Because I’m An Idol

Jung Taekwoon (VIXX’s Leo) | OC | Friendship |  YuanFei’s Storyline

“Kariermu sangat cemerlang, kau tidak tega membuang jerih payahmu begitu saja untuk melindungi kami. Aku yang salah disini, meninggalkan Byul bersamamu,”

Because I’m An Idol

Setiap kali dia sendiri, selalu saja masalah itu datang mengganggu pikirannya bahkan disaat dia membutuhkan waktu-waktu tenang untuk tertidur. Disaat hal menyebalkan itu sudah menguasai pikirannya, seperti tanaman yang disiram air garam, dia akan layu dan tak bersemangat untuk melakukan apapun termasuk hanya mengambil segelas air di nakas dekat tempat tidurnya. Dia akan membiarkan tenggorokannya kering hingga pagi hari dan akhirnya mengomel karena tenggorokannya sakit saat dia bangun. Namun kali ini pria itu-yang sejak sejam lalu hanya diam sambil memandangi atap ruang tidurnya-memilih menyingkap selimut dan menyambar mantel merah kecoklatan yang teronggok disofa kamarnya, dia berjalan pergi meninggalkan kamarnya, memacu mobilnya dengan cepat ketika poros roda menyentuh jalan raya.

Belum terlalu larut jika dia hanya mampir untuk segelas wishky dengan dua buah buah es batu yang mengambang, pikirnya. Dia perlu menyegarkan pikirannya kembali dan memanjakan telinganya menikmati musik klasik yang mengalun.

Bar bergengsi seantero Gangnam itu menjadi tujuan jalan-jalan malamnya kali ini, suara musik klasik sudah terdengar diparkiran basemen saat Taekwoon keluar dari mobilnya. Kaki panjang itu bergerak cepat menuju pintu masuk yang sudah berjelal orang-orang. Walaupun begitu, meja bar itu tidak terlalu banyak pengunjung, terhitung hanya sepuluh orang yang duduk menikmati aneka macam alkohol yang tersedia dibalik meja berbentuk lingkaran ini, sedangkan sebagian besar pengunjung memilih area privasi dengan bilik-bilik penyekat yang membatasi setiap ruang. Taekwoon memesan minuman favoritenya pada salah satu bartender yang sepertinya sudah sangat mengenalnya. Terlihat sekali dari basa basi mereka yang cenderung tidak canggung dan terkesan santai.

Gelas kristal berisi minuman itu disuguhkan kearahnya bersama piring kecil berisi bermacam camilan yang bisa disandingkan dengan alkohol tak lupa piring lain berisi irisan berbagai buah segar. Pria itu tahu kesukaan Taekwoon tanpa harus bertanya lagi. Rasanya menyegarkan sekali saat cairan keemasan itu menyentuh tenggorokannya. Sentuhannya seolah membebaskan pikiran penat yang membuatnya harus berlari kesini. Taekwoon hampir menghabiskan setengah gelas padahal dia baru duduk disini selama lima menit. Sadar bahwa dirinya datang kesini tidak bertujuan untuk mabuk, pria itu menahan dirinya sendiri untuk menghabiskan isi pada gelasnya dan hanya mengamati dua buah es batu yang mengambang didalam gelasnya dengan matanya yang sendu.

“Mau kuberikan yang lain?” tanya bartender muda yang sepertinya melihat Taekwoon tidak begitu puas dengan minuman yang dipesannya tapi pria itu hanya menggeleng kemudian memperlihatkan senyumnya yang sedikit dipaksakan.

“Gaya minummu masih sama,” Suara itu datang dari balik tubuhnya. Tapi Taekwoon tidak begitu peka dengan suara kecil itu, dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri yang mengkhawatirkan seseorang yang sudah sekitar dua minggu? Ya, sekitar dua minggu tidak menerima kabar darinya setelah pertemuan mereka terakhir kali.

