Heartstrings: [5] To You and Me

Choi Jun Hong | Lee Jonghyun | OC | Ficlet | Romance | YuanFei’s Storyline

(Jonghyun mengulurkan tangannya, menggenggam tangan gadis itu dan tersenyum tulus. “Aku akan menepati janjiku.”)

Jonghyun membuka tirai kamarnya dan tersenyum singkat setelah melihat rintik-rintik salju yang mencoba menembus kaca jendela kamarnya. Ia kemudian berbalik, menatap nyalang tubuh Yeon Joo yang masih bergelung dengan selimut dan memunggunginya. Ia masih belum percaya jika dia membawa gadis itu melarikan diri dengan tangannya sendiri. Perasaannya tidak sebaik yang dipikirkannya kemarin malam, ini jauh lebih buruk ketimbang menghadiri pernikahan mereka satu tahun lalu.

Gadis itu tampak lucu dengan kaos lengan panjang Jonghyun yang kebesaran di tubuhnya. Jonghyun tersenyum lagi, ia merangkak naik ke tempat tidur dan berbaring menghadap punggung Yeon Joo. Tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut Yeon Joo yang menutupi separuh wajahnya lalu menyelipkannya dibalik telinga.

“Apa karena tidak ada matahari kau juga tidak ingin bangun?” bisik Jonghyun tepat ditelinga Yeon Joo.

Yeon Joo tidak menjawab. Jonghyun beringsut mendekat dan memeluk tubuh Yeon Joo yang masih bergelung dalam selimut.

“Yeon Joo-ya…” bisiknya. “Kau tidak mau bangun?”

Yeon Joo terdiam dan kemudian memutar tubuhnya perlahan menghadap Jonghyun. Ia tersenyum cerah. Seolah gadis itu lupa kemarin malam dia menangis seperti orang gila didepan apartment Jonghyun. Gadis itu menarik selimut tebalnya, memeluk Jonghyun erat setelah menutup tubuh mereka berdua dengan selimut.

“Ini masih sangat pagi.” Sahutnya parau.

Jonghyun tersenyum tipis kemudian mengecup bibir Yeon Joo lembut. “Diluar sedang hujan salju,” ujarnya lembut kemudian tersenyum.

Yeon Joo tersenyum tipis. “Aku tahu,”

“Mau jalan-jalan?”

“Tidak. Diluar akan sangat dingin.” Jawabnya sembari menggeleng pelan tetap tanpa membuka mata.

“Bangunlah, aku sudah menyiapkan sarapan yang enak.”

Jonghyun menyibakkan selimut kemudian bangkit berdiri meninggalkan Yeon Joo yang masih belum bisa lepas dari selimut tebalnya. Sedetik kemudian setelah Jonghyun memanggilnya lagi untuk keluar Yeon Joo segera bangkit dan melemparkan selimut itu kesembarang arah.

Jonghyun baru saja meletakkan sebuah piring berisi sandwitch milik Yeon Joo diatas meja kemudian duduk setelah meneguk separuh orange jus yang dibuatnya. Yeon Joo keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya, matanya menatap Jonghyun yang duduk disalah satu kursi meja itu sambil melamun, raut wajahnya tampak tidak baik-baik saja. Yeon Joo bukannya pura-pura tidak tahu,ini tidak baik untuk Jonghyun tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Dia juga menginginkan waktu-waktu seperti ini. Sebelum mereka berdua benar-benar menjadi orang asing dimasa depan.

Gadis itu menghembuskan nafasnya kemudian berjalan menemani laki-laki itu.

“Matahari belum terbit tinggi kau sudah melamun begitu,” ujar Yeon Joo tiba-tiba dan reflek membuat Jonghyun terkesiap. Gadis itu menarik salah satu kursi didepan Jonghyun kemudian duduk disana.

“Hari ini saja, aku tidak akan datang padamu dimasa depan.”

Jonghyun mengulurkan tangannya, menggenggam tangan gadis itu dan tersenyum tulus. “Aku akan menepati janjiku.”

Yeon Joo hanya tersenyum. Dia tidak menyentuh makanannya, hanya meneguk sepatuh orange jus kemudian membawa dirinya kearah jendela besar disamping kolam renang. Rumah ini didesain sangat unik, dikelilingi air dari kau membuka pintu utama sampai halaman belakang. Seperti ada sebuah sungai yang mengalir dan akhirnya bermuara pada kolam renang yang didesign sangat elegan. Ada banyak jembatan kecil dirumah ini dan Yeon Joo menyukai itu. Dulu, sewaktu mereka masih bersama tidak ada waktu yang tidak mereka habiskan untuk bermain air maupun berjemur ketika musim panas datang.

