Love in Pain

Lee Sungmin | Choi Yeon Joo | Friendship, Hurt |Oneshoot

“Kau bukan Sungmin yang dulu. Waktu mengubahmu atau mungkin wanita itu-“

Love in Pain

Seoul, Autumn. 2013.

18.30 KST

Langit siang baru saja berubah menjadi senja. Angin musim gugur berhembus kian dingin dan menggigiti kulit. Aku berdiri dihadapan sebuah jendela besar galeri-ku kemudian membukanya lebar-lebar dan menghirup udara sekuat yang ku bisa untuk mengisi penuh udara dalam paru-paru. Selang beberapa detik, hembusan nafas diiringi asap tipis keluar dari mulutku. Sensasi dingin itu benar-benar menyenangkan, membuat pikiranku beristirahat dari sekian detik yang melelahkan.

Aku mendongakkan kepala keatas, ratusan burung bagaikan sebuah pesta layang-layang. Mereka terbang diatas sana menghiasi langit jingga bersemu merah muda di ufuk barat. Aku mengumbar seulas senyuman yang muncul dari sudut bibir. Peristiwa langka yang jarang ku saksikan setelah matahari terbit selama duapuluh enam tahun aku hidup.

Tak cukup pemandangan diatas yang membuatku terpukau. Sekarang taman dibelakang galeri ini membuatku sangat terpukau dan ingin segera berlari menghampirinya jika tak ingat udara dingin di luar sana. Lembaran daun menguning, melepaskan dirinya dari ranting kemudian berjatuhan, berserakan, menumpuk tebal dan tentu saja terasa empuk saat badan direbahkan diatasnya.

“Ciao!” Sapaan itu terdengar tak lama setelah kudengar seseorang menaiki tangga. Suara ringan itu terdengar menyakitkan ketika berdengung ditelingaku. Impulsnya bahkan sampai keseluruh tubuhku. Setiap tarikan nafasku, aku bisa merasakan sakitnya.

Aku berbalik cepat, kulihat pintu kaca itu bergeser pelan dan seorang pria menantikannya terbuka sempurna dibelakang pintu. Senyumnya lebar sekali, dia tampak senang bertemu temannya setelah sekian lama dan terlihat baik-baik saja setelah kekacauan yang membuatku harus menikmati perjalanan udara lebih dari 16 jam dengan perasaan kesal sekaligus kecewa.

“Menemukanmu benar-benar mudah,” Ujarnya girang kemudian berjalan ke arah kursi panjang yang sengaja kuletakkan disudut ruangan bersebelahan dengan lukisan superbesar yang sengaja kuturunkan karena akan kubawa ke Jerman saat aku pulang nanti.

“Kau tahu darimana aku disini?” sahutku sedikit curiga sambil menebak-nebak siapa yang tega memberitahunya jika aku sudah berada di Korea sejak kemarin malam.

Pria itu merebahkan dirinya diatas sofa panjang diruangan itu dan tertawa pelan. Matanya mengerjap pelan kemudian sikunya dia tempelkan begitu saja diatas kening. Menghambat rembetan cahaya lampu yang menyilaukan matanya. “Kau kembali ke Korea jika bukan kesini pasti mengurusi pameran lukisanmu. Jadi kuputuskan kemari karena kudengar pameranmu ditunda sampai bulan depan. Kau tidak sibukkan?”

Dia mengatakannya dengan sangat enteng dan aku tadi sempat mendengar tawanya. Seperti tak ada beban padahal aku saja sampai tak bisa tidur karena memikirkan hal yang mungkin saja memburamkan kariernya sejak dia memulai perang dengan mereka dan menghancurkan dirinya sendiri.

Aku menyandarkan tubuh didaun jendela, tanganku terlipat didepan dada dengan kepala yang sedikit dimiringkan ke kanan. Menatap pria yang pura-pura tidur setelah dia datang.

“Kau tidak mau memberitahuku?” tanyaku kemudian dengan nada datar tanpa tambahan ekspresi.

