan aku.”

Gadis itu tersenyum ringan, selintas Cheonsa tidak melihat amarah ataupun raut kecemburuan dari mata gadis itu. “Tidak apa-apa, kurasa kau juga tidak tahu karena aku pergi selama seminggu ini. Apa kau teman Luhan?”

Cheonsa menggigit bibirnya dan memaksakan seulas senyum lalu berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.

“Shin Cheonsa!”

~O~

Hampir tengah malam dan Cheonsa enggan untuk meninggalkan tempat itu. Padahal ia sudah mabuk berat sampai ia tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Luhan yang duduk disampingnya yang terus berusaha membujuknya untuk pulang hanya bisa mendesah ketika gadis itu meminta gelasnya terus diisi oleh bartender yang sedang berjaga dibelakang meja bar. Luhan yang membawa gadis itu ketempat ini, ia ingin Cheonsa mabuk dan mengurangi sedikit rasa sakitnya. Tapi ia tidak berpikir jika Cheonsa akan menjadi seperti ini.

“Cheonsa, ayo kita pulang!” bujuknya lagi sambil menarik lengan gadis itu pelan. Cheonsa menyingkirkan tangan Luhan yang mencengkeram lengannya dengan kasar.

“Kenapa kau tidak pergi saja? Istrimu nanti akan mencarimu, Lu.” jawabnya asal lalu meneguk sisa wisky dalam gelasnya hingga tak tersisa. Gadis itu mengangkat gelasnya dan seorang bartender menghampirinya, mengisi kembali gelas Cheonsa hingga hampir penuh. Luhan terdiam, hatinya merasa sakit melihat Cheonsa menjadi seperti itu. Ia tidak ingin melihat gadis itu menyiksa dirinya sendiri.

“Aku akan mencarikanmu hotel jika kau tidak mau pulang kerumahku,” tawar Luhan pelan. Cheonsa mendesis lalu meneguk sedikit wisky dalam gelasnya. Entah bagaimana gadis itu bisa bertahan dan terus meneguk minuman yang bahkan saat memasuki tenggorokanmu, tenggorokanmu akan terasa seperti terbakar.

“Aku tidak butuh perhatianmu,” jawab Cheonsa dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Gadis itu sedang marah dengan Luhan, ia tidak percaya Luhan membuangnya begitu saja dan memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Tidak menunggunya yang berusaha menjelaskan insiden delapan tahun lalu. Ia tidak rela kisah cintanya berakhir mengenaskan seperti ini. Ia tidak berharap ceritanya berakhir dengan sedih. Sama sekali tidak ingin.

“Cheonsa-ya…”

Cheonsa meletakkan kepalanya diatas meja bar karena kepalanya terasa berat dan berdenyut-denyut. Ia menatap gelas wisky dan Luhan secara bergantian dalam pandangannya yang mulai mengabur karena airmatanya kembali memenuhi pelupuk matanya.

“Lu, kau bohongkan?”tanya Cheonsa pelan, suaranya serak dan bergetar.

Ponsel Cheonsa tiba-tiba berdering dengan berisik. Gadis itu dengan cepat memasukkan tangannya kedalam saku sweater-nya. Meraih benda hitam mengkilap yang terus berdering. Cheonsa hanya menatap nama kontak yang tertera dilayar ponselnya tanpa berniat untuk mengangkatnya. Ia meletakkan ponselnya yang masih berdering didekat gelas wiskynya dan gadis itu memilih tidur.

“Cheonsa… Shin Cheonsa!” panggil Luhan sambil mengguncang tubuh gadis itu. Tapi sang empunya nama hanya mengerang dan menyembunyikan wajahnya didalam sikunya yang ditekuk.

Ponsel gadis itu berdering lagi, suaranya berisik dan sangat menganggu. Luhan menilik nama kontak dalam layar ponsel Cheonsa.

아버지 (ayah)

Luhan terdiam, menatap ponsel Cheonsa dan gadis itu bergantian. Dengan gerakan ragu, tangan Luhan terangkat keudara, meraih ponsel Cheonsa dan mengangkat paggilannya.

“Cheonsa, jangan salahkan ayah jika ayah bertindak nekat seperti dulu. Aku tidak akan hanya melukai bahumu, aku bahkan bisa membunuhmu jika kau masih berhubungan dengan pria itu. Waktumu hanya sampai akhir pekan.”

Luhan menjauhkan ponsel Cheonsa dari telinganya dan menatap layar hitam ponsel dengan tidak percaya. Ternyata gadis itu dalam pelarian dan ia berbohong waktu Luhan menanyakannya beberapa hari lalu.

Matanya tertuju pada tubuh Cheonsa yang tengah ambruk diatas meja bar. Luhan sangat ingin memaki dan mengumpat gadis itu dengan segala makian yang berkecambuk dalam pikirannya. Cheonsa begitu bodoh, apa gadis itu lupa konsekuensi apa yang diterimanya jika ia melarikan diri dari ayahnya? Apa dia amnesia? Ia menghindar dan memilih jalan hidup konyol yang ditentukan oleh orangtua-nya karena ia ingin Cheonsa terus hidup, bukan karena ia tidak mencintai gadis itu. Tidak masalah jika Luhan tidak memilikinya, melihat gadis itu masih bisa bernafas saja membuatnya bahagia.

Cheonsa mengerang, ia berusaha keras mengangkat kepalanya yang berdenyut-denyut dan menyambar ponselnya dari tangan Luhan.

“Bahkan jika nanti ayah menemukanku, aku dengan sukarela memberikan nyawaku. Tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan keselamatanku karena akhirnya nanti aku akan mati ditangan ayahku sendiri. ”

Ternyata gadis itu tidak sepenuhnya jatuh tidur, gadis itu mendengar semua yang dikatakan ayahnya dengan kesadarannya yang mulai berkurang. Cheonsa bangkit dari kursinya. Berjalan terhuyung meninggalkan Luhan yang masih setia dengan kursi tinggi di bar. Pria itu hanya bisa menatap punggung Cheonsa yang berjalan semakin meninggalkannya. Ia merasa bersalah, membuat gadis itu kembali dalam keadaan yang tidak diingininya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s