Still You

Still You Cover

Choi Jun Hong | Bang Yongguk | Choi Yeon Joo | Romance| PG-15 | Oneshoot | Yuan Fei’s Storyline

-Still You-

“Tidak ada alasan lain. Semua ini karena aku masih mempertahankanmu dalam hatiku.”

Daun berguguran dan udara semakin dingin. Hamburan orang yang berlalu lalang berjalan sangat cepat, cuaca hari ini mengharuskan mereka untuk segera bergegas sampai dirumah mereka yang hangat. Aku memandang langit Seoul di sore hari, betapa mempesonanya warna jingga kemerahan itu. Bahkan jika kubandingkan dengan hidupku, langit itu seolah mengejekku hidupku yang begitu menjijikan ini. Kekacauan hidup yang kusebabkan membuatnya tidak memerlukan kata mempesona lagi, hanya dibiarkan suram begitu saja. Lagipula, aku sudah kehilangan tujuanku untuk hidup setelah kehilangan banyak hal berharga.

Aku berjalan mengikuti arus pejalan kaki, mataku menatap sendu seseorang yang berada di layar elektronik yang terpasang diatas gedung. Aku tersenyum kecil, wanita itu ternyata masih sama. Ia terlihat cantik saat rambutnya tergerai ditambah senyumannya yang terkesan imut dan innocent. Tawaku keluar begitu saja, memuji otakku yang masih mengingat begitu jelas bagaimana ia tersenyum, bagaimana suaranya dan bagaimana hangat tubuhnya saat aku memeluknya. Kukira aku tidak pernah bisa mengingatnya lagi ketika aku menyuruhnya pergi dari hidupku.

Meski hal itu sudah lama berlalu dan aku yakin dia pasti sudah melupakan aku. Pria bajingan yang sudah menghancurkan hidupnya, Apa masih pantas dipertahankan didalam hati? Tapi entah kenapa aku tetap tidak pernah bisa berhenti untuk mencintai wanita itu. Dulu aku masih terlalu muda untuk mengerti, untuk menerima setiap kesalahan yang kulakukan terlebih lagi aku takut kehilangan tempat yang bisa menampung bakatku. Aku tidak bisa meninggalkannya sebagai masalalu, tapi aku tidak bisa meletakkannya pada kotak harapanku. Dia sekarang terlalu jauh, dan aku tidak bisa lagi menggapainya semudah dulu.

Aku menghentikan langkahku dan memilih untuk masuk disebuah cafe, mengambil tempat duduk paling pojok dekat dengan jendela besar. Seorang gadis menghampiriku dan menyerahkan segelas latte yang masih mengepulkan asap tipis.

“Kukira kau sudah lupa tempat ini,” Ujarnya. Aku hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandanganku dari segerombolan orang yang menunggu lampu berubah warna untuk menyeberang.

Beberapa detik kemudian, aku mengalihkan pandanganku dan menatap gadis bermata sayu didepanku. Merasa sedikit tidak enak mengabaikannya yang sudah menyambutku dengan hangat. Ia terlihat begitu gembira karena aku datang. Selama ini tidak ada yang memperdulikan aku selain gadis itu. Gadis yang mengerti bagaimana seorang Choi Jun Hong setelah ia memilih sebuah keputusan gila.

“Kau belum bertemu dengannya?” tanyanya penasaran.

“Aku tidak berniat menemuinya,” jawabku. Dia terdiam sembari memandangi tanganku yang bermain dimulut gelas.

“Kenapa?” Gadis itu tidak pernah lepas dari rasa penasarannya. Ia selalu memiliki pertanyaan yang sulit kujawab.

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum. “Karena aku tidak ingin menjadi bebannya,”

“Dia juga beban untukmu,” sahutnya cepat.

“Benarkah?”

Aku melihat gadis itu hanya mengangguk kecil dan menelisik raut wajahku yang sendu sebelum aku mengalihkan pandanganku kembali kearah luar.