Yeon Joo menyilangkan kakinya dan duduk disalah satu bangku yang menghadap kolam renang. Tangannya menggenggam buku yang baru saja dia ambil dari perpuastakaan mini pria itu dan matanya terfokus membaca barisan kalimat yang tercetak dengan jelas dalam buku setebal tigaratus empat puluh lima berupa novel terjemahan seorang penulis yang karya terakhirnya menduduki jajaran rak buku best seller.

Jonghyun mengambil alih bangku kayu disamping Yeon Joo dan menikmati sandwhich buatannya. “Kau selalu menyukai bangku ini.”

“Dan kau tidak pernah mengubah letak mereka sedikitpun,” sahut Yeon Joo santai tanpa mengalihkan matanya dari novel itu.

Jonghyun mengetuk-ngetuk buku novel Yeon Joo kemudian tersenyum. “Dan kau selalu ada disini, membaca buku ini dengan sangat serius. Sekalipun itu novel komedi romantis kau membacanya seperti kau membaca novel detektif.”

“Aku tidak seserius itu ‘kok!”

Pria itu hanya menggedikan bahunya dan tersenyum geli mendengar suara lucu gadis itu saat membela diri.

“Kau dan Jun Hong…”

Tawa dirumah itu perlahan menghilang. Yeon Joo melenyapkan senyumannya, dia menyandarkan punggungnya pada bangku kayu dan memeluk novelnya dalam diam. Sudah lenyap niatnya untuk menyelesaikan novel itu.

“Aku dicampakkan.”

Suasana berubah serius. Jonghyun sendiri tidak beraksi berlebihan, kedua matanya hanya menatap kilauan air diluar sana lurus-lurus. “Kemarin dia terlihat mengkhawatirkanmu.”

“Aku sedang memproses perceraian kami,”

“Ayahmu tahu?”

“Dia akan tahu setelah kami bercerai.”

“Kau berbohong padaku. Kau diam-diam mencintainya.” Yeon Joo menatap Jonghyun tajam karena menyimpulkan sesuatu dengan sembarangan. Dia tidak merasa dia mencintai Jun Hong dalam keadaan seperti ini. Daripada mencintainya, dia lebih membenci pria itu.

“Aku mencintaimu,” Yeon Joo meletakkan novelnya di meja kayu diantara mereka dan menurunkan kakinya dari bangku itu menyentuh lantai yang dingin. Posisinya kali ini menghadap Jonghyun dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya.

Dia melihat jelas Jonghyun sedang menyeringai dan tidak menatapnya. “Sayangnya aku lebih membencimu ketimbang mencintaimu.”

“Jonghyun-ah!”

“Aku ingin kita tidak saling bertemu lagi.”

“Kau tidak mau membantuku?”

“Menggunakanku untuk balas dendam?” ujarnya tenang. Kali ini pria itu duduk berhadapan dengan Yeon Joo dan menatap manik kecokelatan itu lekat-lekat. “Aku bahkan tidak mau mencampuri urusanmu.”

Bohong.

Hatinya tidak berkata seperti itu. Cintanya menjerit, memaksa mulut itu untuk berkata jujur. Tapi lidahnya terlalu pandai untuk mengarang kata-kata palsu dan memutar balikkan keadaan. Dia memilih terluka.

“Baiklah. Kita putus saja.”

Setuju.

Yeon Joo melangkah pergi begitu saja melewati Jonghyun yang sekarang tidak memandangnya. Pria itu justru bersantai dibangku kayu dan memandangi kolam renang yang airnya hampir membeku. Kebahagiaan mereka dirumah ini bahkan tak kurang dari setengah jam. Baik Yeon Joo ataupun Jonghyun tidak ada yang menunjukkan raut kekecewaan ataupun perasaan terluka. Mereka menyimpannya dengan sangat baik seperti aktor profesional yang pandai bermain peran.

Berpisah adalah jalan terbaik untuk mereka.

Yeon Joo tidak mau menyakiti Jonghyun lebih lagi. Dia tidak mau egois. Yeon Joo mencintainya.

Tepat pada hitungan ketigapuluh Jonghyun mendengar pintu rumahnya terbuka dan kemudian tertutup kembali. Itu berarti Yeon Joo sudah pergi. Pergi dari rumah maupun hatinya. Wanita itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Untuk selamanya. Dan pada detik yang sama airmatanya meluncur. Kebaikan kadang itu menjadi yang terburuk.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s