Heartstrings : [1] The Choice

Heartstings Cover

Choi Jun Hong | Lee Jonghyun | OC | Ficlet | Romance | YuanFei’s Storyline

The Choice

Bandara terlalu ramai untuk mencari keberadaan seseorang yang selama satu bulan ini membuatnya merasa seperti orang paling bodoh didunia. Ia tidak pernah tahu jika pria yang baru enam bulan resmi menjadi suaminya itu mempermainkannya seperti ini. Gadis itu berjalan dengan cepat diiringi dengan emosinya yang mulai sarat. Begitu banyak rupa asing berlalu lalang didepannya, sesekali ia menabrak orang dan meminta maaf, tidak peduli dengan cibiran orang yang mengumpatnya . Dia datang kesini bukan untuk mendengar itu.

Langkahnya terhenti tak jauh dari pintu pemberangkatan. Ia mengepalkan tangan dibalik mantel yang tidak ia kancing ketika matanya melihat seorang yang tengah dipikirkannya sedang berbincang dengan seorang wanita. Ia melanjutkan langkah dan berhenti tepat dihadapan mereka. Gadis berambut coklat sebahu yang melihat Yeon Joo segera mengalihkan pandangannya dari Jun Hong dan mundur beberapa langkah. Jun Hong menyadari perubahan sikap Soo Jin dan segera mengalihkan pandangan.

“Selagi aku masih hidup, sebelum kau pergi, kau ingin membuat kenangan manis?” ucapan Yeon Joo terdengar bergetar. Terlihat dengan jelas ia menahan tangisnya.

“Apa maksudmu?”

“Lupakan saja, kau tak peduli bagaimana perasaanku setelah kau pergi, ya kan?”

Yeon Joo berusaha bernafas dalam-dalam seolah tidak ada lagi pasokan oksigen yang memenuhi paru-parunya.

“Aku tidak mengerti kenapa ayah memberiku seorang bajingan sepertimu untuk menjadi suamiku. Aku tidak berpikir ayah menyingkirkan Jonghyun hanya untuk orang yang hanya bisa bermain dengan wanita lain dibelakangku, dan bodohnya aku menerima tawaran kontrak semumur hidup yang konyol ini, orang pasti berpikir jika aku sudah gila.” Lanjutnya.

“Jika saja aku tahu lebih awal kau begini, aku tak pernah mau menerima tawaran ibu untuk menikah denganmu.” Yeon Joo mengoceh dengan airmatanya yang terlanjur mengalir, ia tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Orang-orang yang berlalu lalang itu perlahan-lahan mendekat dan menikmati tontonan dramatis yang disuguhkan secara gratis.

“Kenangan menyakitkan dan tak terlupakan itu…” Yeon Joo tertunduk dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Kenapa hatinya malah sesakit ini? Dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap laki-laki itu. Mereka hanya terikat sebatas aku milikmu dan kau milikku, bukan aku mencintaimu karena kau mencintaiku.

Jun Hong mendekat dan ingin memeluk gadis itu untuk menenangkannya tapi Yeon Joo dengan airmata yang berlinang menepis dan mendorong tubuh lelaki itu menjauh darinya. Ada perasaan yang membuatnya merasa terusik.

“Aku takkan pernah membuatnya bersamamu.” Lanjutnya. Suaranya parau, ada sesuatu yang mencekat tenggorokannya.

“Yeon Joo-ya, aku punya alasan untuk ini.” Jun Hong membela diri. Yeon Joo tak menghiraukan kalimat Jun Hong barusan, ia lebih fokus menatap lekat-lekat gadis disamping Jun Hong yang menggenggam tangan suaminya dengan erat tepat didepan netranya.

Gadis itu, yang terus tertunduk tak berani memandangnya, ingin sekali Yeon Joo melayangkan sebuah tamparan ataupun makian dan memperiangatkannya agar ia tidak mengganggu suaminya. Agar Jun Hong tidak pernah pulang malam lagi, agar ia bisa menghabiskan liburannya yang tidak lama hanya dengan Jun Hong, mendengarkan suara deburan ombak dan memeluknya.

Yeon Joo menyeka air matanya, dia menyadari tidak ada artinya lagi ia menangis karena laki-laki itu tidak mau pindah kesisinya.

“Aku hanya akan memberikanmu pilihan…” Yeon Joo menggantungkan kalimatnya, membuat Jun Hong menatapnya lekat-lekat karena penasaran.

“Aku atau dia?”

Pilihan yang sulit, setidaknya untuk Jun Hong.

“Yeon Joo-ya!”

