Love Again (Part 2- END)

Love-Again-2

Xi Luhan| Shin Cheonsa (OC) | Romance | Twoshoot  | ©Yuan Fei’s Storyline

PART 2

Hampir tengah malam dan Cheonsa enggan untuk meninggalkan tempat itu. Padahal ia sudah mabuk berat sampai ia tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Luhan yang duduk disampingnya yang terus berusaha membujuknya untuk pulang hanya bisa mendesah ketika gadis itu meminta gelasnya terus diisi oleh bartender yang sedang berjaga dibelakang meja bar. Luhan yang membawa gadis itu ketempat ini, ia ingin Cheonsa mabuk dan mengurangi sedikit rasa sakitnya. Tapi ia tidak berpikir jika Cheonsa akan menjadi seperti ini.

“Cheonsa, ayo kita pulang!” bujuknya lagi sambil menarik lengan gadis itu pelan. Cheonsa menyingkirkan tangan Luhan yang mencengkeram lengannya dengan kasar.

“Kenapa kau tidak pergi saja? Istrimu nanti akan mencarimu, Lu.” jawabnya asal lalu meneguk sisa wisky dalam gelasnya hingga tak tersisa. Gadis itu mengangkat gelasnya dan seorang bartender menghampirinya, mengisi kembali gelas Cheonsa hingga hampir penuh. Luhan terdiam, hatinya merasa sakit melihat Cheonsa menjadi seperti itu. Ia tidak ingin melihat gadis itu menyiksa dirinya sendiri.

“Aku akan mencarikanmu hotel jika kau tidak mau pulang kerumahku,” tawar Luhan pelan. Cheonsa mendesis lalu meneguk sedikit wisky dalam gelasnya. Entah bagaimana gadis itu bisa bertahan dan terus meneguk minuman yang bahkan saat memasuki tenggorokanmu, tenggorokanmu akan terasa seperti terbakar.

“Aku tidak butuh perhatianmu,” jawab Cheonsa dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Gadis itu sedang marah dengan Luhan, ia tidak percaya Luhan membuangnya begitu saja dan memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Tidak menunggunya yang berusaha menjelaskan insiden delapan tahun lalu. Ia tidak rela kisah cintanya berakhir mengenaskan seperti ini. Ia tidak berharap ceritanya berakhir dengan sedih. Sama sekali tidak ingin.

“Cheonsa-ya…”

Cheonsa meletakkan kepalanya diatas meja bar karena kepalanya terasa berat dan berdenyut-denyut. Ia menatap gelas wisky dan Luhan secara bergantian dalam pandangannya yang mulai mengabur karena airmatanya kembali memenuhi pelupuk matanya.

“Lu, kau bohongkan?”tanya Cheonsa pelan, suaranya serak dan bergetar.

Ponsel Cheonsa tiba-tiba berdering dengan berisik. Gadis itu dengan cepat memasukkan tangannya kedalam saku sweater-nya. Meraih benda hitam mengkilap yang terus berdering. Cheonsa hanya menatap nama kontak yang tertera dilayar ponselnya tanpa berniat untuk mengangkatnya. Ia meletakkan ponselnya yang masih berdering didekat gelas wiskynya dan gadis itu memilih tidur.

“Cheonsa… Shin Cheonsa!” panggil Luhan sambil mengguncang tubuh gadis itu. Tapi sang empunya nama hanya mengerang dan menyembunyikan wajahnya didalam sikunya yang ditekuk.

Ponsel gadis itu berdering lagi, suaranya berisik dan sangat menganggu. Luhan menilik nama kontak dalam layar ponsel Cheonsa.

아버지 (ayah)

Luhan terdiam, menatap ponsel Cheonsa dan gadis itu bergantian. Dengan gerakan ragu, tangan Luhan terangkat keudara, meraih ponsel Cheonsa dan mengangkat paggilannya.

“Cheonsa, jangan salahkan ayah jika ayah bertindak nekat seperti dulu. Aku tidak akan hanya melukai bahumu, aku bahkan bisa membunuhmu jika kau masih berhubungan dengan pria itu. Waktumu hanya sampai akhir pekan.”

Luhan menjauhkan ponsel Cheonsa dari telinganya dan menatap layar hitam ponsel dengan tidak percaya. Ternyata gadis itu dalam pelarian dan ia berbohong waktu Luhan menanyakannya beberapa hari lalu.

Matanya tertuju pada tubuh Cheonsa yang tengah ambruk diatas meja bar. Luhan sangat ingin memaki dan mengumpat gadis itu dengan segala makian yang berkecambuk dalam pikirannya. Cheonsa begitu bodoh, apa gadis itu lupa konsekuensi apa yang diterimanya jika ia melarikan diri dari ayahnya? Apa dia amnesia? Ia menghindar dan memilih jalan hidup konyol yang ditentukan oleh orangtua-nya karena ia ingin Cheonsa terus hidup, bukan karena ia tidak mencintai gadis itu. Tidak masalah jika Luhan tidak memilikinya, melihat gadis itu masih bisa bernafas saja membuatnya bahagia.

Cheonsa mengerang, ia berusaha keras mengangkat kepalanya yang berdenyut-denyut dan menyambar ponselnya dari tangan Luhan.

“Bahkan jika nanti ayah menemukanku, aku dengan sukarela memberikan nyawaku. Tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan keselamatanku karena akhirnya nanti aku akan mati ditangan ayahku sendiri. ”

Ternyata gadis itu tidak sepenuhnya jatuh tidur, gadis itu mendengar semua yang dikatakan ayahnya dengan kesadarannya yang mulai berkurang. Cheonsa bangkit dari kursinya. Berjalan terhuyung meninggalkan Luhan yang masih setia dengan kursi tinggi di bar. Pria itu hanya bisa menatap punggung Cheonsa yang berjalan semakin meninggalkannya. Ia merasa bersalah, membuat gadis itu kembali dalam keadaan yang tidak diingininya.