“Han Soo Jin! Aku bukan membayarmu untuk mengobrol dengan pelanggan!” teriak seorang pria muda yang baru saja keluar dari pintu bertuliskan “Staff Only”. Mendengar hal itu Soo Jin langsung berdiri dan meninggalkan mejaku tanpa sepatah kata apapun. Aku menyesap latte-ku perlahan seraya menikmati suasana tenang cafe itu.

Pintu cafe terbuka dan dentingan lonceng kecil berbunyi membuat perhatianku tersita kearah pelanggan yang baru saja datang. Aku menahan nafas ketika suara riuh orang-orang yang mulai membicarakan orang yang baru saja memasuki cafe dan memesan beberapa minuman. Ia menoleh dan membagi senyum kepada pelanggan cafe yang menyapanya.

Ia memutar pandangannya dan menemukan tubuhku telah kaku dibangku itu. Ia memberikanku sebuah senyum singkat dan berjalan dengan pelan mendekatiku. Gadis itu mengingatkanku akan senyumannya yang dulu hanya diperuntukan untukku. Senyuman yang membuat rasa lelahku menguap serta senyuman yang membuatku selalu menyambut hari esok tanpa beban. Tapi aku sadar, jika senyumannya sekarang… bukan lagi milikku. Milik orang lain yang lebih mencintainya, melebihi diriku sekarang.

Aku memberinya sebuah senyuman kecil setelah ia benar-benar duduk dihadapanku. Wajah yang tidak asing lagi. Terlihat muda dan segar. Parfum familiar yang perlahan menguar benar-benar menamparku. Yeon Joo sangat berbeda sekarang. Dia menjadi lebih glamour dengan pakaian design dari perancang busana terkenal. Dia tidak lagi memakai pakaian second hand bermerek milik fashionista Korea yang biasa dijual online. Dulu, dia selalu berburu pakaian para konglomerat itu setiap pulang kerja.

“Lama tidak bertemu, Choi Jun Hong-ssi.” Ujarnya berusaha ramah. Aku menjadi canggung ketika ia meletakkan satu kata formal dibelakang namaku. Ini pertama kalinya Yeon Joo memanggilku dengan embel-embel kata itu.

“Selamat atas pernikahanmu, Yeon Joo-ssi,” balasku canggung.

Ia terlihat bahagia dan malu-malu saat aku menyinggung pernikahannya yang baru saja digelar satu minggu yang lalu dan menjadi pernikahan terheboh tahun ini.

“Terimakasih,”

Aku melihatnya melepaskan sebuah cincin dari tangan kirinya. Sebuah cincin dengan berlian berwarna biru kecil, aku jadi teringat bagaimana aku bertengkar dengan Daehyun hanya untuk memutuskan warna yang cocok untuk gadis itu dan pada akhirnya ia menyerahkannya kembali padaku. “Aku rasa aku perlu mengembalikan ini. Aku sudah mencarimu kemanapun dan saat ini akhirnya kita bertemu disini.” Ujarnya hati-hati. Aku menatap cincin dan gadis itu bergantian.

“Ah! Ya, kau mengembalikannya,” ujarku pelan. Wanita itu hanya tersenyum.

Aku tidak menyangka benda itu masih ada. Kupikir dia sudah membuangnya, sebuah kenangan menyakitkan yang tersimpan dalam cincin itu.

“Itu sudah lama, jadi wajar jika kau lupa.” Balasnya.

Soo Jin mengantarkan pesanan Yeon Joo dan gadis itu pamit permisi setelah mengantarkan pesanannya.

Suara bel berdenting kembali dan pintu cafe terbuka. Seorang anak kecil berlari kearah Yeon Joo dengan riang diiringi seorang pria tinggi berkulit putih yang berjalan dibelakang anak itu.

“Eomma,” panggilnya dan Yeon Joo menoleh.

