The Long Road

The Long Road Cover

Jung Taekwoon (Leo) | Byul (OC) | Romance | Teen | YuanFei’s Storyline

 

Pernah berpikir melintasi jalan lurus tanpa kelok?

Membosankan. Tidak menantang. Terlalu tenang. Biasa saja.

Sayangnya, aku sudah terlanjur melewati jalan lurus yang tak berkelok dan membosankan itu lebih dari empat tahun. Rasanya ingin menyerah, tapi setiap kali aku melihat wajahnya muncul ditelevisi aku selalu ingin mencintainya lebih dari mereka yang bersorak untuk penampilannya.

Aku selalu berharap jalan panjang yang lurus ini akan berujung pada tempat indah yang selalu kubayangkan. Tempat dimana kau bisa memulai semua yang baru disana. Kami akan melalui jalanan yang penuh kelopak bunga mawar bertebaran dan tersenyum penuh kebahagiaan.

Tapi ada hal lain yang membuatku takut untuk melalui jalan ini. Aku selalu membayangkan bagaimana jika tiba-tiba jalan ini berujung pada jurang yang sangat dalam, dimana kau tidak bisa membayangkan apa yang ada dibawah sana? Setiap kali kami merenggang, aku takut aku cepat menemukan ujung jalan ini.

Aku takut dia lelah mencintaiku.

Aku takut cinta yang kuberikan tidak cukup untuk membuatnya selalu mengingatku setiap hari lalu meninggalkanku lewat satu pesan singkat dan kita berpisah begitu saja.

Selama ini aku memahami kesibukannya, aku selalu menunggunya kembali dan mengetuk pintu rumahku walaupun itu tidak sering. Merengek untuk secangkir latte dan beberapa camilan manis yang bisa menemaninya menonton film.

Aku rindu saat-saat dimana dia tidak sibuk dengan dirinya sendiri.

Seandainya aku tidak berkencan dengan orang seperti itu, aku bisa menikmati kencan setiap malam minggu dan tidak menghabiskan waktu lebih banyak dengan pekerjaan saat akhir pekan. Dulunya, dulu sebelum dia melakukan pertunjukan pertamanya, kami sering menghabiskan waktu bersama. Menonton film, rekreasi singkat keluar kota dan bermain air di taman air yang sangat menyenangkan. Dia bahkan memiliki waktu untuk mengangguku ditengah malam dengan teleponnya. Sedikit kecewa kenapa waktu semanis itu berakhir dengan cepat.

Setiap kali melihatnya kembali menghiasi layar kaca dan kerja kerasnya dihargai dengan trofi dari berbagai stasiun televisi, aku tidak merasa sia-sia ataupun kecewa membuang waktu yang seharusnya kuhabiskan bersamanya.

Kadang kala rasanya iri sekali. Orang-orang yang bersorak untuknya bahkan memiliki waktu yang lebih panjang untuk bertemu dengannya daripada aku. Pria itu bahkan tahu bagaimana membahagiakan orang-orang itu daripada aku karena mereka tahu hal apa yang bisa membuatnya tersentuh sampai airmatanya mengalir. Sorakan suara mereka selalu membuat pria itu merasa bersyukur dan merasa dicintai.

Kuletakkan ponsel setelah nada sambung itu tak berhenti berdering. Menghubunginya sangat sulit akhir-akhir ini. Aku sedikit khawatir makanya aku memberanikan diri menemuinya tapi sudah lebih dari dua jam aku menunggunya disini. Terpekur dibelakang kemudi seperti orang bodoh yang tidak memiliki kegiatan untuk menghabiskan waktunya. Aku tidak yakin kenapa orang itu memiliki ponsel yang selalu tidak bisa dihubungi. Entahlah, dia sengaja mengerjaiku atau mencoba membuatku kesal dengan kelakuannya yang disengaja. Aku tidak peduli. Aku sudah menahannya sejak beberapa minggu ini, tidak ingin sesuatu yang selalu kucoba untuk kupadamkan meledak tiba-tiba.