~O~

Cheonsa berjalan terhuyung menyusuri trotoar yang ada disepanjang jembatan sungai Han. Ia tidak peduli udara dingin yang menusuk tulangnya dan kepalanya yang berdenyut-denyut. Luhan sudah memberinya beberapa obat untuk mengurangi efek alkohol tapi sama sekali tidak berfungsi. Ia menolak untuk pulang karena tidak punya tujuan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

Ia terus berusaha untuk terus menyeret kakinya yang berjalan tak seimbang. Tubuhnya terus menggigil kedinginan. Mantel yang membungkus rapat tubuhnya tak mampu menahan hawa awal musim dingin yang dingin dimalam hari.

Rasanya ia ingin berteriak namun tak ada yang keluar seolah ruang dengung di dalam laringnya seolah sudah tak berfungsi. Membiarkan dirinya tersiksa adalah hal yang paling baik karena hal itu tak semenyakitkan gemuruh dalam dadanya yang menuntutnya untuk segera mati dan lenyap dari dunia ini.

Luhan yang terus mengikuti gadis itu dibelakangnya tak bisa berbuat apapun. Ia baru saja ditampar oleh Cheonsa secara brutal karena memaksa gadis itu untuk segera pulang dan beristirahat. Luhan sebenarnya belum menyerah, ia hanya memikirkan cara untuk membujuk gadis itu untuk segera pulang, kondisi Cheonsa sudah berantakan ditambah ia sedang mabuk jika ia tidak menemaninya seperti ini mungkin gadis itu sudah disangka gila.

Cheonsa berjalan terseok kemudian dia tersungkur ke tanah, Luhan dengan cepat berlari menghampiri gadis itu.

“Aku tidak apa-apa, pergilah!” Cheonsa menyingkirkan tangan Luhan yang mencoba membantunya berdiri dengan kasar.

“Kau harus pulang Cheonsa! Kau tidak bisa terus seperti ini!” Luhan berteriak, ia sudah frustasi karena tidak menemukan cara untuk membujuk gadis keras kepala itu pulang.

“Kau yang membuatku seperti ini. Kau membuatku gila. Kenapa kau begitu tega melakukan hal ini padaku, Luhan? Apa kenangan kita terlalu mudah kau artikan sebagai sampah masalalu? Semudah itu kah kau melupakan aku? Bagai…”

Luhan membungkam mulut gadis itu dengan sebuah ciuman. Telinganya hampir meledak menerima seluruh kata demi kata yang Cheonsa lontarkan. Ia sudah tahu. Ia memang yang menyebabkan gadis itu menjadi gila. Sebuah ciuman hangat itu membuktikan jika kenangan mereka bukanlah sampah masalalu tapi sebuah masalalu yang ia simpan dalam kotak bermantra dan ia sendiri tidak sanggup membukanya kembali padahal kalimat ajaib yang menjadi kunci kotak itu sudah memenuhi pikirannya. Apa ini karena dia sudah terlalu lama menyimpannya?

Luhan melepaskan tautan bibirnya pada Cheonsa dan menatap wajah kusut gadis itu dalam-dalam. “Dengarkan aku. Aku bukannya menganggapmu sebagai sampah masalalu tapi ada sebuah kewajiban yang mengharuskanku menciptakan jarak. Aku menikah bukan karena aku ingin tapi itu untuk menghidupi keluargaku. Setelah ayahmu memukul mundur seluruh investor dari perusahaan ayahku, keadaan ekonomi kami tidak karuan dan gadis yang kau lihat tadi yang membangkitkan ekonomi keluargaku maka dari itu aku berterimakasih dengannya dengan menikahinya. Itu semua tak jauh dari bisnis.”

“Kenapa kau tidak memikirkan perasaanku? Kenapa tidak memberitahuku dan membiarkan aku menderita karena menggantungkan harapanku padamu? Sekarang aku harus bagaimana?”

“Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh yang tak berdaya? Waktu itu membuka mata saja kau tidak bisa. Aku tidak bisa mengandalkanmu, Cheonsa-ya!”

“Aku sudah menyelamatkan hidupmu kenapa kau tidak berterimakasih denganku seperti yang kau lakukan pada wanita itu?” balas Cheonsa. Matanya yang berkaca-kaca menatap Luhan tegas.

“Bagaimana caranya aku berterimakasih jika menghubungimu saja sangat sulit. Ayahmu… kau harus ingat jika ayahmu yang membuat kita menjadi seperti ini.”

“Kau sungguh membuatku kesal, Xi Luhan!” teriak Cheonsa lalu membuang muka dan mendesah.

Cheonsa menghentikan taksi yang melintas. Gadis itu pergi sendiri, meninggalkan Luhan yang mematung ditempatnya. Luhan hanya menatap kepergian Cheonsa dengan pilu. Ia tidak bisa menahan gadis itu agar tidak pergi. Tidak sanggup melihat airmata yang terus jatuh ketika melihat Luhan.

Mobil hitam tiba-tiba terhenti didekatnya. Lima orang berpakaian formal keluar dari mobil itu. Luhan mencium adanya bahaya. Ia mundur beberapa langkah dan menatap satu persatu wajah garang didepannya.

“Lama tidak bertemu, Luhan!” barisan pria kekar itu kemudian terbelah dua dan menampilkan seorang pria tampan yang berjalan santai mendekati Luhan. Ia menyeringai sembari menatap wajah Luhan yang terlihat tidak senang melihatnya.

“Yoon Doojoon?”

“Ya. Ini aku.”

“Aku tidak sedang bersama dengan Cheonsa saat ini.”

“Mungkin saat ini kau tidak bersama gadis itu. Tapi aku melihat sebuah adegan manis yang membuat hidup Cheonsa semakin dekat dengan jurang kematian.”

Luhan terdiam sambil membaca gerak-gerik pria itu yang sedang berjalan mengitarinya. “Sebagai tunangannya kau pasti merasa tidak terima, jadi apa kau ingin berkelahi seperti anak kecil?” kata Luhan sembari mengamati satu persatu anak buah Doojon dan menganalisis situasi. Ia ingin megetahui kelemahan dari mereka semua.