“Aku hanya perlu mendengar jawaban dari pertanyaanku,”

“Maafkan aku, Yeon Joo.” Perlahan hatinya pilu. Sebuah benda keras dan berat menghimpit hatinya dan sebuah benda runcing mengoyak jantungnya hingga ia tidak mampu untuk bernafas lagi. Kejadian ini berada diluar kendalinya. Seperti dalam sebuah drama, apa ia harus menjadi orang ketiga yang dipaksa harus berhenti mencintai si tokoh utama dan membiarkannya bahagia bersama si tokoh utama wanita? Itu tidak boleh terjadi, Bagaimanapun Jun Hong adalah miliknya. Ia tidak ingin menjadi orang ketiga yang akan dilupakan ketika cinta si tokoh utama bersatu. Menjadi pihak yang menyedihkan, penuh airmata dan sendiri.

Yeon Joo tidak mampu menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya cepat.

Ini tidak boleh terjadi…

Yeon Joo mengalihkan pandangannya kemudian mendesah pelan, ia tidak ingin Jun Hong melihat airmatanya mengalir lagi. Ia terlalu malu untuk memohon laki-laki itu tinggal disisinya secara terang-terangan. Lagi dan lagi.

“Apa kurangku? Apa hebatnya perempuan itu?”

“Ini bukan karena masalah itu, Yeon Joo-ya.”

“Jika bukan, jelaskan padaku!”

“Aku tidak bisa,”

“Jun Hong-ah…”

Tangis Yeon Joosemakin menjadi mengundang beberapa orang untuk mengarahkan pandangannya pada ketiga orang didepan pintu pemberangkatan. Bahkan, antrian orang yang berjejal masuk ke pintu pesawat pun berhenti karena mereka.

“Maaf,”

Laki-laki itu berbalik dan menghampiri gadis yang sebaya dengan mereka, menggenggam tangannya dan membawanya masuk melintasi pintu pemberangkatan. Yeon Joo hanya melihatnya dengan cucuran airmata dipipinya. Ia tidak percaya suaminya mampu melakukan hal yang sebegitu menyakitinya.

“Tinggalah disisiku… Jun Hong-ah!” teriaknya. Dua orang petugas menghalanginya untuk masuk lebih dalam kelorong berdinding putih itu.

Hatinya sedikit lega ketika melihat tubuh pria jangkung itu berbalik dan berjalan kearahnya setelah membisikkan sesuatu pada Soo Jin. Laki-laki itu memeluk tubuh Yeon Joo erat serta mengelus punggungnya dengan lembut. Yeon Joo sedikit yakin suaminya tidak akan meninggalkannya secara memalukan seperti ini karena ia tahu Jun Hong sebenarnya juga mencintainya.

“Maafkan aku, Yeon Joo-ya! Kau bisa menghukumku setelah aku kembali.” Gadis itu meronta, melonggarkan pelukannya dengan kasar dan menatap Jun Hong dengan matanya yang berkilat marah. Apa ia sedang dipermainkan?

“You’re jerk, Jun Hong!”

Makian. Dia hanya bisa merangkai kata itu. Hanya itu yang ada dipikirannya saat ini.

“Aku tidak melarangmu melemparkan sejuta sumpah serapah padaku. Katakan saja, jika itu melegakan hatimu. Aku pergi.”

Jun Hong menepuk bahu Yeon Joo pelan, melemparkan sebuah senyuman tipis, berbalik dan berjalan pergi menghampiri wanita yang masih menundukkan wajahnya ditengah-tengah lorong terang itu.

Yeon Joo membungkam mulutnya sendiri, ia takut isak tangisnya semakin keras dan mengundang lebih banyak orang lagi. Ia berbalik dan berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu. Semakin lama langkahnya semakin cepat dan pada akhirnya ia berlari keluar dari bandara, memasuki mobilnya dan memacunya cepat saat menyentuh jalan raya.

Ia mengumpat didalam hatinya yang sekarang penuh luka. Jun Hong benar-benar meninggalkannya? Hanya untuk gadis pelayan cafe yang merupakan cinta pertama Jun Hong?.Mereka sudah berkencan lebih dari dua tahun sebelum sebuah perjodohan dan pernikahan itu terjadi. Dan itu artinya wanita itu telah terlebih dulu merebut hati Jun Hong ketimbang dirinya. Dan itu berarti ia hanya sebagai variabel pengganggu dalam sebuah eksperimen yang harus disingkirkan. Hanya seperti itu harga dirinya dimata Jun Hong?

“Jun Hong-ah, Aku belum kalah. Kau harus kembali padaku.”

 

Finish

NB: Ini adalah ficlet line pertama dan The Choice menjadi part pertama untuk sesion Heartstrings. Happy reading^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s