“Apa?” jawabnya pelan dan terdengar tak begitu peduli. Dia sepertinya enggan untuk berpikir ataupun penasaran dengan pertanyaanku yang kurang spesifik ditelinganya. Dia mungkin sudah dipusingkan dengan hal lain yang menguras tenaga dan pikirannya beberapa minggu ini.

Bagaimana mungkin dia tidak merasa bersalah pada mereka?

Dia bisa tidur dengan tenang ditempatku dan mengabaikanku seperti orang bodoh?

“Kau mau meninggalkanku ‘kan?” tanyaku langsung pada tujuan awal yang membuatku harus berlari kesini dan memusingkannya. Kupikir kalimat itu akan membuatnya bangkit dan kita mulai berbicara tentang dia dan pilihannya yang perlahan-lahan menyakitiku. Sungmin malah merapatkan sikunya untuk benar-benar menutup kedua matanya. Dia berpikir lama sekali, bahkan dia tidak mengeluarkan jawaban apapun setelah itu.

“Tidak benarkan? Kau pasti akan memberitahuku jika itu memang benar. Kau pasti tidak membiarkanku tahu dari orang lain. Iya ‘kan?”

Aku berhenti. Sungmin tidak terlihat memperhatikan malah cenderung mengabaikanku dengan tindakannya yang sengaja memutar tubuhnya kesamping. Dia tidak mau dengar lagi komentar dari orang lain yang menghujat pilihannya.

“Baiklah, aku langsung saja.”

Aku menghela nafas membuat udara putih muncul kemudian hilang. Mataku masih terpaku memperhatikan tubuh Sungmin yang masih membelakangiku. Dia memang kesal sekali rasanya ingin meneriakinya dengan lantang tapi suara itu tak mau keluar dan berubah menjadi nada putus asa yang mungkin tidak pernah ia dengar dariku yang biasanya ceria. Pameranku sebenarnya baik-baik saja, tidak ada yang harus dikhawatirkan hanya saja memang tanggalnya yang dimundurkan.

Pria itu tidak tahu bagaimana aku kemarin malam saat tahu potret undangan pernikahan yang dikirimkan oleh Yoon Bora ke emailku dengan sengaja. Dia tidak tahu banyaknya airmata yang membanjir di selimutku yang mungkin kini air mata itu sudah bercampur dengan airsabun di mesin cuci atau menguap bersama udara musim gugur Jerman. Sungmin tak perlu tahu betapa gilanya aku ketika melihat itu semua, membuat dua dari empat pelayan rumah menghampiri kamarku dan khawatir padaku yang tiba-tiba menangis tersedu didepan layar komputer nirkabel kemudian berpindah ke tempat tidur setelah tubuhku tak berdaya lagi untuk duduk dikursi. Aku merasa begitu kecewa, karena laki-laki itu tidak pernah bicara tentang gadis itu dan pernikahan selama kebersaman kami yang tidak sebentar.

Dia sadar aku bungkam cukup lama, makanya dia bergerak gelisah diatas sofa sempit yang lebarnya sama dengan lebar bahunya.

“Kau tak memberitahuku karena kau tak menginginkanku datang ‘kan? Baiklah, aku tak akan datang. Aku mungkin juga sudah tak di Korea hari itu.”

Punggung itu tampak kaku dimataku. Tidak bisa bergerak mungkin karena tercengang oleh kalimat putus asaku? Kau yang tahu sungmin. Aku tidak mau menembus pikiran egois-mu itu lagi. Setelah tahu, aku seperti menyadari jika selama ini aku mencintai orang yang salah.

“Kau bukan Sungmin yang dulu. Waktu mengubahmu atau mungkin wanita itu-“

Dia menoleh dengan cepat ditambah dengan matanya yang menatapku tajam setelah kata ‘wanita itu’ keluar dari mulutku dengan sembarangan.

“Kau marah? Aku juga,” ujarku dengan nada yang terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Dia terduduk dan terlihat bersiap melawanku untuk membela diri. “Banyak orang yang menyayangimu tak sepikiran denganmu. Kau tak mau berpikir lagi? Bahkan setelah berpikir kau harus berpikir ulang setidaknya seribu kali.”