Aku melihat mobil hitam itu melintasi mobilku dan berhenti tepat di depan pintu apartemen. Saat pintu mobil itu terbuka, sekumpulan pemuda keluar dari sana dan berjalan memasuki apartemen dengan wajah letih mereka. Mataku menemukannya, dengan hoodie hitam dan beanie hat senada dia terlihat berjalan mengekor dibelakang mereka.

Pria itu sedikit terkejut saat aku membunyikan klakson mobil dan mengarahkan sorot lampu mobilku kearahnya. Dengan tangan kanan yang mencoba menepis silaunya cahaya yang menusuk kemata, dia berjalan kearah mobilku tanpa suara.

“Ya! Kenapa kau kesini?” ujarnya terlihat terkejut setelah aku menurunkan kaca mobil. Aku menggelengkan kepala dan tertawa tanpa suara. Dia bahkan tidak mau masuk ke mobilku dan bicara sebentar tentang kita. Entah kenapa aku langsung naik pitam saat mendengar pertanyaannya. Harus kujawab apa ketika pacarmu sendiri bertanya kenapa kau datang mengunjungi tempatnya tinggal?

“Aku merindukanmu.”

Itu bagus.

Pria itu akhirnya menarik pintu mobil dan masuk kedalam. Punggungnya langsung menempel pada sandaran kursi penumpang kemudian menghela nafas berat sambil memijat pelipisnya. Aku bisa melihat wajah tidak senangnya ketika tahu aku berkunjung kesini dengan lancang. “Aku tidak bisa menghubungimu seminggu ini, jadi-”

“Jadi tunggulah aku meneleponmu. Aku sudah bilang itu padamu, aku sibuk.”

Belum sampai aku menyelesaikan kalimatku, pria itu menyela dan memarahiku dengan nada ketus khasnya. Menekankan kata sibuk yang perlahan membuat hatiku sakit.

“Aku juga sibuk. Aku seorang wanita karier. Tapi apa aku melupakanmu?”

Pria itu terdiam, sekali lagi dia menghela nafas panjang yang membuatku tambah kesal. Mengirimi satu pesan sehari apa itu begitu sulit? Apa tanganmu itu selalu bekerja dan tak beristirahat? Apa kesibukan sekejam itu padamu?

“Aku akan menghubungimu,” ujarnya pelan. Pria itu hampir menyentuh tuas untuk membuka pintu mobil. Dia berencana untuk keluar dan tak mau membicarakan tentang kita seperti yang kuharapkan. Dia tidak tahu saat ini aku membutuhkannya.

“Hari ini aku hanya tidak mau sendiri.” Aku berharap kalimatku itu mampu mencegahnya untuk melangkah keluar. Tapi nyatanya tidak, dia hanya diam dan keluar dari mobilku meninggalkanku dengan langkah panjang yang semakin jauh.

“Taekwoon!” seruku. Baiklah, selama ini aku sudah mengalah. Aku tidak mau kau memperlakukanku seperti ini. Aku juga ingin diperlakukan seperti kau memperlakukan penggemarmu, kenapa waktuku untuk bertemu denganmu begitu singkat dan menyakitkan?

“Kita bicara sebentar,huh?”

Aku menarik lengannya, menahannya untuk tidak berjalan terlalu jauh karena aku tidak bisa memasuki apartement itu dengan sembarangan kecuali aku mau menghancurkan kariernya yang selama ini sudah ia bangun dengan keringat dan airmata. Tapi tangan itu, yang selama ini menggenggam tanganku, kali ini tangan itu menepis kedua tanganku dengan kasar. Sangat kasar, sampai-sampai aku terhuyung kebelakang. Sedetik kemudian aku mematung, menatap matanya yang langsung menatapku khawatir.