“Tolong berikan aku minuman yang sama dengannya,” pinta seorang gadis sambil berjalan dan mengambil alih kursi tinggi disamping Taekwoon yang sekarang tergagap melihat gadis itu tiba-tiba sudah berada disampingnya. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kau akan selalu kesini saat kau merasa tertekan, aku pikir hari ini kau merasa seperti itu karena kau tidak ada di ruang latihan, setelah memeriksa jadwalmu ternyata tidak ada jadwal apapun dan Hakyeon juga memberitahuku jika kau tidak ada di dorm sejak kemarin,” Ujar gadis itu rinci. Taekwoon hanya tersenyum tipis lalu kembali meneguk alkohol dalam gelasnya. “Kau sama sekali tidak berubah,”

“Orang tidak bisa berubah dengan cepat,” sahut gadis itu seraya menerima gelas kristal yang disodorkan bartender muda itu kearahnya. Suasana itu membeku sesaat, mereka kehilangan topik pembicaraan yang membuat mereka saling menyahut. Gadis itu juga memutuskan untuk menikmati minuman favorite Taekwoon sembari mencari-cari topik baru yang mungkin bisa mereka bahas.

“Bagaimana pameran lukisanmu? Aku dengar kau baru saja membukanya setelah sekian tahun.” Taekwoon akhirnya berhasil menemukan topik baru setelah mengobrak-abrik penyimpanan permanen di otaknya. Dia dengar dari teman-temannya, pameran Yeon Joo kali ini sukses dengan penjualan tertinggi dari yang sebelumnya.

“Baik sekali. Aku senang banyak orang yang berkunjung ke galeriku. Banyak juga dari mereka yang membeli lukisanku juga. Tapi sayangnya sekarang aku tidak bisa melukis, padahal ide-ide di otakku banyak sekali. Aku khawatir kepala ini akan meledak karena tidak bisa menampungnya,” ujar gadis itu kemudian menimbulkan tawa renyah dari mereka berdua. Taekwoon melihat gadis itu sangat lucu saat dia memainkan tangannya menegaskan bagaimana kepalanya bisa meledak karena terlalu banyak ide. Gadis itu selalu seperti itu. Ceria dan bisa membuatnya tersenyum tanpa alasan.

“Kenapa?” tanyanya tiba-tiba yang langsung membuat gadis disampingnya itu menoleh kearahnya dengan cepat. “Apa?”

“Kau tidak bisa melukis?” lanjutnya. Gadis itu mendengus pelan kemudian menyingkirkan coat yang sejak tadi tersampir dibahunya untuk menunjukkan tangan kanannya yang terbalut perban super tebal. “Aku tidak sepertimu. Tangan kiriku tidak memiliki kemampuan melukis yang luarbiasa seperti tangan kananku.” Sahutnya sembari mengetuk-ngetuk gips keras yang membungkus tangannya.

“Lalu, bagaimana Byul?” Senyuman gadis itu sirna setelah Taekwoon memunculkan sebuah nama dalam pembicaraan mereka, gadis itu bahkan sampai berdehem dan membenarkan posisi duduknya-mencari kenyamanan- untuk menjawab pertanyaan dari topik yang sebenarnya ingin dia hindari.

“Sejauh ini aku belum tahu. Dia mengabaikan semua pesanku,” sahutnya dengan suara pelan. Rautnya tidak sejenaka beberapa waktu lalu, kini raut itu penuh dengan keseriusan. Taekwoon dapat melihat dengan jelas sebuah kerutan didahinya dan alisnya yang sedikit bertaut. Gadis itu merasa bersalah pada Byul. Seandainya dia tidak mengenalkannya dengan Taekwoon. Dia masih bisa berhubungan baik dengan gadis itu.

“Tapi kau jangan khawatir. Ibunya sudah memberitahuku jika dia sudah baik-baik saja. Dia juga sudah mulai berinteraksi dengan beberapa orang dilingkungan tempat tinggalnya yang baru.” Taekwoon meremas gelas kristal dalam genggamannya kuat-kuat, hatinya mendadak tak karuan seketika mendengar kabar gadis yang sempat menjadi korban ketenarannya sebagai idol papan atas Korea.

“Dia sudah baik-baik saja. Kuharap kau fokus saja pada kariermu,” saran gadis itu sambil menepuk pundaknya pelan. Helaan kecil keluar dari mulutnya, pria itu menggeleng pelan kemudian menatap tangan gadis itu yang terbalut perban lumayan tebal dengan mata elangnya. Gadis itu sempat melihat matanya memerah, seperti menahan tangis. Tapi Taekwoon buru-buru memandang kearah lain dan menyekanya sebelum turun dan mungkin akan menimbulkan topik lain diantara mereka.

