Beautiful Morning Kiss

 

Choi Jun Hong | Choi Yeon Joo | Romace, fluffy| PG-20 | Yuan Fei’s Storyline

“Kalau begitu maafkan aku,”

“Kau bercanda?” Jun Hong meraih tengkuk Yeon Joo dan membalas kecupan singkat yang tidak ada artinya bagi Jun Hong dengan ciuman lembut di pagi hari.

Beautiful Morning Kiss

.

.

Dua cangkir kopi panas tergeletak diatas meja, membiarkan asapnya mengepul bebas dan aromanya yang menyegarkan itu memenuhi ruang makan pagi itu. Kedua orang yang tengah duduk berhadapan itu tidak bicara banyak selama sarapan. Dua tangkup roti, telur dadar dan selai kesukaan dirasa cukup untuk mengganjal perut menanti makan siang yang lebih mengenyangkan. Heningnya suasana ruangan itu membuat kecanggungan semakin meraja, perasaan tak enak itu menguapkan nafsu makan mereka yang diniati bulat-bulat.

Yeon Joo menyelesaikan suapan terakhir omeletnya dan menjadi orang pertama yang melarikan diri dari kecangguan diruang makan yang mereka buat. Gadis itu mencuci piranti makannya sendiri kemudian mengembalikan peralatan itu pada tempatnya. Kaki jenjangnya itu membawanya melarikan diri lebih jauh setelah menyambar kopi panas dan membawanya ke teras rumah. Udara segar pagi hari kelihatannya sangat bagus untuk menata pikirannya lagi. Pertengkaran tak berujung yang mereka lakukan karena hal-hal kecil itu membesar sekarang. Puncaknya adalah kemarin malam dan berakhir dengan kaca kamar mandi yang pecah karena hantaman pria itu dan teriakan frustasinya yang menyudahi perdebatan alot mereka. Mereka menghabiskan sisa malam secara terpisah setelah itu.

Yeon Joo menyesap kopinya perlahan, menahan aroma menyegarkan itu didalam mulutnya. Udara pagi perlahan menyegarkan pikirannya, dia mencoba melepaskan kepenatan diotaknya di hari yang masih sangat pagi. Yeon Joo tidak yakin, tindakan menghindar atau lebih tepatnya melarikan diri seperti yang dilakukanya ini merupakan tindakan yang benar atau tidak, yang jelas kalau dipikir-pikir lagi dan mengingat topik mereka kemarin malam dia menjadi sangat jengkel. Dia bukannya perempuan cerewet yang selalu mengomentari apa yang suaminya lakukan, kemarin dia hanya menyinggung bekas noda lipstik yang bertengger di kemeja suaminya. Dia juga tidak menggunakan nada mencurigai karena dia tahu pergi kemana suaminya itu kemarin malam dan hal ini tentu bisa saja terjadi ketika kau berada dilantai dansa. Yeon Joo juga ada disana, tapi tidak berbaur dengan para laki-laki, tempatnya ada di barisan wanita yang duduk anggun menikmati wine mahal dan bergosip.

Reuni SMA itu rencananya mereka tidak berniat untuk datang tapi karena desakan dari kanan kiri pasangan itu akhirnya memutuskan untuk datang sendiri-sendiri karena mereka tidak mau rahasia “nikah muda” mereka terbongkar didepan kawan lama. Terlebih lagi, dia tidak ingin membuat teman-teman seangkatanya itu lebih terkejut ketika tahu dua orang yang seperti air dan minyak sewaktu mereka sekolah malah menjadi satu keluarga. Yeon Joo bukan orang yang terbuka terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak benar apalagi menyatakan jika dia menjilat ludahnya sendiri dengan menikahi laki-laki yang selalu ia kutuki setiap kali mereka bertemu. Mereka bahkan melepaskan cincin pernikahan hanya untuk acara itu.

Pada awalnya rumah itu damai-damai saja dengan candaan kecil dan cerita ringan yang mereka bawa dari tempat reuni tadi, tapi begitu Yeon Joo memungut kemeja Jun Hong dan membawa kemeja putih pada pria itu serta membahasnya entah kenapa pria itu langsung menyalak dan memicu pertikaian yang tidak berhenti walaupun salah satu dari mereka sudah memilih mengalah dengan terdiam.

Yeon Joo baru saja akan masuk kedalam rumah ketika matanya melihat Jun Hong baru saja menaiki tangga setelah menyelesaikan sarapannya. Ada perasaan yang membuatnya merasa sedikit bersalah mengenai kejadian tadi malam. Luka di punggung tangan Jun Hong yang dibebatnya sendiri dengan perban untuk menghentikan pendarahan. Kakinya kini mengarah pada desk dapur, memungut kotak putih bertanda garis bersilangan berwarna merah. Dia tidak sampai hati membiarkan pria itu merawat lukanya sendiri, sekalipun mereka sedang dalam kondisi hubungan yang kurang baik.

Yeon Joo akhirnya menaiki tangga untuk mencapai lantai dua, gadis itu mengintip lewat pintu yang tidak tertutup rapat, ruang kerja Jun Hong sedikit berantakan dengan selimut dan bantal yang bercecer di sofa panjang. Tangannya mendorong pintu itu agar terbuka dan menemukan pria itu tengah duduk dikursi kerjanya untuk melihat beberapa berkas yang kemarin sore ia bawa dari kantor. Gadis itu berjalan kearah Jun Hong tanpa suara, suasana mendadak tidak nyaman dan hening, pria itu melihatnya dengan bingung ketika sebuah kotak kecil berwarna putih yang dijinjing itu menyita perhatiannya.