Aku mengangguk pelan. Mungkin aku datang di waktu yang tidak tepat. Dia mungkin sedang lelah dan benar-benar tidak bisa diganggu. Berpikir positif adalah kelebihanku. Hanya itu yang bisa kuandalkan untuk menepis emosiku jauh-jauh. Aku tidak ingin mengacaukan hubungan yang sudah sangat jauh ini. Hanya saja hal-hal buruk yang selama ini kubuang jauh-jauh mulai terpikirkan , aku tinggal menunggu keberanian untuk mengatakannya.

“Aku rasa kau benar-benar lelah.” Ujarku kemudian berlari kedalam mobil. Aku mendengar langkahnya tepat dibelakang langkahku. Tapi langkah itu tidak panjang, hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula, dia berhenti setelah seseorang memanggilnya dari kejuahan. Sebuah seruan peringatan untuk Taekwoon agar tidak mengejarku teralu jauh dan menimbulkan masalah di ruang publik. Pria itu masih berdiri lumayan jauh dariku saat aku masuk kedalam mobil. Terakhir aku melihatnya berdiri bersama seorang pria muda yang terlihat kesal, pria itu berusaha berbicara sesuatu padanya, pembicaraan itu berakhir setelah Taekwoon mengacak rambutnya frustasi. Mata elangnya hanya bisa melihat mobilku berlalu. Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah itu dari kaca spion mobilku.

Aku menyadari jalan ini tidak lagi lurus seperti dulu. Aku baru saja memasuki kelokan curam dengan kecepatan tinggi. Jalan lurus itu berubah tak terkendali, kelokan itu cukup tajam sampai aku tidak bisa menghentikan lajuku sendiri. Aku berharap aku tidak menabrak apapun dan selamat sampai aku menemukan jalan yang lebih baik dari ini. Tidak masalah jika aku harus masuk kedalam badan jalan lurus yang membosankan itu lagi.

Aku hanya berbaring ditempat tidur setelah sampai dirumah. Mengabaikan kertas-kertas kerja yang rencananya akan kuselesaikan setelah bertemu dengan pria brengsek itu. Persetan dengan omelan direktur besok pagi. Aku takut aku mengacaukan hasil kerjaku setahun ini hanya karena dia.

Pandanganku melihat kesekeliling, kulihat lagi ruangan yang sudah tidak memiliki furniture ini. Tiba-tiba aku merasa frustasi, aku bahkan tidak bisa memberitahunya. Aku tadi berencana datang untuk itu tapi aku malah melupakanya karena kalimat pertamanya yang membuatku begitu jengkel.

“Dia datang.” Ujarku ketika tombol kombinasi diluar rumah berbunyi beberapa kali dan aku mendengar seseorang masuk kerumah dengan terburu-buru. Terlihat sekali dari kakinya yang menyandung beberapa sisa furnitur yang sengaja kutinggal.

“Byul?!”

Ta-da.

Dia melihatku bersandar di sandaran tempat tidur sembari memandanginya yang berdiri di ujung pintu dengan wajahnya yang kepalang panik.

“Kenapa dengan rumahmu? Apa kau akan pindah?”

Wah, cepat sekali dia tahu. Mungkin karena dia tidak menemukan sofa panjang dan televisi diruang tengah, dan menemukan koleksi lukisanku yang sudah kuturunkan dan kubungkus rapi.

“Eum.” Jawabku singkat, kupalingkan wajahku untuk meraih ponsel yang tiba-tiba berbunyi. Tidak benar-benar tertarik dengan keberadaannya.

“Kenapa?” tanyanya panik.

“Perusahaanku menempatkanku ketempat yang lebih baik.” Sahutku, aku tidak melihat bagaimana ekspresinya mendengar hal itu karena mataku sibuk membaca pesan singkat dari rekan kerja yang memintaku mengirimkan laporan keuangan yang sudah kuselesaikan sore tadi.

“Dimana?”

“Jepang.”