“Haruskah seperti itu? Kau tidak menyesal jika setelah itu kau tidak akan melihat matahari pagi?” tanya Doojoon penuh ancaman tapi dasar Luhan ia malah menyeringai. “Apa aku harus takut dengan ancaman itu? Mungkin kau pikir aku akan bergetar tapi aku sama sekali tidak takut padamu. Lagipula jika kau menyentuhku atau mungkin melukaiku Cheonsa akan marah besar padamu seumur hidupnya.”

Doojoon menertawakan Luhan. “Apa aku tidak salah dengar? Siapa yang marah pada siapa? Gadis itu akan lebih membencimu dari pada aku! Menghadiahkannya sebuah fakta menyakitkan dihari kembalinya setelah sekian lama? Kau hebat, Luhan!”

Luhan memberikan smirknya. “Aku memang hebat. Dari dulu hingga sekarang ini Cheonsa tidak pernah mengalihkan perhatiannya padaku. Aku lebih hebat darimu Doojoon, menjadi tunangan gadis itu selama dua tahun apa kau pernah mendapatkan perhatian lebih dari Cheonsa? Kau tidak lebih dari syarat yang membuat ayah Cheonsa merasa lega karena gadisnya tidak ada ditanganku dan karena sebuah bisnis. Bukan karena dia mencintaimu.”

Mata Doojon menusuk mata Luhan dengan tajam. “Sepertinya kau harus menerima hukuman karena berani mengurusi urusan orang lain seperti itu.”

Doojon berhenti didepannya dan mengayunkan tangan kirinya. Seketika lima orang berpakaian formal itu maju menyerangnya. Luhan sempat menghindari beberapa tinju yang mengarah kearahnya. Dengan segala kemampuan martial art yang dipelajarinya dari teman dekatnya, ia sedikit bisa melindungi dirinya sendiri.

Ia terlalu sibuk menghindar tanpa menyadari satu orang berpakaian formal dibelakangnya yang membawa tongkat bisbol. Ia berbalik dan terkejut melihat tongkat itu diarahkan padanya. Sedetik kemudian ia telah terkapar dengan kepalanya yang bersimbah darah. Walaupun begitu ia masih bisa membuka matanya dan mendengar suara yang semakin samar. Ia dapat melihat Doojoon mendekatinya dan berjongkok sembari menyeringai puas.

“Jika kau tidak bisa melepaskan Cheonsa. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu, Luhan.”

Doojoon berdiri, merapihkan setelan jasnya yang sedikit kusut lalu mengisyaratkan seluruh anak buahnya untuk segera pergi meninggalkan pria itu sendiri. Luhan tak dapat melakukan apapun, pandangannya semakin buram dan telinganya juga sudah tidak jelas untuk mendengar. Ketika ia mendengar klaksonan dan sorotan lampu mobil, pada detik yang sama itu juga dunianya berubah menjadi gelap.

~O~

Taksi itu menurunkan Cheonsa di Royal Hotel. Hotel milik ayah Yeon Joo. Teman baiknya itu sangat menyarankannya untuk tinggal dihotelnya. Terutama menempati suite roomnya yang berada dilantai 25. Tempat itu adalah yang paling aman dari seluruh tempat di Korea. Pengawal ayahnya dan Doojoon tidak mungkin bisa memasuki hotel itu apalagi menemukan Cheonsa di lantai 25 karena Yeon Joo sudah memberikan privasi pada suite room-nya. Gadis itu tidak memerlukan reservasi lagi. Yeon Joo sudah memberinya card yang berfungsi sebagai kunci pintu kamar hotelnya. Dengan jalan sedikit terseok ia memasuki sebuah lift. Waktu seolah berputar sangat lama begitupun juga liftnya yang berjalan lambat menuju lantai 25 seperti slow motion. Ia mencengkeram besi pegangan yang ada di dinding lift. Ia tidak kuat menahan tubuhnya sendiri karena kepalanya yang sakit.

Bel berbunyi dan pintu lift itu segera membuka. Ia sedikit terpukau dengan ruangan didepannya. Suite room Yeon Joo benar-benar mewah. Ia belum pernah melihat tempat seperti ini terdapat di hotel-hotel mewah. Yeon Joo pasti memilih designer hebat untuk mendekorasi suite roomnya. Ia paling suka kolam yang mengitari ruang tamu dengan patung empat bidadari yang tingginya hampir menyentuh atap ruangan itu. Sorotan lampu sapphire blue yang terpantul dari air mengalir dari kendi-kendi ditangan para bidadari itu juga sangat indah. Berapa yang gadis gila itu habiskan untuk ini?

Cheonsa tidak ingin menyalakan lampu. Ia terus saja berjalan mencari kamar karena ia ingin mengistirahatkan kepalanya yang berat. Ia tidak sanggup memikirkan apapun lagi, termasuk fakta yang diketahuinya hari ini. Masalah itu terlalu memberatkan dan ia tidak bisa mencernanya dengan baik sekarang. Ia hanya ingin tidur dan melepas bebannya.

Cheonsa merentangkan tangannya ditempat tidur. Tangan kirinya tiba-tiba terangkat keudara dan menunjuk langit-langit bercat putih yang kosonng.

“Xi Luhan. Luhan. Xi Luhan,” gumamnya sembari memutar telunjuknya seperti menyusuri wajah pria itu dan setelah ia mengulas sebuah senyum tipis akhirnya ia tertidur.

~O~

Seorang gadis menutup mulutnya sembari membulatkan matanya. Ia benar-benar tak menyangka bisa menyaksikan adegan seperti itu didepannya. Ia memekik ketika seorang pria memukul kepala Luhan dengan pemukul bisbol. Ia tidak bisa membayangkan jika Cheonsa menyaksikan kejadian itu sendiri, ia pasti akan menjerit-jerit dan mengucapkan sumpah serapah pada tunangannya yang gila.

Segerombolan pria itu pergi dan gadis itu cepat-cepat keluar dari mobilnya menghampiri Luhan yang terkapar mengenaskan.

“Luhan-ssi.” Gadis itu mengguncang tubuh Luhan pelan tapi pria itu tidak menyahut.

“Xi Luhan-ssi.” Pekiknya panik ketika tangannya berlumuran darah akibat mengangkat kepala Luhan tadi.