“Aku sebenarnya tidak mau mempercayai mereka sejak rumor itu berkembang diantara para penggemar. Aku sangat berharap itu tidak akan terjadi, tapi kau mengkhianatiku?”

“Aku mencintainya, Yeon Joo-ya.” Aku mendengar suaranya membela diri, tapi dengan kalimat yang seperti menempatkan pistol berisi peluru dikepalaku.

“Jangan panggil namaku begitu. Kau tidak akan tahu setelah ini kau mungkin sudah tak berhak memanggilku dengan panggilan itu.”

Ini pertamakalinya kami berbicara seserius ini sejak kami pertama bertemu sebagai Idola dan penggemar.

“Semua orang tidak mengerti aku, posisiku dan keinginanku,” sahutnya dengan nada kesal dan airmata yang hampir jatuh karena kekesalannya. Aku ingin membuatnya berhenti bicara dan hanya aku yang boleh bicara, mencacinya dan mungkin mengutuknya dengan kalimat super kejam. Tapi aku tak bisa, kecintaanku itu membuatku sangat lemah didepannya.

“Mereka semua tahu. Mereka berusaha menyakinkanmu, memperingatkanmu, mencegahmu merusak nama baik grup-mu yang sebenarnya kau lakukan dengan sengaja.”

Aku menahan airmataku juga dan memaksakan diri yang sebenarnya sudah tak kuat memandang wajahnya yang terlihat juga putus asa setelah aku bicara tentang hal yang belum pernah keluar di pembicaraan kami. “Baiklah. Sekarang kita bicara tentang dia. Bagaimana jika aku menganggapnya hanya memanfaatkanmu untuk mendongkrak popularitasnya sendiri?”

“Itu tidak mungkin.” Sergahnya sarkasme.

“Baik. Jika itu tidak mungkin, tapi bagaimana mungkin kau tega membiarkannya dibanjiri komentar jahat karena keegoisanmu? Bagiku eonni itu… dia… dia sudah keterlaluan dan jahat.” Ujarku. Pikiranku memutar ulang ingatan tentang benda-benda pemberian penggemar yang terpasang ditubuhnya dan teganya dia memposting itu semua ke akun pribadi. Memperjelas yang seharusnya tak boleh muncul didepan publik. Membuat kaum kami menggeram marah karena tingkahnya.

Sungmin menegakkan kakinya berjalan pelan meninggalkan sofa untuk menghampiriku yang masih teronggok tak berdaya didekat jendela sambil menahan airmata yang mungkin saja mengalir lagi. Kedua tangannya merengkuh tubuhku yang rapuh dan membawa pada dada bidangnya yang sedikit berlemak karena tak begitu perhatian lagi pada tubuhnya yang mulai gembul.

“Mereka menyuruhmu keluar. Menyeretku juga untuk meninggalkanmu.” Ujarku terbata setelah airmata itu pecah ketika pipiku menyentuh dadanya dan telingaku mendengar detak jantungnya yang berdetak. “Tapi rupanya kau begitu menyayanginya. Bersikap kasar dan tak peduli pada kami. Aku sekarang mungkin temanmu tapi aku juga bagian dari mereka yang mendukungmu.”

Pria itu tak bersuara lagi, hanya merengkuhku semakin erat.

“Kau bahkan tak berkata maaf untuk kami yang dikecewakan dan terkhianati?”

“Nanti. Waktu itu belum tiba.”

Aku merenggakan tubuhku. Pelukannya kini terasa tak senyaman dulu, makin lama dia memelukku, lukaku semakin terasa sakit. “Rasanya tidak adil kau bersikap baik padaku tapi bersikap kasar dan tak peduli pada mereka.”

“Aku…”

“Aku sudah mendengar semuanya,” Kami bertemu pandang dengan mata basah dan memerah. “Apa yang kau lakukan dan alasan kau melakukannya. Ibumu memberitahuku ketika aku datang ke cafe itu kemarin. Dia pasti juga yang memberitahumu aku ada disini dan telah menanyakan hal itu.”