“Yongjun-ah,” gadis itu berlutut mensejajarkan tingginya dengan anak laki-laki yang kira-kira berusia empat tahun dan membelai kepala anak itu, tak lupa membenarkan jaket tebal yang membungkus tubuh mungil anak itu.

“Kau sudah selesai?” tanya laki-laki yang sangat familiar untukku. Pria itu tersenyum kecil kearahku. Yeon Joo mengangguk lalu berdiri dan menyerahkan anak itu pada Yongguk. Laki-laki yang baru saja dinikahi Yeon Joo satu minggu lalu.

Aku mengalihkan pandanganku keanak kecil digendongan Yongguk. Apa itu anak mereka? Kenapa sudah sebesar ini?. Sesaat mengungkit tentang hal itu, masalalu yang hampir usang tiba-tiba menyentakku. Memberikan potongan informasi yang tidak bisa di artikan sebagai jawaban maupun sebuah pertanyaan.

“Yeon Joo-ya, mungkinkah….” Aku menahan nafas seraya menunggu jawaban darinya. Aku mengingat saat terakhir kali Yeon Joo mengaku padaku jika dia hamil dan aku menyuruhnya pergi karena aku belum bisa menerima seluruh ketidaksengajaanku. Aku masih terlalu muda waktu itu.

Dan gadis itu mengangguk. “Karena ayah Yongjun tidak pernah mau dipanggil ayah ia lebih memilih orang lain untuk dipanggil ayah. Karena pria yang dulu kucintai tidak mau menanggung bebannya maka orang lain memilih untuk menggantinya memikul beban itu.”

Yeon Joo berjalan mengekori Yongguk yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan cafe setelah mengatakan itu. Aku yang dituding kesalahan hanya bisa melihat Yeon Joo yang mengamit lengan Yongguk dan berjalan menyusuri jalanan Seoul dibalik jendela tanpa berbuat apapun untuk memperjelas status Yongjun.

Mataku memanas. Aku menahannya dengan menatap keatas. Dadaku sesak, aku begitu bodoh menelantarkan mereka berdua sementara aku hidup dengan nyaman. Dan sekarang aku malah iri pada mereka yang memiliki hidup bahagia. Aku iri pada Yongguk yang berhati besar dan mau menerima anakku sebagai anaknya, mengambil alih posisiku yang seharusnya bertanggung jawab pada anak itu. Aku berlari keluar, tidak bisa lagi mengunci langkahku ditempat itu.

Pandangan mataku menemukan punggung mereka yang berjalan semakin jauh. Pemandangan itu seolah menyindirku tentang kebahagiaan. Aku hanya bisa melihat kebahagiaan itu dari jauh karena aku tidak berarti apa-apa untuk menjadi bagian itu. Langkah beratku tidak pernah bisa menghentikan mereka, terlalu sulit untuk menampakan diri pada anakku karena rasa bersalah ini memenjarakanku.

“Tidak ada alasan lain selain aku masih mempertahankanmu dalam hatiku, Yeon Joo-ya. Aku masih mencintaimu. Dan maaf karena dulu aku masih terlalu muda untuk mengerti tentang hal itu.”

Aku membiarkan airmataku menetes begitu saja melihat mereka yang bahagia. Setidaknya sudah cukup bagiku, dan aku berterimakasih pada gadis itu karena sudah memperlihatkanku pada seorang anak yang tampan. Semua orang pasti akan membutuhkan mesin waktu jika ia mengetahui sebuah kebenaran yang membuat mereka merasa kecewa hidup pada saat ini dan salah satunya adalah aku, aku ingin memiliki mesin waktu dan kembali ke masalalu untuk menerima keadaan dan membiarkan gadis itu berada disisiku. Jika saja aku bisa, sekarang bukan Yongguk yang menggendong anak itu, tapi aku sebagai ayahnya dan Yeon Joo akan mengamit lenganku seperti itu dengan hangat berjalan menyusuri jalanan Seoul diiringi decakan kekaguman orang yang melihat kebahagiaan kami.

END

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s