Suara sirine menggema di pelataran rumah sakit. Suara ranjang beroda yang membawa tubuh mengenaskan Luhan menggema diseluruh ruangan. Segelintir orang yang berada dilorong itu melihatnya dengan miris karena darah tak henti-hentinya menetes. Seorang gadis ikut berlari mengikuti gerombolan orang yang berpakaian putih. Sesekali ia menempelkan ponselnya ketelinga, seperti mencoba menghubungi seseorang. Ia mendesah keras ketika panggilannya diabaikan. Lorong itu berujung pada sebuah ruangan dengan pintu kaca yang buram. Seorang perawat menahannya untuk masuk dan menyuruhnya untuk menunggu. Gadis itu melirik ruangan itu sejenak.

Ruang Operasi.

Oh, baiklah jika ia harus menunggu.

Sembari mengistirahatkan tubuhnya, ia masih mencoba menghubungi seseorang. Ia bisa mengira jika ada sekitar delapan puluh panggilan tak terjawab di ponsel orang yang dihubunginya. Ia tidak mau mencobanya lagi, percuma saja. Ia akan terabaikan.

“Kau dimana bodoh!”

~O~

Matahari pagi membangunkannya. Gadis itu menggeliat pelan dan perlahan membuka matanya. Hal pertama kali yang dilakukannya adalah menyipit untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari pagi. Cheonsa meraih tasnya untuk mencari obat yang dibelikan Luhan kemarin malam, kepalanya masih pusing karena pengaruh alkohol itu belum juga hilang. Ia menemukan obat itu tapi tak segera mengambilnya, tangannya malah meraih ponsel dan dia membulatkan matanya ketika ada sekitar delapan puluh panggilan tak terjawab dan itu semua dari Yeon Joo.

“Ya! Choi Yeon Joo. Gadis gila itu!” jeritnya. Gadis itu menyentuh layarnya sekali dan langsung membawa ponsel itu ditelinga kanannya. Matanya masih mengisyaratkan kekesalannya.

“YA! Choi Yeon..”

“…”

“Mwo?” matanya berubah sendu dan berkaca-kaca. Rahangnya menegang dan wajahnya menjadi pucat. Ia tidak salah dengar bukan. Apa? Luhan? Dan kalimat terakhir tadi apa? Rumah sakit?

“Kau bohongkan? Hei, ini bukan aprilmob tapi kenapa semua orang mengerjaiku. Jangan bercanda. Lagipula kau tidak sedang di Korea bagaimana kau tahu jika Luhan ada dirumah sakit. Aku tidak bodoh.” Ujar Cheonsa dengan suaranya yang berubah menjadi tegang dan memaksakan sebuah tawa. Ia mencengkeram ponsel digenggamannya lebih erat.

“…”

“Dimana kau? Dimana kau sekarang? Jika aku datang dan tidak terjadi apa-apa, akan kubunuh kau!”

Cheonsa menutup melemparkan ponselnya begitu saja diatas ranjang. Tubuh kecilnya langsung melesat begitu saja masuk kedalam lift. Ia harus pergi ke rumah sakit dan memastikan jika perkataan Yeon Joo memang tidak benar. Luhan… tidak ada sesuatu yang terjadi dengannya. Pria itu baik-baik saja walaupun kemarin malam ia menamparnya brutal ia tidak mungkin sampai kerumah sakit dan tak sadarkan diri. Tidak mungkin.

~O~

Yeon Joo berdiri diam menatap tubuh Luhan yang terbaring diranjang rumah sakit. Setelah selesai melakukan operasi itu, pria itu belum juga bisa melewati masa kritisnya. Jika ia belum bisa melewati masa kritisnya maka ia belum bisa menunjukkan tanda-tanda jika ia akan sadar. Yeon Joo merasa miris melihat berbagai macam alat medis terpasang ditubuh Luhan untuk menopang hidupnya. Ia masih mengingat bagaimana adegan kekerasan itu terjadi. Sungguh diluar dugaannya, Yoon Doojoon tadi malam bukan Yoon Doojoon yang sudah dikenalnya. Pada dasarnya pria itu hangat dan memang sedikit emosional tapi ia tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menyakiti orang lain. Apapun itu.

Ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan pada Cheonsa bahwa yang membuat Luhan seperti ini adalah tunangannya sendiri. Yeon Joo sendiri tidak berani membuka suaranya, tangan Cheonsa terus menggenggam erat tangan Luhan yang bebas dari tusukan jarum. Airmata itu juga tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya. Sebegitu sedihkah gadis itu? Ternyata Luhan benar-benar segalanya bagi gadis itu. Tidak ada yang dapat menggantikannya dengan saham senilai berapapun. Luhan memang tidak bersinar bagaikan berlian yang tersorot sinar matanari, tapi justru itu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Cheonsa.

Gadis itu memang gila, memberikan segala perlawanan untuk menghentikan ayahnya menghancurkan pria itu. Bahkan, ia rela menjadi perisai saat peluru dari pistol yang ditembak ayahnya mengarah pada Luhan. Yeon Joo juga ingin memiliki semangat perjuangan seperti itu tapi ia tidak bisa melakukan pengorbanan sebesar itu karena selama ini ia hidup tunduk pada ayahnya.

“Tidak ada gunanya kau menangis seperti itu. Tangisanmu tidak akan membangunkan Luhan.” Ujar Yeon Joo dingin.

Cheonsa masih terdiam, ia perlahan meletakkan tangan Luhan yang tak berdaya dengan lembut dan kemudian berdiri lalu berjalan menuju jendela kaca besar disana. Matanya menatap menerawang kota Seoul dipagi hari yang cerah.

“Kau belum bercerita padaku bagaimana kau menemukan Luhan.” Katanya dingin. Yeon Joo berjalan kearah jendela itu dan mensejajarkan dirinya dengan gadis itu. “Apa yang kudapat jika aku memberitahumu berita mengejutkan ini.”

“Ini bukan candaan!” Cheonsa melirik Yeon Joo tajam.

Yeon Joo tersenyum sinis. “Apa aku terlihat sedang bercanda?”