“Kau mengorbankan tanganmu sendiri untuk melindunginya, dan aku hanya menjadi pecundang yang melarikan diri meninggalkan kalian dibelakang,” ujarnya. Gadis itu bisa merasakan seberapa Taekwoon membenci dirinya sendiri dan juga merasakan amarah yang sampai saat ini ditahannya, terdengar dari suaranya yang tercekat dan nafasnya yang tersendat-senda saat dia bicara.

“Aku tidak apa-apa. Lagi pula ini hanya luka kecil,” sahutnya menenangkan walaupun kenyataannya tidak semanis itu. Gadis itu terpaksa harus merelakan beberapa investor yang akan membantunya menerbitkan lukisan baru pergi. Dia juga masih punya beberapa lukisan yang belum rampung padahal rencananya dia akan selesaikan minggu ini juga tapi rencana hanya rencana, sekarang tangan kanannya mengalami fraktura karena tabrakan waktu itu.

“Aku harap kau memaafkan aku,” Ujarnya tulus. Gadis itu hanya tersenyum kecil dan meneguk minuman pada gelasnya sedikit sembari mengangguk-angguk.

“Kariermu sangat cemerlang, kau tidak tega membuang jerih payahmu begitu saja untuk melindungi kami. Aku yang salah disini, meninggalkan Byul bersamamu,” Gadis itu membalas kalimat Taekwoon barusan dengan nada suara yang benar-benar menusuknya telak sampai-sampai dia lupa caranya bernafas. Dia sadar selama gadis itu melanjutkan kalimatnya dengan menyebut nama Byul dan pekerjaannya, dia menahan nafasnya.

“Aku harap kau tidak berharap banyak padanya lagi. Aku ingin dia bahagia dengan hidupnya sekarang. Jarak antara kau dan dia cukup jauh, sampai-sampai kau sendiri tidak bisa mengatasi jangkauan itu. Maka dari itu, cukup tinggalkan dia di tempat yang aman jika kau belum percaya diri menempatkanya disisimu. Dimana orang-orangmu tidak bisa menyakitinya atau memberinya tekanan,” ucap Yeon Joo dengan nada suara yang tidak biasa. Dia terlihat menakutkan dimata Taekwoon. Pria itu hanya menatapnya yang hanya mengguncang-guncang gelas dengan tangannya yang bergetar.

“Sebagai teman kumohon ingat baik-baik kata-kataku ini. Dia juga butuh dunia luar dan tidak terkungkung dalam rumah selama berbulan-bulan karena takut orang-orangmu akan datang dan menyerangnya lagi. Aku mohon padamu, Taekwoon-a,” Lanjutnya. Gadis itu meneguk habis minumannya setelah kalimatnya berakhir. Dia ingin mabuk dan melupakan kejadian mengerikan yang terjadi padanya waktu itu. Terlebih saat mobilnya menghantam mobil lain dan akhirnya berhenti setelah menghantam trotoar. Paparazi membuatnya gila, dia mungkin sudah biasa dengan hal semacam itu tapi bagi gadis yang duduk di kursi penumpang bisa jadi itu adalah hal yang sangat mengerikan.

Gadis itu mengacungkan gelasnya, meminta bartender itu mengisi gelasnya dengan minuman yang sama lagi. Sekarang, minuman itu benar terasa manis dilidahnya. “Aku benar-benar ketakutan saat melihatnya tak sadarkan diri, di tambah blitz-blitz yang mengitariku dan mereka yang terus mengetuk jendela mobilku semakin membuatku kebingungan.”

“Yeon Joo-ya,” Taekwoon mengelus pelan punggungnya yang tampak terguncang, matanya bergerak-gerak cepat dan airmatanya juga sudah tumpah keluar. Dia lagi-lagi merasa bersalah sudah menyinggung hal ini yang seharusnya dilupakan olehnya. Tapi dia juga ingin tahu sendiri, tidak dari orang lain yang memberitahukan jika mereka mengalami kecelakaan setelah kebut-kebutan menghindari paparazi yang mengetahui pertemuan mereka malam itu.