“Apa? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Ini belum sampai satu hari saat kau mengatakan kau sangat sibuk. Aku yakin kau tidak melupakannya secepat itu.” Sahutku kesal.

“Byul…”

Aku menyibakkan selimut dan beridiri didekat jendela, menerawang jauh jalanan yang penuh sorot lampu warna-warni.

Aku berusaha meminimalisir kegelisahanku sendiri. Berusaha meluruskan pikiranku untuk tidak mengajaknya mengakhiri ini segera. Pria itu akan terus memaksaku membuka suara sampai dia menemukan jawaban yang ia cari. Dia tidak peduli lawan bicaranya senang atau tidak dengan semua pertanyaannya.

“Aku akan berangkat besok lusa. Sejak seminggu yang lalu aku sudah mencoba menghubungimu tapi selalu kau alihkan. Kita sudah sepakat untuk tidak menganggu pekerjaan satu sama lain, jadi aku menahannya tapi kau sama sekali tidak peka.”

Saat aku memutar tubuhku, Taekwoon sudah duduk di tempat tidurku. Memijat keningnya yang mungkin saja terasa pening. Wajahnya sefrustasi seperti empat tahun yang lalu sewaktu dia dipusingkan memilih lagu untuk survival show yang akan menerbitkan namanya.

“Kau punya dua hari untuk bersamaku.”

“Apa maksudmu dua hari?”

“Aku ingin putus. Ini mungkin terdengar gila, tapi aku tidak bisa melakukannya lagi dengan jarak sejauh itu, Jung.”

Kalimat itu membuatnya tercengang termasuk aku sendiri. Tidak mengerti kenapa mulutku itu begitu mudah mengucapkan apa yang sedang kupikirkan. Pria itu menatapku, tatapan itu berubah sangat tajam sehingga nyaliku menciut. Aku berusaha menghindari kontak mata, tapi mata ini terlanjur terpaku padanya. Matanya bergerak gelisah diiringi kemarahannya. Ada banyak tanda tanya dan penyesalan saat aku juga menyambut tatapannya itu dengan kebungkaman.

Aku melihat sedikit ujung jalan ini saat dia menganggukan kepalanya untuk pertama kali. Tidak tahu apa artinya, tapi otak dan perasaanku mengartikannya sendiri.

Laju yang tak bisa kukendalikan itu akhirnya membuat mobilku menembus pagar pengaman, aku bisa melihat jurang dalam yang tak terlihat pangkalnya itu. Tempat yang selama ini selalu kutakuti. Aku tidak tahu berapa detik lagi mobil dengan kecepatan yang tak terkendali itu masuk kedalam sana. Aku hanya bisa memejamkan mata dan mulai terisak.

Aku tidak mau meninggalkanmu, Jung! Tapi keadaan yang memaksaku melakukannya.

Aku mungkin terlalu serakah. Tapi, sebelum mereka ada, aku adalah penggemar pertamamu. Aku punya bahu yang selalu bisa menjadi tempatmu menangis tanpa merasa malu. Aku selalu menjadi perban luka saat seseorang melukai perasaanmu dengan mulutnya yang meremehkan talentamu. Karena bagiku ada begitu banyak alasan kenapa aku harus ada disampingmu bagaimanapun keadaanmu. Sayangnya, dimatamu bukan seperti itu tempatku. Aku hanya sebatas special yang biasa saja. Aku merasakannya. Sejak kau mulai menaiki tangga yang lebih tinggi sebagai seorang idola.

“Aku mencintaimu, Byul.”

“Tapi kau menyakitiku, Jung.”

“Apa kau sadar apa yang kau katakan?” ujarnya.

Aku terdiam, menyusuri wajahnya yang sekarang pucat bersemu-semu gelisah yang sesekali berubah menjadi raut emosi yang teredam perlahan-lahan. Aku menahan tanganku sendiri yang sudah tidak tahan untuk menyentuh pipinya ketika airmata jatuh dari salah satu matanya. Nyatanya, aku hanya bisa mematung sembari meremas tanganku kuat-kuat.