“Aku sedang tidak ingin berbasa basi. Cepat ceritakan padaku.”

“Aku sedang mempertimbangkannya. Bercerita… atau tidak. ”

“Kupikir kita teman.” Cheonsa menatap Yeon Joo tajam tapi gadis itu malah tersenyum manis pada Cheonsa dan memalingkan wajahnya. “Cheonsa, Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada dikepalamu. Kau begitu terobsesi, memberontak pada ayahu sendiri dan sekarang kau menantangnya?”

“Aku akan memberikanmu beberapa saham yang kumiliki. Apa itu cukup?”

Yeon Joo tersenyum lalu menggeleng. “Sebenarnya aku tidak berniat menceritakannya padamu. Ini adalah berita mengejutkan jadi jangan membuatku membuka mulut untuk itu.”

“Ini bukan jumlah yang sedikit.”

“Aku tidak tertarik.” Sahut Yeon Joo cepat lalu berjalan mendekati pintu. Cheonsa ikut memutar tubuhnya dan mengamati gadis itu. Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, Yeon Joo bukan orang yang mudah untuk disuap. Gadis itu sama keras kepalanya dengan dirinya sendiri. Disela-sela kemelut dikepalanya nama seseorang terlintas dikepalanya. Kemarahan menghampirinya lagi terlihat dengan tangannya yang mengepal erat-erat. “Apa itu ayahku?”

Yeon Joo menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik. ”Aku tidak ingin kau kecewa. Kau tidak perlu tahu siapa itu cukup rawat saja Luhan. Apa itu tidak cukup?”

“Bagaimana bisa… Yeon Joo-ya! Jika kau tetap tidak mau memberitahuku sekarang ini juga aku akan menarik seluruh investasiku pada brand baru yang kau kembangkan. Kau tahu bukan apa akibatnya?”

Yeon Joo menegang. Matanya membelalak mendengar ancaman Cheonsa barusan. Ia meremas ujung mantelnya dengan erat. “Kau tidak bisa menyeret hal lain kedalam masalahmu. Ini adalah urusanku denganmu.”

“Maka dari itu beritahu aku.”

“Aku tidak mau.”

“Baiklah berarti kau memberikanku ijin untuk menghancurkan perusahaanmu.” Cheonsa berjalan melewati Yeon Joo gadis itu mengigit bibirnya ketika desiran udara yang Cheonsa buat menyentuh kulitnya. Ini adalah saatnya ia harus memilih. Tidak ada waktu lagi. Yeon Joo melihat Cheonsa saat ini memegang knop pintu kamar Luhan dan hendak keluar.

“Yoon Doojoon.” Jeritnya.

Cheonsa sontak membelalak dan membalikan badan melemparkan tatapan tak percaya pada Yeon Joo yang berdiri dengan bimbang dibelakangnya. “Kenapa semuanya menjadi mengejutkan.”

“Kau bahkan tidak percaya apalagi aku.”

“Kau mungkin salah lihat. Tidak mungkin.”

Yeon Joo merogoh saku mantelnya dan memberikan sebuah sd card pada Cheonsa. Ia punya bukti dari kamera black box mobilnya. “Kau bisa memastikan semua omonganku disini.”

“Jika kau melihat kejadian itu kenapa kau tidak menghentikannya?”

“Apa aku mampu?”

“Kau bisa meminta bantuan.”

“Jadi ini salahku juga?”

“Bukan begitu.”

“Sudahlah.”

~O~

Cheonsa baru saja keluar dari rumah sakit dan dua mobil mercedes hitam berhenti tepat didepannya. Dua orang pengawal ayahnya keluar dari mobil dan mempersilakan gadis itu untuk masuk dengan membuka pintu mobil. Cheonsa tersenyum tipis, ia tidak berniat lari menghindar lagi karena ia punya senjata yang mampu membuatnya terbebas tanpa harus pusing-pusing menghindar.

“Apa pesananku sudah siap?” tanya Cheonsa pada seorang pria yang duduk disamping kursi kemudi.

“Ya, nona.” Jawabnya. Cheonsa mengangguk pelan lalu ia menyuruh orang itu untuk menghubungi Doojoon. Ia lupa jika ia meninggalkan ponselnya begitu saja saat mendengar kabar tentang Luhan.

“Kau sudah sampai?” tanya Cheonsa pada seseorang diseberang sana yang sedang menerima telepon darinya.

“Ya,”

Cheonsa mengulum senyumnya, ada sesuatu yang disembunyikan terlihat sekali dari raut wajahnya.

“Baiklah, sampai bertemu.” Cheonsa menutup sambungan teleponnya dan menyuruh pengawal ayahnya untuk mempercepat laju mobilnya. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan pria itu.

Tidak sampai tiga puluh menit dua mobil mercedes itu sudah sampai ditaman pinggir Sungai Han. Pemandangan sore hari yang cantik dengan kemilau airnya. Cheonsa berjalan santai diiringi lima orang berbadan kekar yang terus mengapitnya dikanan dan kiri sisi tubuhnya. Seorang pria yang sedang duduk menunggu dengan sebuah gadget yang ditangannya tampak sudah bosan menunggu. Kali ini Cheonsa melepas senyumnya dan menyapa pria itu dengan manis.

“Maaf jika aku membuatmu menunggu terlalu lama.”

Pria itu menoleh dan melemparkan senyum. Ia berdiri dan meletakkan barang elektroniknya dibangku taman kemudian berjalan menghampiri Cheonsa.

“Pada akhirnya kau menyerah,”

Cheonsa hanya tersenyum.

“Kau sudah menemui pangeran kesepianmu?” tanya Doojoon.

Gadis itu berjalan mendekati Doojoon dan memutar tubuhnya mengarah pada kilauan indah didepannya. Tak lupa, ia juga masih tersenyum dan tampak senang. “Aku baru saja menemuinya kemarin malam.”

Doojoon menatap Cheonsa tenang. Ia berpikir jika gadis itu ternyata tidak tahu apa-apa mengenai kondisi Luhan saat ini. “Kau tidak berniat menemuinya lagi untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan?”