“Kau membuatku gila,” ujarnya kemudian menyingkirkan tangan pria itu yang menyentuh punggungnya dengan sedikit sentakan. Yeon Joo kemudian berdiri dari kursi tinggi itu dan buru-buru meninggalkan tempatnya setelah meraih coatnya yang ia letakkan disamping tempat duduknya. Dia bahkan melupakan minuman yang baru dipesannya.

“Yeon Joo-ya!” seruan pelan yang menghentikan langkah pelan Yeon Joo yang ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Dia tidak mau membahas masalah ini lebih jauh lagi, dia datang kesini niatnya untuk melupakan masalah itu bukan mengungkit-ungkir kejadian mengerikan dan tak terduga yang menimpa dirinya dan Byul.

“Kumohon jaga Byul untukku.” Gadis itu menoleh kearah Taekwoon yang masih tertunduk, tapi kali ini Yeon Joo menemukan satu aliran bening di pipi kanannya. Tetesan air mata itu bahkan hampir jatuh membasahi celana jeans hitam yang dipakainya.

“Kau juga jaga dirimu,” sahut gadis itu pelan kemudian membawa tubuh tinggi itu kedalam pelukannya sebelum memulai langkahnya kembali. Kalimat gadis itu barusan lebih terdengar seperti salam perpisahan ditelinga Taekwoon dan pesan agar pria itu tidak menemuinya ataupun Byul lagi dimasa depan.

Berada disamping idola, walaupun kau seorang teman baik itu lebih sulit ketimbang menjaga pertemanan kebanyakan orang. Terlebih saat kau memiliki gender yang berlawanan. Penyebar rumour atau orang-orang pencari berita itu pasti akan memiliki persepsi tersendiri tentang mereka, tidak peduli fakta sebenarnya yang berusaha diungkapkan yang bersangkutan. Ini adalah bumbu yang membuat dunia entertainment semakin sedap untuk dinikmati. Aksi mereka cukup nekat dan berbahaya, penyangkalan adalah pengakuan bagi mereka. Kau harus memberi pertahanan ekstra pada hatimu, kalau perlu lapisi hatimu dengan baja supaya orang-orang yang bersorak untuk sang idola atau pencari berita itu tidak bisa menghunuskan pedangnya untuk menyakitimu. Kalimat itu sudah teronggok di beranda jejaring sosial milik Yeon Joo sejak seminggu yang lalu, tersebar luas ke masyarakat luas penyuka entertain. Termasuk fans-fans pria itu yang pro kontra memberinya dukungan.

Taekwoon meneguk habis pesanan Yeon Joo yang sempat terlupakan tadi. Aliran bening itu tak juga kunjung berhenti walaupun dia sudah berusaha untuk menyeka dan menahan tangisnya. Hatinya perlahan sakit setelah perpisahan tak terduga yang Yeon Joo lakukan barusan.

“Mr. Wu,” panggil pria itu pada bartender yang tadi melayaninya, dia mengacungkan gelasnya meminta gelas kosong itu diisi kembali. Bartender itu kembali dengan membawa botol berwarna hitam dan menyerahkan seluruhnya pada Taekwoon. Dia tahu apa yang pria itu butuhkan, sedikit banyak dia sudah mendengar masalahnya melalui percakapan mereka.

Mabuk adalah cara terbaik untuk mengusir segala rasa sakit itu pergi. Melupakan masalah itu adalah cara terbaik untuknya saat ini. Dia kehilangan teman dan orang yang dicintainya. Musik juga penting baginya. Untuk mencapai sebuah kesuksesan harus ada yang dikorbankan, sejak awal Taekwoon lebih memilih musik dan merelakan hubungan persahabatan dan percintaannya kandas begitu saja. Sekalipun dia menangis karena itu, masih ada hal lain yang akan membuatnya bersemangat setelah semua itu. Jika dia berhasil dalam kariernya, maka pengorbanannya itu tidak akan sia-sia. Seperti yang dikatakan Yeon Joo tadi. Setelah dia sukses dan memiliki kepercayaan diri, dia akan mengembalikan keadaan. Membawa mereka kembali kedalam lingkar kehidupannya.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s