Heartstrings: [4] Crying Again

Choi Jun Hong | Lee Jonghyun | OC | Ficlet | Romance | YuanFei’s Storyline

Malam natal yang semakin dingin tak memberikan dampak apapun pada Yeon Joo. Seolah dingin tak bisa mengusiknya lagi. Tampilannya berbeda seratus delapan puluh derajat ketika ia datang ke café tadi. Sekarang gadis itu kacau, air mata mengenangi pipinya, rambutnya berantakan ditambah lagi ia sedang mabuk. Orang-orang yang berlalu lalang di koridor itu tidak akan menyangka jika dihadapan mereka adalah seorang super model yang laris manis sepanjang tahun ini. Seorang model yang wajah cantiknya terpampang di papan iklan seluruh Korea.

Ia sudah berdiri disana hampir tiga puluh menit dan terus mengetuk pintu kayu dihadapannya setelah ia tidak berhasil membuka pintu itu dengan angka kombinasi yang ia tahu. Pemilik apartment itu mungkin sudah menggantinya atau ia salah menekan kombinasinya karena penglihatannya yang buram oleh airmata dan kepalanya yang berdenyut-denyut. Ia terus mengetuk pintu itu dan memanggil nama si pemilik. Mengabaikan airmatanya yang terus mengalir dan mempermalukannya didepan orang-orang yang berlalu lalang dikoridor itu.

“Jonghyun-ah… ini aku,” teriaknya sembari mengetuk pintu itu brutal. Ia tidak bisa berdiri dengan tegap, terhuyung kemanapun mengikuti berat badannya bertumpu.

“Lee Jonghyun!”

Sepi senyap. Tidak ada orang yang menyahutnya dari dalam.

“Jonghyun-ah! Kau didalam? Ini aku, Yeon Joo!” katanya cepat. Suaranya serak bahkan ada beberapa kata yang terdengar sepeti desahan.

“Jonghyun! Lee Jonghyun!” Yeon Joo berteriak lebih keras dan menendang pintu itu dengan kekuatannya. Rasa sakit diujung kakinya membuatnya menyerah. Percuma saja, jika laki-laki itu memang didalam kenapa ia tidak membukakan pintu setelah mendengar teriakan histerisnya? Atau memang pria itu sengaja mengabaikannya?

Yeon Joo menyandarkan punggungnya kepintu yang dingin dan tubuhnya tiba-tiba melorot ke lantai. Tidak ada tenaga lagi. Ia sudah menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak berguna. Menangis, berteriak dan memukuli pintu tak bersalah itu. Ia meringkuk dan membenamkan kepalanya di ruang antara tubuhnya dan lututnya yang di tekuk. Lalu ia menangis, lebih parah ketimbang saat ia berlari menyusuri Cheongdamdong menghindari kejaran Soo Jin.

Ia marah pada siapapun termasuk dirinya. Setelah tidak ada kado natal dan melihat pemandangan yang menyakitkan itu apa ia harus merasakan bagaimana diabaikan di hari bahagia ini? Ia benar-benar tidak percaya.

Ponselnya tiba-tiba bergetar, Yeon Joo dengan malas meraih benda itu cari saku mantelnya.

Jun Hong.

Yeon Joo hanya menunjukkan seringai kecilnya dan memasukkan benda itu kembali kedalam sakunya. Jadi sekarang si “brengsek” itu mulai peduli padanya?

Lorong sepi itu menjadi semakin ramai dengan suara pintu terbuka dan menutup, sepertinya orang-orang sudah selesai dengan pesta natal mereka.

Seseorang datang dengan langkah pelan dan berhenti tepat disamping tubuh Yeon Joo yang meringkuk didepan pintu. Tidak ada ekspresi yang bisa digambarkan tatkala pria itu menatapnya. Ia masih tidak percaya, ia bisa bertemu dengan wanita itu disini. Dengan kondisi yang amat kacau dan membuatnya bertanya-tanya dengan pikirannya sendiri.

“Yeon… Joo?” katanya ragu. Mendengar namanya dipanggil, gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajahnya yang kusut dan basah oleh airmata.

Mata Yeon Joo tiba-tiba membesar, jangan lupakan bibirnya yang langsung membentuk senyuman. Seolah energinya terisi kembali, ia segera bangkit dari tempatnya meringkuk, memandang sebentar wajah didepannya sebelum ia meloncat kepelukan pria itu. Hal pertama yang dilakukannya ditengah kesadarannya yang mulai berkurang adalah menangis. Jonghyun kebingungan, ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu menangis seperti ini.

“Kau kenapa, Yeon Joo?”

Yeon Joo hanya menggelengkan kepalanya pelan dan terus menangis. Jonghyun mengangkat tangannya keudara dan dalam waktu yang sama saat ia akan menyentuh punggung gadis itu, Yeon Joo sudah terlebih dahulu tak sadarkan diri. Ia mengguncang tubuh kecil itu pelan dan menyerukan namanya berkali-kali. Ia khawatir dengan kondisinya dan segera mengangkat tubuh Yeon Joo kemudian membawanya kedalam apartment.

Ia baru saja membaringkan tubuh Yeon Joo ke tempat tidur dan membuatnya tertidur dengan menaikkan selimut itu setinggi leher Yeon Joo. Ia melakukan semua itu dengan diam, tidak ada ekspresi yang bisa menggambarkan perasaannya.

Jonghyun duduk perlahan dipinggir tempat tidur, jemarinya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Yeon Joo dengan perlahan. Matanya tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Yeon Joo. Sentuhan-sentuhan lembut itu kembali mengingatkannya pada masalalu yang sudah ia buang jauh-jauh dimana ia masih memiliki kesempatan bersama dengan gadis ini. Tapi saat ini, bukankah semuanya sudah berubah? Yeon Joo telah bersuami dan ia tak ada hak atas gadis itu lagi bahkan hanya sebatas memegang tangannya.

Ponsel Yeon Joo bergetar. Jonghyun meraih ponsel yang sudah tergeletak begitu saja diatas tempat tidurnya. Ia melihat kontak yang tertera dilayar ponsel sebentar lalu menggeser bulatan hijau dan membawanya ke tengah dan membiarkan si pemanggil memulai percakapannya.

“Jadi ini ulahmu?” kata Jonghyun dingin.

Jonghyun tidak membutuhkan satu kata jawabanpun dari Jun Hong karena dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia meletakkan ponsel Yeon Joo diatas nakas tempat tidurnya. Pria itu keluar setelah mematikan lampu dan mengecup dahi Yeon Joo. Ia tidak bermaksud memperlakukan gadis itu seperti ini. Ia ingin sekali memeluknya karena asal kau tahu ia hampir mati merindukan Yeon Joo tapi kesepakatan yang telah ia buat bersama ayah Yeon Joo membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain mengalah dan membakar cintanya sendiri bersama kenangan dengan gadis itu. Membiarkan semuanya itu berubah menjadi debu seiring berjalannya waktu.

Setelah pintu itu tertutup, beberapa saat pintu itu terbuka lagi. Dengan tergesa ia memasuki kamarnya dan langsung membawa tubuh gadis itu keluar kamar. Membiarkan Yeon Joo tidur dipunggungnya yang terus beguncang karena membawanya berlari. Ini adalah kesempatan untuk tidak membuat gadisnya menangis lagi karena orang lain. Jonghyun ingin membuat perpisahan manis walaupun hanya sekejap sebelum ia benar-benar lenyap dari kehidupan gadis itu.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s