“Kenapa harus ada salam perpisahan, aku tidak berniat untuk kembali kesana.”

Doojoon membelalak sekaligus melenyapkan senyumnya. Ia memutar tubuh Cheonsa dan mencengkeram bahunya keras memaksa gadis itu untuk menatapnya. “Apa maksudmu?”

“Sekaligus membatalkan pertunangan kita.”

“Kenapa?” tanya Doojoon gusar. Raut wajahnya benar-benar menyiratkan kemarahan dan kebencian tapi Cheonsa tak goyah, ia memberanikan diri dan menantang dirinya untuk mengakhiri pertengkaran ini dengan baik.

“Karena aku merasa kotor saat bersamamu.”

“Beraninya kau berkata seperti itu didepanku,” Doojoon menaikkan nada suaranya dan mendekatkan wajah murkanya kearah Cheonsa. Cheonsa dengan sunggingan senyuman membalas. “Maaf jika aku mengatakan hal seperti itu didepan seorang pewaris yang berkuasa tapi aku harus jujur jika kau memang kotor.”

“Tapi tidak sadarkah kau jika sebagian besar saham yang kau miliki adalah pemberian ayahku? Bagaimana jika aku mengambil kembali semuanya, kau tidak akan bisa hidup semewah ini lagi.”

“Apa?”

“Aku benar-benar tidak suka tradisi sok berkuasa.” Cibir Cheonsa.

Doojoon menggelengkan kepalanya tidak percaya jika Cheonsa seberani ini dengannya. Gadis itu berhasil membuat harga dirinya terluka. Tapi ia tidak semudah itu hancur dan mengaku kalah. “Aku dengar kau dicampakkan oleh pangeran kesepianmu. Dia sudah memiliki istri bukan?”

“Ya, kau benar.”

“Apa kau tidak memiliki rasa rendah diri?”

“Tidak, aku bisa merasakannya jika aku lebih rendah daripada kau. Aku mungkin lemah tapi aku punya banyak cara untuk mencapai kebahagiaanku.”

“Oh ya? Kau ingin menikmati kisah romeo juliet?”

“Dan apa kau ingin dinilai sebagai pengemis dalam lingkungan pewaris?”

“Apa sekarang kau sedang menginjak-injakku?”

“Kenapa? Bukankah perkataanku ini memang benar? Kau tidak mencintaiku, kau hanya menginginkan hartaku serta kekuasan tertinggi di keluargaku. Kau memanfaatkan ayahku bukan?”

“Harta bukan segalanya dan kau harus tahu jika aku memang benar-benar mencintaimu.”

Cheonsa tersenyum meremehkan dan membuang mukanya. Bualan apa lagi yang harus ia dengar dari mulut pria itu.

“Bukankah kau melakukan segala cara untuk menaikki puncak tertinggi itu? Setelah kita menikah mungkin kau akan membunuh ayahku, lalu membuangku dan membuatku menjadi orang mati dilingkunganku sendiri dan setelah itu kau akan menerima seluruh harta waris keluargaku. Kau benar-benar serakah.”

“Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu?”

“Perkataan ayahku. Orang yang menempel padaku adalah benalu dan orang yang mati-matian mengejarku pada akhirnya ia akan menjadi serakah. Kau tidak tahu jika aku ini adalah mutiara berharga dari keluarga Shin? Aku akan tampak bersinar bagi orang yang gila harta karena sinarku menerangi jalan keputusasaan mereka.”

“Ya! Shin Cheonsa!”

“Lalu… kau ingin aku memberitahumu hal lain?” Cheonsa menginterupsi seluruh pikiran Doojoon dan laki-laki itu hanya bisa menatap Cheonsa dengan wajahnya yang murka. “Aku tahu kau adalah penyebar rumor tentang perusahaan ayah Luhan. Dan…”

Yeon Joo meruncingkan pandangannya. “Kau adalah pelaku kriminal yang menghabisi Luhan kemarin malam. Aku ingin menuntutmu atas kasus kekerasan ini. Tapi aku masih memiliki hati dan tidak membuat wajahmu terekspos diseluruh media informasi internasional karena tindakan bodohmu.”

Doojoon hanya tertawa. “Kau tidak bisa menuduhku sembarangan!”

“Aku tidak mungkin menemukan wajah orang yang sangat mirip denganmu dan pria itu mengenal Luhan serta sedang membahasku. Itu konyol!”

“Kau tidak punya bukti!”

“Siapa bilang?” Cheonsa mengacungkan tangan kanannya dan salah satu orang berpakaian hitam itu maju kedepan sambil menyerahkan sebuah amplop coklat pada Cheonsa. “Kau tidak bisa mengelak sekarang.”

Cheonsa membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sekitar seratus cetakan foto, gadis itu dengan percaya diri mengacungkan benda itu didepan wajah Doojoon membiarkan laki-laki itu melihatnya dengan jelas. “Terkejut? Berhentilah selagi kau bisa.”

Doojoon ingin meraih cetakan foto itu tapi Cheonsa terlebih dahulu menjatuhkannya sehingga seratus cetakan foto itu bertebaran ditanah. “Seharusnya kau sadar, kau adalah pecundang yang mengubah hidupnya dengan uang orang lain.”

“Ayahku tidak mungkin berani menyentuh Luhan lagi karena ia sedang terikat janji denganku. Ia akan mendapatkan penyesalan atas hilangnya nyawaku karena hal itu terjadi. Dan hukuman itu sekarang menjadi milikmu, selain kau kehilangan aku, kau juga kehilangan hakmu atas saham dan perusahaan ayahku. Jangan boros. Atau kau hidup menggelandang dan menjadi tertawaan para pewaris.”

“Apa? Ya!” Doojoon mengangkat tangannya keudara. Kepalanya sedang mendidih sekarang, Cheonsa benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Tapi belum sempat tangan itu menyentuh pipi Cheonsa, lima orang kekar dibelakang Cheonsa terlebih dahulu maju dan memukulinya. Cheonsa menyuruh mereka melakukan hal yang sama seperti saat Doojoon memerintahkan mereka untuk menghabisi Luhan. Cheonsa berjalan menjauhi tempat itu, ia tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu.

