Heartstrings: [3] Lost

Choi Jun Hong | Lee Jonghyun | OC | Ficlet | Romance | YuanFei’s Storyline

(Tangan mungil itu menggenggam tangan Jun Hong dan tersenyum malu malu di balik punggungnya. Aku hanya bisa menatap sembari menghapus airmataku)

Yeon Joo membuka jendela van-nya lebar-lebar. Matanya yang sendu menatap malam bulan Desember yang gelap tak berawan, salju yang turun tak begitu lebat dan merasakan desauan angin dingin yang bertiup sepoi-sepoi menemani malamnya yang sepi. Beberapa kali seorang pria berusia pertengahan tigapuluh tahun yang memegang kemudi memperingatkannya untuk menutup jendela van-nya, udara malam ini dingin sekali dan ia bisa sakit jika terlalu lama didepan jendela yang terbuka.
Yeon Joo dalam diam perlahan menutup jendela van-nya dan menyandarkan kepalanya disana. Kenangan Jun Hong yang tak dapat terbuang menggenggamnya erat. Entah berapa lama lagi ia akan melupakan laki-laki brengsek yang meninggalkannya begitu saja. Tiga bulan lalu ia menghabiskan ulang tahun pernikahannya sendiri. Tidak ada yang menemaninya meniup lilin pernikahan ataupun menyuapkannya sepotong kue tart manis.
Mobil van-nya melaju cepat melintas diatas jembatan Sungai Han. Tatapan matanya yang tadi kosong sekarang tertarik untuk mengamati kerlap-kerlip lampu yang terpasang disepanjang sungai Han. Dunia begitu indah, tapi keindahan itu tidak dapat membuat hatinya merasa bahagia. Rasa sakit yang timbul dari dalam hatinya terlalu mendominasi, menelan senyuman itu dalam-dalam.
Ia merasakan kecepatan mobil-nya mulai melambat dan akhirnya berhenti di depan sebuah café. Yeon Joo menarik kepalanya dan memandangi padatnya pemuda-pemudi yang datang berkunjung ke cafénya. Gadis itu mengemasi barangnya dan turun dari mobil setelah pria berusia tiga puluhan tahun itu membukakan pintu.
“Aku akan menunggumu disini.”
Yeon Joo tersenyum tipis. “Tidak perlu. Pulanglah, lagipula hari ini hari Natal. Keluargamu pasti menunggumu dirumah.”
“Tapi bagaimana kau pulang?”
“Seoul tidak mati karena malam natal bukan? Aku bisa naik taksi.”
“Tapi-”
Yeon Joo merapatkan mantelnya dan berjalan meninggalkan manajernya yang masih berdiri memandangi langkahnya. Pintu café itu terbuka seketika suasana klasik dan tenang menyambutnya. Seorang gadis pelayan membungkuk kearahnya. Dia hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu. “Berikan aku segelas machiato panas.” Ujarnya.
Yeon Joo menaiki sebuah tangga kayu menuju lantai dua. Berjalan kearah bangku paling pojok didekat jendela besar yang mengarah ke Sungai Han. Tempat favorite-nya bersama Jun Hong saat mengunjungi cafѐ.
Tak berselang lama, seorang waitress menghampirinya. Menyerahkan segelas machiato yang masih mengepulkan asap tipis. “Terimakasih,”
Yeon Joo mengabaikan setiap orang yang memandanginya dengan kagum dan mencuri-curi gambar dirinya yang tengah menikmati gemerlap lampu yang berjajar di pinggir sungai Han dan gemuruh kembang api yang baru saja diluncurkan.
Ia ingin tersenyum dan tertawa lepas layaknya puluhan pemuda dibawah sana yang menikmati malam Natal bersama kerabat, teman ataupun pasangannya. Ia merasa iri karena ia tidak bisa seperti mereka. Diluar itu, ia bisa memiliki apa yang ia inginkan. Tapi kebahagian bersama Jun Hong adalah satu hal yang tidak bisa ia beli dengan uang. Didalam hatinya ia terus memanggil Jun Hong agar laki-laki itu datang menemuinya dan menawarkan untuk menghabiskan waktu Natal ini berdua saja. Ia sudah memanggil nama itu ribuan kali sejak ia menyelesaikan pemotretan majalah fashion terkenal untuk edisi tahun baru hingga sekarang ia duduk dibangku kayu dengan ruangan yang penuh dengan wangi berbagai macam kopi. Tapi nyatanya laki-laki itu tidak datang layaknya super hero. Lagi-lagi hari ini dia bertarung dengan airmatanya dan tentu saja cairan bening yang meluncur dari matanya selalu menjadi pemenang. Gadis itu terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan memalingkan wajah itu kearah jendela, tidak mau orang-orang melihatnya menangis seperti ini. Memalukan. Seorang super model merapuh karena cintanya yang menyedihkan.