“Aku khawatir lukamu akan berbekas,” ujarnya membuka pembicaraan. Gadis itu sama sekali tidak berani melihat kearah Jun Hong dalam jarak sedekat ini, dia hanya fokus untuk mengobati tangan pria itu yang terluka dalam diam. Sampai sekarang di belum bisa mengatasi rasa bersalahnya.

“Ada apa denganmu? Kepalamu terbentur? Kau masih mabuk?” sahut pria itu membuat Yeon Joo berdehem dan menggeleng pelan. “Tidak,”

“Jadi kau merasa bersalah?” Gadis itu lagi-lagi menggeleng, ia terlihat kikuk dengan tangannya yang bergetar saat menggenggam gulungan perban di tangannya.

“Ah, kau pasti ingin meminta maaf padaku kan?” Goda Jun Hong. Dia tahu bagaimana membuat gadis itu merasa tidak nyaman karena rasa bersalahnya. Bola mata itu terlihat tak tenang dan tangannya menjadi lebih gusar. Sebenarnya pria itu sedang tertawa melihat kelucuan Yeon Joo, sayang sekali gadis itu tak melihatnya.

“Ya!” Yeon Joo membuang sisa gulungan perban yang digunakan untuk membebat luka Jun Hong kesembarang arah. Gadis itu bahkan melemparkan tatapan tajam kearah Jun Hong yang tengah menertawainya entah kenapa.

“Kau mau mulai lagi? Kau ingin kedua tanganmu terluka seperti ini lagi?” Jun Hong hanya melambaikan tangannya dan masih tertawa, mungkin saja kemarahan Yeon Joo kali ini terlihat lucu dimatanya.

“Keterlaluan,” ujarnya kesal. Yeon Joo membalikkan badannya dengan cepat dan berjalan pergi keluar dari ruangan itu. Menjengkelkan sekali suaminya itu, bagaimana bisa dia tertawai tanpa alasan. Dan kenapa pria itu tiba-tiba menggodanya dengan kalimat bernada menggelikan yang Yeon Joo tidak pernah tahan mendengarnya.

Gadis itu berdiri di pinggir kolam renang, mengatur nafasnya yang sempat tak teratur karena kemarahan yang menguasainya beberapa waktu lalu, tangannya ia lipat didepan dada dan pandangannya terlihat sendu dengan memandangi riak-riak kecil kolam renangnya. Dia masih berpikir, pernikahannya adalah hal yang baik, tidak seburuk itu walaupun pertikaian-pertikaian kecil yang membesar kemudian menghilang entah kemana selalu menghiasi hari-hari mereka selama dua tahun terakhir. Sifat-sifat kebencian mereka sewaktu sekolah sesekali mereka bawa sampai saat ini jadi tidak heran mereka akan bertengkar seperti anak kecil. Mereka sadar, cinta mereka itu sebenarnya tidak dewasa, sekalipun mereka berusaha mencintai seperti yang orang dewasa lakukan diusia duapuluh enam tahun.

Selimut besar menaungi tubuh kecilnya, di tambah dua tangan kekar yang ikut-ikutan melingkari perut Yeon Joo dan sebuah dagu di sandarkan begitu saja diatas bahu kecil istrinya. Gadis itu tidak bersuara ataupun menoleh. Dia hanya tersenyum kecil, entah laki-laki itu bisa melihatnya atau tidak. “Maaf, kemarin aku membentakmu.”

“Kau selalu seperti itu saat banyak pikiran.”

“Ini yang terakhir.”

“Apa?”

“Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik.”

“Ini sudah lebih baik. Aku tidak suka kau terlalu memperhatikanku.”

“Kenapa?”

“Setidaknya beritahu dulu, noda lipstick siapa di bajumu?” Jun Hong merenggang membuat selimut itu jatuh ketanah, gadis itu mendengar decakan pelan dari lidah pria itu yang kini menatapnya sedikit kesal. Dia mungkin berpikir, bagaimana bisa gadis itu menghancurkan suasana manis yang susah payah ia ciptakan dengan menyinggung noda lipstick itu lagi.

Pria itu mendadak kesal, dia memilih berbalik tanpa mengatakan apapun. Emosinya sudah tersulut, dia tidak mau merusak moodnya yang baik-baik saja di pagi hari ini dengan memulai pertengkaran itu lagi. Dia yakin, kali ini dia akan terlempar ke kolam renang yang dingin itu jika meladeni Yeon Joo yang gila mencurigainya makanya dia memilih untuk pergi. Tapi dia tidak bisa pergi dari sana, ada tangan kecil yang menahan lengannya dan juga wajah berseri yang penuh senyum ketika wajahnya berpaling. “Aku membuatmu kesal ya?” Pria itu terdiam, terbius tawa renyah yang muncul setelah gadis itu menyelesaikan kalimatnya.

“Eo. Aku kesal sekali,” sahutnya kemudian. Gadis itu berjinjit mencoba menggapai pria itu dengan tangannya yang menggelayuti wajah Jun Hong. Yeon Joo mengecup bibir itu, bibir yang baru saja mengatup setelah menjawab pertanyaannya.

“Kalau begitu maafkan aku,”

“Kau bercanda?” Jun Hong meraih tengkuk Yeon Joo dan membalas kecupan singkat yang tidak ada artinya bagi Jun Hong dengan ciuman lembut di pagi hari. Pria itu terus saja menerjang bibir Yeon Joo sampai gadis itu tersipu dan mencubit perut Jun Hong yang hanya terbalut kaus tipis berwarna putih membuat pria itu mengerang sakit.

Yeon Joo hanya tersenyum kecil kemudian pergi kedalam. Badai rumah tangganya itu sudah ia tepis jauh-jauh. Paginya mendadak romantis. Sekarang, dia akan mencoba menjadi istri yang baik untuk suaminya.

“Jun Hong-a, Mau sampai kapan kau berdiri disana? Kau akan terlambat ke kantor.”

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s