Kebungkamanku itu membuatnya terlihat tidak nyaman dengan perasaanya. Pria itu sampai-sampai tidak bisa menopang kepalanya sendiri. Aku melihatnya menjatuhkan diri diatas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarku dalam diam. Mata elang itu perlahan berkaca-kaca lagi dan airmata mengalir tanpa bisa ia tahan lagi.

“Kau begitu menginginkannya?” tanyanya dengan suara yang berubah parau. Ada begitu banyak pemikiran yang menyelubungi otaknya saat ini. Tentang keputusan atas pertanyaanku tadi.

“Aku tidak tahan lagi, Jung.” Jawabku dingin. Aku tahu kalau kalimatku ini akan menohok hatinya. Tapi aku tidak bisa berbicara banyak. Disisiku yang lain, aku ingin memiliki pria yang bisa memperhatikanku seperti yang dimiliki wanita lain.

Ponselku berdering. Layarnya menampilkan pop-up pesan dari rekan kerjaku yang memintaku untuk segera mengirimkan laporan keuangan yang tadi dimintanya. Aku sadar baru saja melalaikan sebuah tugas penting. Kakiku akhirnya meninggalkan jendela besar yang sejak tadi menjadi tempatku, berjalan menuju meja kerja yang penuh dengan kertas kerja yang berserakan untuk mengirim pekerjaanku yang tertunda. Aku meninggalkannya sendiri untuk memikirkan baik-baik keputusanku. Aku hanya berharap hasil yang terbaik dari pertimbangannya.

Aku tidak memaksanya meninggalkanku. Aku hanya ingin pergi mencari apa yang sangat kubutuhkan saat ini.

Saat pekerjaan mencoba menyibukkanku, aku melihatnya bangun dari tempat tidur dan berjalan kearahku. Tangan kanannya memutar kursiku dengan kasar lalu kedua tangannya ia tumpukan pada tangan kursi. Dia sengaja mendekatkan wajahnya padaku, memangkas jarak dan mengunci pandanganku.

“Jung?” bisikku. Wajahku pasti konyol sekali sekarang. Aku hampir terlonjak melihat kelakuannya yang tidak biasa.

“Apa kau begitu mengingikannya?” Tanyanya lagi lebih serius dengan suaranya yang lumayan pelan hampir tak terdengar. Aku melihat ada keputusasaan didalam matanya yang masih sembab.

Aku menghela nafasku perlahan dan menggeleng pelan.

“Kenapa Byul? Kau tidak bisa menungguku sedikit lagi?”

Aku menatapnya dalam diam.

“Apa kau tahu hal terbesar yang kukorbankan selama dua puluh enam tahun?”

Aku menggeleng pelan. Berusaha tidak terlalu peduli dengan apa yang dia katakan padaku. Ponselku terus saja berdering beberapa kali. Sebenarnya itu merusak suasana tapi Taekwoon sama sekali tak terganggu dengan itu.

“Kehidupan normalku.”

“Aku tahu kau sangat menginginkan sebuah kencan seperti yang orang lain lakukan. Tapi aku tidak bisa memberikannya padamu. Setidaknya kau mau menungguku sedikit lagi sampai aku benar-benar berani melakukan apa yang selama ini kau impikan. Apa kau tidak bisa melakukannya? Menungguku?”

“Kau tidak mau melepasku?” Suaraku menggema.

“Aku tidak ingin kehilanganmu, Byul!”

Kedua tanganku terangkat keudara dengan terbuka. Menempel pada sisi wajahnya yang berseberangan. Airmatanya meluncur begitu saja mengenai tanganku. Dia benar-benar terlihat terluka dengan keputusanku. Sudah sejak tadi aku menahan tanganku sendiri untuk menyentuh wajahnya, tapi sekarang tidak lagi. Mau gila rasanya melihatnya terluka sendiri. Pria itu menutup matanya, mulutnya bergumam agar aku tidak meninggalkannya dalam nada yang parau. Suara itu mengiris hatiku.