“Halo ayah? Sekarang pukul mundur seluruh pasukanmu dari lingkungan keluarga Luhan dan kembalikan semuanya pada keadaan semula. Bersihkan nama ayahnya dan berikan kompensasi atas diri Luhan yang sekarang tak sadarkan diri. Hal ini terjadi karena tangan kananmu yang bodoh itu membuatnya terluka.” Cheonsa memutuskan hubungan teleponnya dengan seringaian kemenangan dan wajah puas diwajahnya.

“Bawa aku kerumah sakit lagi.” Perintahnya. Pria dibelakang kemudi itu mengangguk dan segera menjalankan mobilnya.

Cheonsa sekarang menjadi lebih bahagia. Mengalahkan otoritas Doojoon atas dirinya adalah keinginan terbesar selama ini. Tidak ada rantai bernama Yoon Doojoon yang mengikatnya kuat lagi, sekarang ia terbebas.

~O~

“Kau tidak berhak melarangku!” Teriaknya frustasi. Yeon Joo hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melipat tangannya didepan dada melihat wanita gila yang ada didepannya itu. Ia hampir menyerah meladeni mulutnya yang cerewet, jika saja bukan karena Cheonsa ia sudah pergi dari kamar itu untuk menormalkan pendengarannya.

“Ya! Ini rumah sakit. Tidak bisakah kau menjaga mulutmu dan berbicara baik-baik?” ujar Yeon Joo kesal. Ia mendesah lagi, entah sudah kali keberapa ia melakukan hal itu. Ia berharap Cheonsa segera datang dan membebaskannya dari wanita gila yang berdiri didekat pintu.

Pintu kamar itu tiba-tiba saja bergeser dan Cheonsa langsung saja mendesak masuk, ia sama sekali tidak memikirkan hal apa yang terjadi pada Soo Jung ketika ia dengan sengaja mendorongnya hingga jatuh tersungkur didepan Yeon Joo.

“Oh! Mian. Aku sama sekali tidak tahu jika kau sedang berdiri didepan pintu. Aku terlalu senang karena baru saja mendapat berita baik mengenai Luhan.” Cheonsa tertawa pelan dibarengi dengan senyuman miring yang menghiasi wajah Yeon Joo. Soo Jung menatap Cheonsa dengan tatapan yang tidak ramah tapi sepertinya Cheonsa sama sekali tidak peduli. Toh, dia masih mampu tertawa dengan renyah. “Kau sebenarnya tidak perlu sampai berlutut untuk meminta maaf padaku. Tapi karena kau sudah seperti ini, aku memaafkanmu walaupun telingaku hampir tuli mendengar suara teriakanmu.” Ujar Yeon Joo santai. Ia masih tidak bisa menyembunyikan tawanya dan tatapan merendahkan yang dilakukannya. Soo Jung buru-buru berdiri dan membersihkan dirinya, ia benar-benar dipemalukan oleh dua gadis didalam ruangan itu. Sikapnya tidak tenang dan anggun seperti kemarin malam saat dia ada dirumah Luhan. Dia lebih terlihat seperti gadis kampungan yang kurang ajar.

“Sebaiknya kau menyerah saja. Ayahku sebentar lagi akan menarikmu mundur, dan sebelum kau lebih malu lagi lebih baik kau pergi saja.”

Setelah mengatakan itu Cheonsa duduk di sofa putih didekat pintu dan membuka tabloid lama yang tadi dibawanya. Dia tersenyum kecil ketika menemukan sebuah berita mengejutkan dalam tabloid itu. Pandangannya kemudian beralih pada gadis tinggi yang berpakaian modis didepannya. Matanya memandangnya dari atas kemudian kebawah lalu tersenyum kecil. “Pewaris perusahaan anggur tradisional?”

Cheonsa terkekeh, ia membalikkan tabloidnya dan menunjukkan berita mengejutkan yang tadi dibawanya dimuka gadis itu. “Jung Soo Jung, anak hasil perselingkuhan direktur Jung dengan sekretaris yang merangkap sebagai simpananya. Sebelum istri pertamanya mengetahui keberadaanmu, kau selalu hidup mewah dengan uang yang diberikan ayahmu dan setelah semuanya terbongkar kehidupan mewahmu berhenti sampai disitu. Sekarang…”

Cheonsa mengangkat sedikit dagunya dan tersenyum sinis. “Karena tidak bisa meninggalkan kehidupan glamour seperti yang diberikan ayahmu dulu, kau dan ibumu memiliki banyak hutang. Aku tidak habis pikir Luhan menikahi gadis gila harta yang ditutupi dengan penampilanya yang sok anggun. Aku jadi tahu kenapa kau mau masuk dalam permainan konyol ayahku, karena uang?”

“Apa? Ya! Neo-”

Soo Jung mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya sudah hampir keluar ketika ia memandang kedua gadis didepannya dengan kesal. Ponselnya bergetar dan gadis itu buru-buru mengangkatnya. “Ne?”

Sambungan telepon itu berakhir dengan cepat. Ia hanya bisa melongo menatap layar ponselnya yang berwarna hitam. “Ini bayaran terakhir yang diberikan ayahku. Dia sangat berterimakasih atas bantuanmu,” Ujar Cheonsa. Ia mengangkat sebuah amplop coklat keudara dan matanya mengisyaratkan gadis itu untuk segera mengambilnya dan pergi.

Dia hanya mau uang, bukan? Tapi kenapa dia peduli dengan harga dirinya yang mulai jatuh ketika Cheonsa mengungkap kebenaran jati dirinya. Dia seharusnya bisa menyanggah itu semua, mencari-cari alasan untuk memutar balikkan fakta. Tapi sayangnya, Soo Jung tidak bisa berkata-kata apapun.

Alih-alih mengambil amplop itu, Soo Jung malah pergi tanpa sepatah katapun diiringi suara pintu yang berdebam cukup kuat. Cheonsa dan Yeon Joo hanya bisa berpandangan lalu mengangkat bahu mereka secara bersamaan.