Beberapa saat dengungan bisikan-bisikan pengunjung café membuatnya sedikit penasaran karena samar-samar ia mendengar nama panggung Jun Hong disebut berkali-kali. Yeon Joo menghapus airmatanya dan menoleh kearah sumber keriuhan itu. Tak sulit untuk menemukan pria tinggi itu diantara puluhan gadis yang mengerumuninya, termasuk seorang gadis yang berdiri dibelakang Jun Hong yang berbalut dress merah selutut serta menundukkan kepalanya. Tangannya yang mungil menggenggam erat tangan Jun Hong hingga kerumunan orang yang menyelimuti mereka berangsur-angsur menghilang. Dia benar-benar datang tapi sayangnya tidak sebagai superhero tapi pembunuh karena dia membawa belati yang akan mengoyak hatinya hingga berdarah.
Yeon Joo meremas ujung mejanya, tidak pernah berpikir jika Jun Hong sangat berani membawa gadis itu kedalam cafénya. Menyebarkan aroma kemesraan yang nista dimata Yeon Joo. Mata Jun Hong berkeliling mencari bangku yang yang diingininya dan mereka bertemu pandang. Pria itu terlihat terkejut melihat Yeon Joo ada dipojok ruangan itu dan menatapnya dengan matanya yang basah.
“Yeon Joo-ya…” Soojin berhenti bersembunyi dibalik punggung Jun Hong kemudian menoleh dan mengikuti arah pandang pria disampingnya. Gadis itu juga tak kalah terkejut mendapati Yeon Joo sedang menatapnya dengan kilatan kemarahan yang terlihat jelas dimata gadis itu.
Yeon Joo berdiri dari tempatnya duduk. Kehadiran kedua orang ini mengusik keheningannya. Membuatnya merasakan lebih banyak luka saat mereka memandangnya. Apa dia terlihat begitu menyedihkan sampai-sampai mereka memberi tatapan yang begitu menyedihkan padanya? Yeon Joo tidak tahan lagi, dia angkat kaki dan berjalan melewati Jun Hong tanpa kata dan saat ia ingin melewati Soo Jin sebuah tangan menangkapnya.
“Yeon Joo-ssi, aku bisa menjelaskannya.”
Yeon Joo tak berbalik. Ia tidak sanggup melihat mereka dengan jarak sedekat ini. Ia tidak ingin dipermalukan seperti saat mencegah Jun Hong pergi di bandara kala itu. Perlahan ia menggigit bibirnya kuat-kuat, cengkraman Soojin membuat hatinya ngilu.
“Aku bisa menjelaskannya.” Gadis itu mempertegas suaranya yang kecil dan lembut.
Yeon Joo menarik tangannya dengan kasar. “Untuk apa? Bukankah semuanya sudah jelas, Jun Hong lebih memilihmu.”
“Hubungan kami tidak seperti itu. Kau tidak perlu khawatir.” Jelasnya.
“Soo Jin-a” Jun Hong menyanggah dengan tatapan mata tajam yang mengarah pada gadis disampingnya. Sudah jelas jika pria itu memang berniat tidak ingin lagi kembali bersamanya.
“Kau dengar sendiri bukan? Dia tidak mau. Apa yang akan kau jelaskan? Kau hanya mau mempermalukanku.”
Yeon Joo berjalan cepat menuruni tangga. Airmata yang sejak tadi ia tahan mengalir ketika ia keluar dari café itu. Soo Jin memanggilnya bahkan mengikutinya keluar café. Tapi Yeon Joo tidak peduli akan seruan itu dan terus berlari membelah lautan manusia, mencoba meloloskan diri dari gadis itu. Ia tidak mau mendengar penjelasan Soojin yang semakin mengoyak hatinya yang sudah tercabik-cabik. Ia cukup mengerti jika saat ini dan mungkin selamanya ia sudah kehilangan Jun Hong. Laki-laki yang diam-diam dicintainya melalui perjodohan orang tua mereka. Ia tidak berani berangan lebih jauh mengenai laki-laki itu. Cukup hanya mengerti, jika ia memang telah dicampakkan. Itu saja.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s