Kutarik wajahnya dan perlahan mendaratkan sebuah kecupan lembut dibibirnya yang kering.

“April Mob,” Ujarku kegirangan.

Pria itu terlonjak dari posisinya. Matanya seketika terbuka dan menatapku dengan emosi yang masih tersisa dalam dirinya. Dia berdiri dengan sisa-sisa tenaganya kemudian mengacak rambutnya kesal. Sesekali berteriak seperti orang gila. Aku hanya tertawa pelan sembari melayangkan kotak tisue kearahnya untuk menghapus airmatanya yang masih menggenang disudut mata.

Ini pertama kalinya aku melihat Taekwoon begitu sedih sekaligus terkejut. Ekspresi itu akan sangat sulit ditemukan. Sangat langka bahkan selama empat tahun kebersamaan kami, aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Dia, pada dasarnya bukan orang yang peduli pada orang lain. Tanyakan saja padanya, berapa kali dia mengetik pesan untuk mengatakan apa aku baik-baik saja? Aku jamin tidak lebih dari tiga kali selama empat tahun terakhir. Dia lebih suka mengetik “Ayo bertemu” untuk memastikanya sendiri.

“Keterlaluan. Apa kau sudah gila?”

“Bukankah pertanyaan itu seharusnya untukmu?” balasku sentimen.

Pria itu mendekat, mencengkeram tangan kursi kerjaku. Dia terlihat masih tidak terima dengan permainan ‘kecilku’ itu. “Apa yang kulakukan?”

“Kau menyentak tanganku.”

“Apa?”

“Kau kesal karena aku datang kesana?”

Pria itu berdiri melepaskan cengkraman tangannya dari sandaran tangan kursi. Menjauhiku setelah aku mengingatkannya pada insiden tak terduga yang mengawali perdebatan kami malam ini. Taekwoon berbaring ditempat tidurku, memeriksa ponselnya dengan wajah yang seperti biasa. Tanpa ekspresi.

“Semuanya bohong? Bagaimana dengan Jepang?”

“Itu bohong!” jawabku santai sesekali kulirik dia yang tidur dengan tenang diatas selimut berbulu yang sejak dulu selalu dibuangnya jauh-jauh karena selalu membuatnya bersin.

“Lalu rumahmu?”

“Aku menyewa tempat yang lebih baik dari ini.”

Hening. Hanya ada suara nada dering pemberitahuan dari ponselnya beberapa kali.

“Mianhae.”

“Kau bilang apa?”

Aku tersenyum kecil. Aku yakin mendengar dia mengatakan maaf ditengah kesibukanku mengirimkan berkas-berkas keuangan kepada rekan kerjaku. Dia tidak akan mengulanginya dua kali walaupun aku memintanya dengan merengek. Itu membuatnya malu.

Membayangkan betapa kelokan tajam itu lebih mengerikan ketimbang jurang yang selama ini lebih kutakuti. Kurasa jalan lurus tanpa kelok itu lebih baik walaupun terkadang membuatku bosan dan menderita karena tidak ada apapun dijalan itu yang membuatku begitu tertarik. Pria itu menempatkanku pada tempat yang benar-benar baik tapi kenapa aku malah meminta nerakanya?

Aku tidak akan mencobai hubungan ini lagi. Aku tidak ingin kehilangan pria itu. Biar saja kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk bertemu. Asalkan pria itu masih mencintaiku dari jarak yang tercipta antara kesibukan masing-masing.

Lalu pada akhirnya, semuanya akan indah pada waktunya. Akan ada waktu yang indah untuk membalas waktu yang hilang karena kami masih punya jutaan detik untuk membuatnya nyata.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s