“Luhan sudah melewati masa kritisnya. Kau hanya perlu menunggunya bangun dalam waktu dekat ini.” Yeon Joo meraih mantel dan tasnya yang tergeletak diatas sofa putih disamping Yeon Joo duduk. “Kau mau kemana?”

“Tugasku sudah selesai. Apa aku tidak bisa pulang?”

“Hari ini?”

Yeon Joo mengangkat bahunya. “Entahlah, mungkin aku akan menikmati udara Korea sedikit lebih lama.”

Cheonsa memandangi Yeon Joo yang sibuk mengenakan mantelnya dan merapihkan dandanannya. Gadis itu tersenyum kecil pada Cheonsa sebelum keluar dari kamar rawat Luhan. “Yeon Joo-ya…”

“Hm?”

“Gomawo,” ucapan Cheonsa barusan membuat Yeon Joo sedikit aneh. Ia hanya membalasnya dengan senyuman miring dan keluar dengan melambaikan tangannya tanpa membalikkan badan. Ini kata terimakasih Cheonsa yang pertama selama mereka menjadi teman baik.

~O~

One year later…

Cheonsa terbangun ketika aroma kopi telah menyusup ke indra penciumannya. Gadis itu tersenyum kecil lalu membuka matanya perlahan. Indra penglihatannya dengan cepat mampu menemukan Luhan yang tengah berdiri didepan jendela besar dan menikmati sinar matahari di musim semi yang hangat. Ia sangat bersyukur karena Tuhan masih membiarkan pria itu hidup baik-baik saja hingga saat ini. Kebahagiaan terbesarnya adalah saat melihat luhan membuka matanya kembali dari tidur panjangnya dan mengajaknya untuk memulai semuanya dari awal. Untuk Cheonsa, Luhan adalah oksigennya. Jika tidak ada Luhan apakah mungkin ia masih bisa bernapas?

“Aku hanya ditakdirkan untuk mencintaimu, Lu.”

Cheonsa tersenyum, ia menyibakkan selimut dan berjalan kearah Luhan yang juga tengah tersenyum kearahnya. Gadis itu menatap Luhan lalu memberikan kecupan lembut dibibirnya.

Morning Kiss?

Pria itu terkejut setelah beberapa detik tapi setelah melewati keterkejutannya dia membalas kecupan Cheonsa itu dengan ciumannya yang lembut dan hangat.

Sepasang lengan hangat memeluknya dan menyelimutinya di pagi yang dingin itu. “Kau sudah bangun?” Luhan mengistirahatkan dagunya di pundak Cheonsa. Nafasnya yang berbau kopi menyegarkan itu membelai sisi wajah gadis itu.

Cheonsa masih belum bisa melepaskan senyumnya, gadis itu berbalik perlahan. Matanya tertumbuk pada wajah tampan dihadapannya. Tangannya terangkat begitu saja dan mengalungkannya dileher Luhan.

“Bagaimana bisa kau pernah menjadi milik orang lain?” ujar Cheonsa tiba-tiba membuat kekehan pelan keluar dari mulut Luhan. “Aku bahkan tidak membiarkannya menyentuh ujung rambutku,” balas Luhan sambil tersenyum.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku mencintaimu, Cheonsa.”

Entah saking bahagianya atau apa Cheonsa langsung menaikkan tumitnya dan mulai mencari bibir Luhan. Pria itu hanya bisa tersenyum diantara bibir mereka yang bertaut.

“Aku melarikan diri karena rasa bersalahku. Untuk itu aku minta maaf.” Ujar Cheonsa kemudian.

Luhan menyingkirkan helaian rambut Cheonsa yang perlahan turun dan menutupi sebagian wajah Cheonsa lalu berkata, “Kau mungkin mengira semua ini salahmu, tapi aku juga patut disalahkan karena aku tidak bisa berbuat apapun untuk memperbaikinya setelah kau pergi. ”

Luhan lalu menarik Cheonsa untuk jatuh kedalam pelukannya. Perlahan ia menutup matanya, mengingat kembali kejadian masalalunya yang begitu berat untuk melindungi wanita yang dicintainya dari perasaan tersakiti. Ia memang tidak bisa berbuat apapun ketika tubuh Cheonsa jatuh ketanah setelah suara tembakan, ia hanya mampu menatap tubuh kecil itu yang terkulai ditanah. Melarikan diri seperti seorang pencuri setelah mendengar ancaman ayah Cheonsa adalah tindakan terbaik yang bisa dilakukan seorang Luhan muda yang egois.

Cheonsa menjauhkan dirinya dari Luhan dan menatap pria itu. “Luhan, malam ini ayah akan mengundangmu ke acaranya. Kau harus perlihatkan padanya bahwa kau bisa menjadi menantu seperti yang diinginkanya.”

“Benarkah?”

“Kau menunggu hari ini bukan?”

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya.”

“Katakan saja jika kau mencintaiku.”

“Baiklah. Tapi aku hanya memiliki satu keberanian untuk mengatakannya pada ayahmu. Jika dia menolakku maka tidak ada alasan bagiku untuk memohon padanya untuk kedua kali.”

“Ya! Xi Luhan! Kau harus ingat betapa aku ingin menikah denganmu!” jerit Cheonsa kesal. Luhan tertawa pelan melihat wajah Cheonsa yang terlihat kekanakan karena cemberut lalu memeluk gadis itu lagi dengan erat.

“Saranghae, Shin Cheonsa.”

“Nado, Saranghae Xi Luhan.”

Begitulah, haru biru kisah cinta mereka. Berjuang untuk cinta mereka hingga delapan tahun, menghadapi berbagai cobaan yang membuat salah satu dari mereka menyerah dan memilih alur lain untuk hidup. Walaupun Luhan hampir meninggalkannya, pria itu akhirnya mampu berjuang untuk kembali hidup seperti yang dilakukan Cheonsa yang hidup untuk Luhan saat tidak ada kemungkinan baginya untuk hidup. Mereka telah mati sekali dan untuk kehidupan kedua ini mereka berjanji untuk selalu bersama karena mereka mencintai satu-sama lain secara tulus.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s