“Sebenarnya, aku sedikit menyalahkanmu.” Ujarku. Dia terlihat begitu tertekan dan tak kudengar dia bernafas dengan lega. “Tapi setelah memikirkannya ini adalah keputusanmu dan aku menghormati itu semua.”

Pria itu mendesah keras dan tampak gusar dengan posisinya yang berdiri didepanku. “Aku bertanya pada diriku sendiri sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini? Membodohi diriku dengan bukti-bukti yang sebanarnya sudah cukup menguatkan hubunganmu dengan dia. Aku menjadi sering terluka dan sakit hati setiap kali dia memposting sesuatu tentang kalian.”

Aku mencoba menghirup udara yang susah sekali untuk memenuhi paru-paruku. Aku sudah merasa pusing karena kekuarangan pasokan oksigen ditambah stress harus memikirkan ini dan itu. “Suatu saat kau tidak akan bisa menanggung semuanya sendirian. Walaupun kau masih punya dia, dia juga tidak akan mampu.”

“Biarkan orang yang akan pergi dan aku sangat berterimakasih pada mereka yang tetap tinggal karena aku juga akan pergi dari kerumunan itu. Aku akan berhenti mendukungmu sampai kau mengucapkan maaf pada kami semua.”

Aku yang pertama kali menghindari tatapan mata itu dan melihat tangannya tengah mengepal dibawah sana. Dia punya pilihan begitupun aku. Aku tidak bisa bersamanya lagi, aku merasa terkhianati.

“Jadi, kita tak usah bertemu lagi. Kumohon jadikan aku orang asing. Lupakan bagaimana kita bisa menjadi sedekat ini karena aku juga mulai menghapus kenangan itu dari ingatanku.”

“Yeon Joo-ya.”

Aku menggeser tubuhku untuk meraih tas dan mantel yang kuletakkan diatas meja, disamping dua box segi empat berisi wine kesayangan ayah yang telah dikemas apik. “Ayah menitipkan ini semua untukmu. Aku juga tak mengijinkanmu bertemu dengannya dimasa depan.”

“Kau mau begini?”

“Ya. Karena aku menghormati keputusanmu.”

Aku menyentuh pintu kaca itu dan menunggunya bergeser untuk membuka dengan sempurna. Kulangkahkan kakiku berjalan lebih jauh dari tubuhnya yang masih berdiri didepan jendela. Aku membiarkan airmata itu mengalir tapi aku tidak ingin isakan itu terdengar.

Aku akan melupakanmu.

Kebersamaan kita yang begitu cepat dan perpisahan yang begitu menyakitkan.

Kita akhiri saja. Tak apa dengan airmata. Karena rasa sakit itu memberikan pelajaran yang berharga.

Kau yang menyakiti kami lebih dulu jadi jangan kecewa pada setiap badan yang sekarang berjalan membelakangimu.

Kau buat keputusanmu untuk tidak mendengarkan kami dan aku juga.

Keputusanku adalah meninggalkanmu, Lee Sungmin.

Semoga kita tidak bertemu dalam kesedihan lagi dimasa depan.

Selamat menempuh hidup barumu. Aku mungkin tidak datang tapi aku memberkati pernikahanmu.

-END-

Author’s Note:

Hai hai… aku datang lagi membawa fanfiction yang telah lama tersimpan dengan apik di folder. Akhirnya terpublis setelah rasa sakit hati itu menghilang entah kemana. Selama hampir tiga tahun mengutuk bias yang berkhianat. Tapi apa bisa dikata, dia sudah bahagia… dengan pilihannya tentunya. Saatnya mencari kebahagiaan baru untuk diriku..

Sebenernya ini mau ku publis waktu ulang tahun pernikahan mereka Desember lalu. Tapi waktu tak mampu kujangkau. Desember super sibuk he he…

Okay… enjoy the fict…

See You!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s